Pelangi datang lagi.
Ada danau hati yang sedang keruh.
Bidadari mulai turun dari langit.
Kali ini, bidadari tak sendiri.
Bidadara pun dibawa serta.
Untuk apa?
Ada hati yang menguap.
Ada danau hati yang sedang keruh.
Pelangi datang lagi.
Warna-warni berbaris rapi.
Bidadari kembali ke langit.
Bidadara ditinggal sendiri.
Untuk apa?
Ada hati yang terbuai dalam sesak.
Senyum pun dititipkan.
Hati penuh terisi.
Bidadara pun bersemayam dalam buaian Sang Gadis.
Pelangi datang lagi.
Sudah waktunya keruh mulai larut.
Sudah masanya kegetiran pudar.
Sudah waktunya?
Sudah masanya?
Hati tak lagi sepi.
Ada Bidadara di Hati, yang bersemayam dengan nama-Nya.
Dedikasi:
Mba Vilda - Inhil, Riau.
Rabu, 19 Agustus 2015
Minggu, 09 Agustus 2015
Nomor Satu
Adikku juara lagi. Meski tidak jadi nomor satu. Kau tahu adikku, menjadi nomor satu adalah harapan banyak orang. Tetapi, nomor satu akan menyebabkan dirimu sendiri di ketinggian. Kadang, hanya kesepian yang kau dapat. Sementara itu, banyak orang ramai di bawah sana. Mereka asik bersenda gurau. Minum kopi sambil tertawa bebas. Kau akan sulit menemukannya di puncak. Nomor satu identik dengan sendiri, jadi biasakan dirimu untuk sendiri. Apabila kau tidak sanggup, mungkin kau harus berpura-pura, sehingga kau bisa turun ke peringkat bawah dan duduk duduk bersama mereka.
Adikku, ku harap kau akan mulai belajar memahami setiap kemenangan. Euforia kemenangan adalah kumpulan dari proses kegagalan, kesakitan, kegalauan, dan lain sebagainya yang terjalin erat dengan kesungguhan dan ketekunan untuk terus melangkah dalam mencapai tujuan. Ketika kau menang, kau pasti mengalahkan orang lain. bagaimana perasaan mereka? Tentu kau tahu rasanya. rasa sakit yang susah pudar, kecuali mereka yang punya tujuan kuat untuk menang.
Adakah salah jika kau menang? tentu tidak. tetapi, bisakah kau menang tanpa harus mengalahkan. Bisakah kau menang dengan membawa serta setiap orang orang yang ada di sekitarmu. Atau paling ekstrem adalah bersediakah kau mengalah agar orang orang di sekitarmu juga merasakan kemenangan. Kau pasti ingin melihat senyum mereka bukan? Senyum yang tidak kau dapatkan ketika kau menang dari mereka.
Adikku, sudah waktunya kau bergegas untuk mengubah mindset-mu tentang kemenangan. salam dari kakakmu yang berusaha memenangkan dirimu dihatiku.
Adikku, ku harap kau akan mulai belajar memahami setiap kemenangan. Euforia kemenangan adalah kumpulan dari proses kegagalan, kesakitan, kegalauan, dan lain sebagainya yang terjalin erat dengan kesungguhan dan ketekunan untuk terus melangkah dalam mencapai tujuan. Ketika kau menang, kau pasti mengalahkan orang lain. bagaimana perasaan mereka? Tentu kau tahu rasanya. rasa sakit yang susah pudar, kecuali mereka yang punya tujuan kuat untuk menang.
Adakah salah jika kau menang? tentu tidak. tetapi, bisakah kau menang tanpa harus mengalahkan. Bisakah kau menang dengan membawa serta setiap orang orang yang ada di sekitarmu. Atau paling ekstrem adalah bersediakah kau mengalah agar orang orang di sekitarmu juga merasakan kemenangan. Kau pasti ingin melihat senyum mereka bukan? Senyum yang tidak kau dapatkan ketika kau menang dari mereka.
Adikku, sudah waktunya kau bergegas untuk mengubah mindset-mu tentang kemenangan. salam dari kakakmu yang berusaha memenangkan dirimu dihatiku.
Jumat, 07 Agustus 2015
Puncak Tertinggi, Ku Tinggalkan Dirimu
Ku langkahkan kaki menuju puncak
tertinggi. Ku langkahkan kakiku untuk menapakkan hentakan-hentakan kakiku
secara perlahan. Ku tatap puncak tertinggi dengan agung. Sementara itu, puncak
itu mulai dipeluk awan. Setiap langkahku mengantarkan aku pada titik ini, titik
yang mampu ke jejakkan sebagai hamba untuk memandang ketinggian semu kepada
ketinggian agung. Dari titik tertinggi ini, aku menggelar seluruh tanda baca
dan setiap kata yang ku ingat dalam lembaran-lembaran awan putih yang ku
potong-potong. Tentunya, aku sudah melakukan ritual untuk permisi kepada sang
pemilik awan. Ku satukan gemuruh dalam dadaku. Ku satukan setiap kesatuan pikir
dalam hidupku. Ku raba titik tertinggi ini, lalu ku tatap tinggi yang ku raba
dengan hatiku. Lalu, ku agungkan Sang pemilik, kemudian ku tulis mereka dengan
kalam yang tiada terputus-putus.
Mentari malu-malu. Kawanan awan putih
memeluknya erat. Gunung-gemunung lagi tidur-tiduran berjemur di pinggir-pinggir
pantai kebiruan. Gelombang pun beradu lari laksana memperebutkan piala paling
bergengsi dalam alam semesta. Sementara itu, kekuasaan berpayung dalam
gedung-gedung tinggi. Menyeruak ke jalan-jalan protokol negeri ini.
Kadang-kadang beriring-iring seperti melepas serdadu yang hendak pergi
berperang. Setiap nafas ditahan. Jika ada yang berani bernafas, sudah pasti
didor atau diseret tanpa alasan. Mungkin kamar gelap sudah tidak ada, tetapi
kamar-kamar yang berlampu sudah disusupi aura kegelapan. Sehingga tak seorang
pun yang bersuara dapat bebas.
Kentut. Itu juga suara. Harus
diberangus. Harus dirajam. Harus disumpal sampai tak ada suara lagi.
Undang-undang sudah memerintahkan perangkat peradilan untuk menutup seluruh
sumber suara. Tak ada lagi suara yang boleh ngeluyur
tanpa didampingi perangkat peradilan. Suara pun harus tunduk pada mereka.
Jika perintah meluncur dari istana, barulah suara-suara itu boleh bebas
berkeliaran untuk menikmati keindahan negeri ini. Sudah mulai pupus.
Bumi sudah lama menahan suara-suara di
perutnya. Sedangkan matahari semakin liar memanaskan. Suara-suara itu memuai.
Khawatir akan meledak, bumi kadang-kadang mencari selangkangan gunung-gunung
untuk mengeluarkan larva. Iramanya pun berdendang ria. Gunung utara berdesis,
gunung selatan batuk-batuk. Sudah tak ada lagi yang dapat menahan suara itu.
Bahkan dedemit pun sudah lari
terbirit-birit. Rumah-rumah mereka sekarang dipenuhi kumpulan suara tertahan.
Menghimpit. Setan. Jin. Tuyul. Dan semua penghuni alam gaib sudah terdesak.
Raja Iblis pun ikut-ikutan protes. Kinerja pemerintahan negeri demit sudah
diusik. Raja iblis merasa ini adalah ekspansi besar-besaran. Ini eksodus. Ini
perlu dikendalikan. Jika tidak Gerombolan penghuni alam gaib akan kehilangan
kewenangan jati dirinya sebagai penghancur dan penggoda hati manusia. Mereka
khawatir, malah mereka yang digoda oleh manusia dan dijebloskan ke surga.
“Di mana lagi aku harus bersuara, semua
tempat sudah penuh. Suara kebaikan dan kentut pun sudah menyatu. Tak bisa
dibiarkan. Ini harus dicari solusinya. Kalau tidak, rakyatku akan binasa.”
“Tuanku, hal ini sungguh
mengkhawatirkan. Tuanku harus segera bertindak. Jika tidak, Kerajaan ini akan
terancam, Tuanku.”
“Kau tidak usah bicara banyak. Aku juga
memikirkan hal itu. Jangan sampai karena kau bersuara, rakyat kita kehabisan
tempat untuk melepas suara mereka untuk melaksanakan tugas Maharaja Yang
Dipertuan Agung, Azazil,”
“Baik, Tuanku.”
“Ya, sudah. Cari informasi untukku ke
negeri para manusia.”
“Siap menjalankan perintah, Tuanku.
Mohon undur diri.”
Gerah. Angin sudah enggan bertiup. Sudah
selesai ditekan-tekan. Sudah selesai dihimpit-himpit. Sudahlah. Tak ada lagi
yang tersisa. Semua sudah berniat untuk berkelana. Penguasa negeri ini masih
dapat memaksa angin-angin buatan untuk menyegarkan tubuhnya. Sedangkan, kentut
tidak diperkenankan hilir-mudik. Apalagi singgah melepas penatnya menggunakan
angin-angin buatan penguasa. Itu adalah pelanggaran. Kentut dilarang
beroperasi. Sebaiknya, penghasil kentut harus disumbat. Kemudian dibiarkan
menyebar ke aliran darah, meresap, menguap bersama keringat ke udara. Tanpa
suara.
Ayolah. Semua harus bersuara. jika tidak
suara akan dipenjara. Selamanya. Pikir-pikirlah dulu. Suara harus dibebaskan.
Demonstrasi perlu dilakukan kembali. Panji-panji perlu ditegakkan. Tak usah
pedulikan berapa jumlah masa. Bumi ini sudah penat. Itu sudah cukup sebagai
dasar pergerakan. Semangat sang api dapat kita ambil untuk meluluhlantakkan
kesombongan penguasa negeri ini. Dia sudah berani-beraninya mengebiri suara
sehingga menjadi tidak berdaya. Kalau kau tidak berani, biar aku yang memimpin
pergerakan ini.
Aku sandarkan tubuh kaku. Ku biarkan
suara tertahan dalam tubuhku, lepas melalui pori-pori dan ubun-ubunku. Hanya
itu yang bisa kulakukan. Seluruh lubang tubuhku tidak bisa ku gunakan lagi.
Bahkan, ujung kemaluanku terpaksa ku kunci rapat. Aku sadar, dulu ketika aku
buang air, kedua lubang kemaluanku selalu berbunyi. Aku khawatir, niatku untuk
membebaskan suara dapat terhalang akibat kesalahan kecil ini. Aku terpaksa
menyumbatnya rapat-rapat. Lalu, ku gunakan perekat paling kuat untuk
merapatkannya. Sebenarnya, aku masih ragu-ragu. Tapi ini tidak bisa ditunda
lagi. cukup lelahku menahan keperihan untuk membebaskan suara-suara melalui
pori-pori dan ubun-ubunku. Jika kau tidak percaya, coba saja kau lakukan. Kau
pasti tidak akan mampu. Suara harus ku bebaskan segera.
Senja datang lagi. Malam pun enggan berbicara.
Ada sedikit ketakutan. Malam sudah tidak mampu menutup hiruk pikuk manusia. Pikiran
bertebaran. Sudah ku putuskan. Ini bukan perkara suara saja. Tetapi sudah
menjadi keputusan global untuk menyelamatkan semesta dari kehancuran dan
keangkaramurkaan. Malam harus dikembalikan fungsinya. Siang harus diagungkan
kembali. Sudah tidak ada waktu lagi. Tetapi siapa yang peduli?
Lorong-lorong kota mulai tampak sepi di
tengah keramaian. Hilir mudik penduduk lesu. Nrimo ing pandum. Entah maknanya seperti apa. Tetapi pengertian
sudah diputarbalikkan. Siapa ikut penguasa, maka bebas kentut sembarangan.
Kentut yang sesuai dengan keinginan tentunya. Ah, sudahlah. Ini bukan waktunya
untuk berselisih pikir atau memikirkan perselisihan yang terjadi saat ini.
Aku bersimpuh di puncak derita. Ku
undang roh-roh leluhur. Ku panggil roh tujuh gunung, ku persilahkan ruh
samudera-samudera. Membaca mantera untuk memberikan kekuatan semesta pada
diriku yang kecil. Namun, aku tak mau bersekutu dengan Raja Iblis dan bala
tentaranya. Biarkan dia juga ikut-ikutan penat. Sudah terlalu lama juga, mereka
berbuat kerusakan. Merekalah yang bertanggung jawab, meskipun aku sadar mereka
saat ini juga terhimpit oleh perbuatan mereka sendiri. Yang pasti, kejahatan
mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan manusia yang sudah tertutup
hatinya dengan puing-puing keburukan. Setidaknya, mereka telah berhasil dan
harusnya berpesta-pora saat ini. Namun, kenyataannya mereka pun semakin
terpojok dan tersiksa. Aku tak akan melakukan transaksi dengan mereka. Karena
kepercayaanku kepada mereka belum pernah terjadi. Dan itu akan tetap seperti
itu. Jadi, setidaknya alam semesta ini yang ku panggil sebagai bala bantuan
untuk melakukan aksi protes kepada penguasa negeri ini, tentunya dengan cara
mereka.
“Hai, yang mengaku sebagai kebaikan yang
tersisa. Kau tidak akan bisa lakukan tugas berat ini sendirian. Izinkan aku
membantumu!”
“Pergilah! Aku tidak mengundangmu.”
“Bagaimana aku bisa pergi, sedangkan
tujuan kita adalah sama.”
“Ini akibat ulah kalian. Harusnya kalian
cukup senang, Mengapa kalian malah gelisah?”
“Ini di luar perhitungan kami. Kami tak
mengira, kalian lebih jahat daripada kami. Raja kami khawatir, kalau ini
dibiarkan tugas yang harusnya kami emban bisa-bisa akan diambil alih oleh para pendosa
dari kalangan kalian.”
“Cukup sudah basa-basimu. Kau pergi
saja. Aku tak percaya pada kalian. Kalau kalian mau protes, lakukan saja
sendiri. Aku sudah punya rencana sendiri.”
“Kau begitu sombong.”
“Sudah pantas aku sombong kepadamu tanpa
memandang rendah dirimu. Ternyata, bangsa kami lebih jahat darimu, lebih
sombong darimu, lebih angkuh darimu. Apa itu tidak membuatmu berpikir, bahwa
tanpa kalian goda saja kami sudah memiliki sifat penghancur. Apalagi kalian
mengambil peranan dalam memengaruhi kami untuk kalian jadikan teman-teman
kalian.”
“Kau benar. Aku akan sampaikan hal ini
pada raja kami.”
“Terserah padamu. Tetapi segeralah
pergi. Karena aku sedang bersiap-siap untuk menerima tamu-tamuku.”
Para tamu mulai berdatangan. Alam
semesta mengadakan rapat. Aku berada di tengah arus dan pusaran mereka. Mantera
mulai bertaburan. Satu persatu mantera alam semesta berkumandang. Halintar pun
tak kalah kencang. Aku memimpin mereka untuk menyatukan alam semesta.
Irama mantera semesta bergema. Gempa
menggetarkan. Tanah merobek-robek tubuhnya. Halilintar berdentum. Samudera
menggulung ombak. Angin berputar menyatu dengan gelombang. Semua yang tampak
diterjang. Istana pun tak ketinggalan. Semua diluluhlantakkan.
****
Kitab-kitab suci bertebaran di muka
bumi. Mencoba mengingatkan setiap pemikir untuk mulai bekerja. Alangkah merdu.
Namun, setiap pemikir mulai tidak lagi berpikir. Pemikiran sudah dikalahkan
gelak-gelak tawa. Sedikit bertasbih dengan hentak-hentakan musik. Apakah musik
dipersalahkan? Tidak. Musik tidak bernyawa. Musik hanyalah alunan. Musik sama
halnya dengan semesta. Sementara, mereka yang menjadikannya gelak tawa,
sehingga musik menjadi penghias pemikiran yang sudah tidak diisi dengan
pemikiran. Apa jadinya? Ya, semua terlihat begitu saja. Arus semesta mengalir
deras, menghantam sedikit demi sedikit peradaban. Keagungan peradaban sudah
mulai dicemarkan dengan ketinggian pangkat dan nafsu kekuasaaan.
Sudah saatnya, kitab suci mulai
dikedepankan. Akan tetapi, pergerakan itu banyak ditentang. Mereka bercerita
tentang mereka, tetapi tidak lupa untuk berpikir untuk membenamkan yang lain
dalam lumpur peradaban. Setidaknya, setiap berlian akan tetap menjadi berlian.
Keyakinan itulah yang mengunci peradaban pada dinamika pasang surut peradaban.
Kadang agung, kadang tanggung, malah banyak yang hancur begitu saja.
Penjarakan saja! Agar pemikiran tak
pernah berpikir. Daripada menciptakan ruang bebas berpendapat, sedangkan
pemikiran digiring dalam lingkaran kepentingan. Lingkaran yang menyebabkan
kitab suci menjadi mainan di panggung-panggung sebagai pembuka acara agar
terlihat beradab. Mungkinkah kitab suci hanyalah hiasan. Seperti bunga-bunga
plastik yang dipajang di vas bunga di atas meja ruang-ruang tamu. Bunga itu
indah, tapi sejatinya tak lebih dari kematian yang dihidupkan sebagai bentuk
pencitraan. Setidaknya, ada muncullah, daripada tidak digunakan sama sekali.
Sementara itu, hati gegap-gempita dengan
hingar-bingar pikiran-pikiran liar. Pencarian dari para petualang untuk
menemukan jati diri, tak terelakkan akan menemui kegagalan. Ya, kegagalan
sempurna yang tak diragukan. Semua pintu-pintu keberhasilan ditutup dan
disemukan. Keberhasilan yang di-setting.
“Mungkinkah pemikiran generasiku
dipenjara? Atau apakah itu sudah dilakukan sejak mereka dikandung oleh ibu-ibu
mereka?”
“Sudahlah. Kau tak perlu risau.
Kegalauan itu tak lagi menjadi tanggung jawabmu. Kau tahu, itu sudah dirampas
oleh mereka dan harus sesuai dengan mereka.”
Senja datang dan pergi. Fajar selalu
hadir menghapus kegelapan dan kepekatan sang malam. Ekspektasi bagi negeriku
adalah fajar selalu datang menyapa. Kepenatan negeri ini sudah saatnya untuk
dipasrahkan. Ya, kepasrahan kepada petunjuk kitab suci. Kitab suci yang
diagungkan oleh semesta. Yang menjaga keseimbangan antara tiga dunia. Mungkin
juga banyak dunia yang tak terbatas pada ruang-ruang pembatas. Pemikiran pun
hadir sebagai sebuah keterbatasan, kecuali pemikiran yang dikehendaki.
Pergerakan rembulan tak hanya malam.
Siang pun dipenuhi rembulan yang sembunyi malu-malu. Hal tersembunyi yang
disembunyikan atau sekadar menyembunyikan diri dari terang-benderang. Kurang
pikir kurang rasa, apa jadinya? Kesadaran akhirnya terbelenggu dengan manja.
Kesadaran tak lagi kuasa. Kesadaran hanyalah rasa yang dibuai-buai, lalu
perlahan ditenggelamkan dalam palung-palung terdalam nurani. Kemudian, secara
perlahan demi perlahan ditutup dengan keserakahan-keserakahan yang
terorganisasi. Sudah waktunya untuk sadar? Sementara hal itu sudah sukar untuk
disadarkan.
Kitab suci perlu turun tangan. Kalau perlu
turun kaki. Bahkan, jika diperlukan perlu turun kepala. Puncak yang dianggap
sebagai sumber pemikiran. Kepala sudah mau melihat ke bumi. Apakah sudah adil
atau tidak menjalankan amanat semesta atau sudah berbuat kesia-siaan belaka.
Kepala memang harus turun ke dasar telapak. Agar siap diinjak-injak untuk
mengetahui keperihan dan derita yang diakibatkan pola-pola liar yang dianggap
strategis, tetapi telapak kaki geram juga mencekam. Sudah mejadi keharusan,
kepala harus ditundukkan ke bumi untuk menghadap kitab suci. Agar keselamatan,
setiap kerikil, serta kehidupan kaum kecil yang bersembunyi dari
hentakan-hentakan telapak pemikiran. Setidaknya, kepala dihadapkan kepada
kehidupan nyata untuk berbuat sesuka hati mereka dan menyaksikan langsung
akibat dari perilakunya. Atau setidaknya, ada rasa belas kasih akibat
pengetahuannya mendengar keluh kesah kaum kecil yang tidak pernah diizinkan
untuk bersuara.
Rembulan mulai sunyi. Bintang bertabur
sepi. Akan ada pelangi. Jika hujan datang lagi. Dan sinar mentari rela diberi.
Itulah pelita hati insani. Yang terbelenggu dalam wujud hakiki. Mungkin ada
hati. Atau jemari mulai berlari. Dengan setia kepada para pemimpi. Bertujuan
untuk wujud setiap pikir sejati. Tetapi, sudah tak ada lagi. Tetapi, sudah lama
berlari. Tetapi, sudah tak ada mimpi. Tetapi sudah tak bersuara kini. Kepala
harus mau mencium bumi. Agar kepala menjadi ibu dari pikir dan rasa diri.
****
Anak kecil lari-lari menuju surau di
subuh hari. Panggilan bergema, sementara para tetua sedang sibuk menghias tidur
mereka dengan mimpi. Anak keci lari-lari menuju surau di subuh hari. Panggilan
bergema, sementara para ibu-ibu sedang asik memotong-motong sayur untuk sarapan
pagi hari. Anak kecil lari-lari menuju surau di subuh hari. Panggilan bergema,
sementara para kakak-kakak sedang asik bermain game dan online sampai
pagi.
Ketika yang dinamakan dosa tak pernah
mendekat. Alamlah pemeliharanya. Anak-anak kecil itu jenaka. Mereka tak ada
rasa angkara. Kadang menangis, jika tidak dimanja. Alamlah pemeliharanya.
Anak-anak itu ceria. Batu pun rela dijadikan mainan. Bahkan, ikhlas dilempar
dan akhirnya ditertawakan oleh mereka. Batu pun gembira karena sudah menjadi
sebab ceria. Alamlah pemeliharanya. Anak-anak kecil itu gembira. Fajar
mengiring mereka kepada Sang Pencipta. Ketika, semua burung mulai bernyanyi
riang. Ketika matahari menyentuhnya dengan sinar kemerahan. Ketika malam sudah
berpamitan untuk pulang. Adakah pembatas bagi mereka? Jawaban sederhana untuk
mereka adalah tidak. Kata sederhana yang susah diucapkan apabila godaan
kekuasan melanda. Ucapan sederhana yang sulit diungkapkan apabila gemerlap
semesta menyapa. Tapi, anak-anak kecil itu mampu untuk berkata, berucap, dan
menjawabnya secara sederhana.
Ketika tangisan adalah wakil dari semua
makna. Lembaran kehidupan masih terbentang tanpa batas. Hari berganti, lembaran
itu mulai ternoda. Perlahan tanpa suara. Senyap. Ku hirup sedikit rasa yang
tersisa dalam setiap desah nafas. Sesak. Ku hirup lagi. Makin sesak. Ku biarkan
diriku menyatu bersama aliran udara yang masuk. Ku izinkan diriku dilalui,
seperti awan yang mengizinkan dirinya dibawa oleh angin. Seperti gunung yang
tidak menahan magmanya yang sudah ingin keluar. Seperti air yang mengalir
mengikuti alurnya.
Sudah penuh, rasa yang ku inginkan hadir
dalam dadaku. Sudah penuh, ingin yang ku inginkan hadir dalam perjalananku.
Sudah penuh, ingin yang ku inginkan kembali dalam kehidupanku. Sudah penuh, ingin
yang ku inginkan tercerai dari jasadku. Sudah karam pemikiranku dalam
getar-getar semesta. Sudah ku taklukkan perampok-perampok dalam usiaku. Sudah
ku singkirkan kotor dan duka yang mencengkeram erat dalam setiap urat nadi dan
darahku. Sudah. Tapi, kesudahanku tak dapat ku akhiri atas kehendakku.
“Akankah semesta yang ku sakiti, percaya
padaku?”
“Mungkin.”
“Benarkah?”
“Tidak.”
“Ah…!”
“Akankah bumi pertiwi yang ku
eksploitasi, rela padaku?”
“Mungkin.”
“Benarkah?”
“Tidak.”
“Ah…!”
“Akankah langit yang ku jadikan tameng,
sudi menjagaku?”
“Mungkin.”
“Benarkah?”
“Tidak.”
“Ah…!”
“Akankah saudara-saudaraku, yang ku telantarkan,
sedikit diinjak kekuasaan, juga ditendang dan dipukuli panglima-panglima
keserakahan yang mengabdi padaku, sudah memaafkan diriku?”
“Mungkin.”
“Benarkah?”
“Tidak.”
“Ah…!”
“Akankah Sang Pemilik, membiarkan diriku
merasakan aroma ridho-Nya?”
“Aku tidak tahu”
Selimut putih semesta mulai menutupku
rapat. Mataku kini buta. Hidungku disumbat. Angin sudah enggan masuk ke dalam
hidungku. Sesekali mengejekku, masuk sebentar, lalu keluar dengan cepat. Aku
menahan gerakan semesta yang mulai mengalir dari diriku. Darahkan memperlambat
jalannya. Biasanya, aku memacunya untuk tantangan-tantangan ekstrim
kegemaranku. Itu hanya untuk menunjukkan siapa aku.Tubuhku menurunkan suhunya.
Aku hadir dalam keadaan sendiri. Dan ku mantapkan diriku dalam kesendirian di
akhir. Meskipun, banyak yang dilepas berurai air mata. Sedangkan aku ingin
dilepas dengan musik semesta. Sehingga ku asingkan diriku. Itu untuk menaruh
simpati semesta untuk hadir bersamaku. Harapan kecilku, tetabuhan sunyi
mengiringku dalam rangkaian persiapan perjalanan panjangku.
Ku sesali perbuatan-perbuatan nakalku.
Ku tangisi hal-hal baik yang sedikit ku kerjakan. Ku harap penyatuan sempurna
dengan sedikit karunia-Nya. Mungkinkah ku dapat? Aku takut. Tapi, harapku kini
ku hidupkan. Ku ajak berdamai. Ku ajak bernegoisasi. Aku sadar posisiku tidak
sedang dalam keadaan yang menguntungkan. Aku hanya berharap belas kasih.
Negoisasi dengan penuh kerendahan untuk diriku. Kehinaan demi kehinaan ku
tampakkan. Kelemahan demi kelemahan ku hadirkan. Kejelekan demi kejelekan ku hamparkan.
Sementara itu, kebaikankan yang sedikit ku buang ke dasar puncak tertinggi.
Menggelinding ke bumi pertiwi. Ku biarkan mengendap di bawah sana.
Sementara itu, kehinaan, kelemehan,
kejelekan, dan segala hal yang memiliki hubungan darah dan kekeluargan dengan
ketiga hal tersebut ku biarkan tetap di sisiku. Ku hamparkan, seperti menata
menu makanan pada pesta terakhir dalam kehidupan. Ku atur jaraknya. Ku jejer
sesuai kelasnya. Ku hitung-hitung mereka. Ku paksa mereka berbicara kepadaku.
Dulu oleh sebab mereka, aku berjaya. Lebih tepatnya, kejayaan semu yang ku raih
dengan segala kehinaanku. Semua ku hadapkan, ku mintakan pengampunan untuk
setiap mili, senti, bahkan kiloan. Jika ada satuan terbesar, yang belum pernah
ditemukan, keinginanku satuan itu hadir sebagai bobot dari kehinaanku.
Ku pasrahkan diriku. Lebur bersama
semesta. Aku pinta semesta untuk lenyap dariku satu persatu. Ku harapkan setiap
pelepasan itu diiringi karunia, sehingga mengantarku kepada pelepasan diri. Ku
hirup nafas yang mulai tersendat. Kali ini, aku meminta kepada angin untuk
membantuku lepas darinya secara perlahan. Tubuhku semakin kaku. Mati rasa sudah
terlewatkan. Kini tubuhku, tercabik-cabik. Ku nikmati saja. Ku pasrahkan
diriku. Persendianku tak mampu bertahan, lolos begitu saja. Kakimu ku lihat
berhenti bergerak. Semakin mengeras dan membatu. Semakin lama, pinggangku mulai
tersayat. Ku nikmati saja. Ku pasrahkan diriku. Tubuhku lunglai. Aku terjatuh,
terbaring di puncak tertinggi. Dadaku semakin sesak.
Ku pasrahkan diriku. Ku balikkan tubuhku
dengan kepayahan. Ku tatap puncak tertinggi yang tak bisa ku jejak. Karunia-Nya
mengizinkan diriku untuk menatapnya. Ku lantunkan penyesalanku. Ku lantunkan
harapku. Lantunan yang tak kunjung keluar dari mulut kakuku. Hatiku belum kaku.
Sedangkan tanganku sudah mulai tak menentu. Tanganku mulai ikut-ikutan
mematung. Ku sandarkan tubuhku pada puncak tertinggi yang mampu ku pijak,
sedangkan pandanganku mengarah pada puncak tertinggi yang ingin ku capai dalam
perjalananku berikutnya.
Ku pasrahkan diriku. Aku terkejut. Tapi,
karunia-Nya terus ku harap. Aku ingin menuju pintu-Nya dari puncak tertinggi.
Pengiringku sudah datang. Ku tatap dengan senyum. Dia masih garang. Karunia-Nya
ku harap. Aku dituntun. Ku nikmati saja. Segala kepayahanku semakin bersatu.
Berontak. Menguasai setiap pertempuran. Tubuh kakuku kalah. Ku biarkan kalah.
Ku pasrahkan diriku dengan nama-Nya. Puncak tertinggi memangilku. Ku pasrahkan
diriku. Puncak tertinggi, menatapku. Aku tertunduk malu, tapi hatiku berharap
karunia-Nya. Lalu, aku kaku, di puncak tertinggi. Semesta sudah ku tinggalkan.
Puncak tertinggi memanggilku. Ku pasrahkan diriku kepada puncak tertinggi yang
ku pandangi dari puncak tertinggi yang mampu ku pijak.
Samarinda, 7 Agustus
2015
Didedikasikan kepada para pencari Puncak Tertinggi.
Dan sebagai persembahan untuk adik-adikku pada komunitas Teater Bastra, Samarinda berupa Antologi Cerpen sebagai kado ulang tahun pada 21 Januari 2016.
Rabu, 05 Agustus 2015
Ku Tulis Sebuah Puisi
Ku tulis sebuah puisi,
Tentang aku dan dirimu.
Mentari malu-malu bersembunyi di balik senyuman.
Akankah semua bintang bertabur sepi,
sedang kau di sini menatapku sendiri.
Gelombang akan sirna diterpa senja kala.
Anganku, kini membeku.. takdirkan hidup yang semu.
Aku tlah sempurna bersama angin lalu
Ku cumbu dalam alunan kata
Terbuai dalam lamunan manja
Aku dan rasaku
Terbang bersama mimpimu.
Ku coba ungkap semua rasa
Gelora dalam tubuhku.
Untukmu kekasih hati
Yang dijanji.
Tentang aku dan dirimu.
Mentari malu-malu bersembunyi di balik senyuman.
Akankah semua bintang bertabur sepi,
sedang kau di sini menatapku sendiri.
Gelombang akan sirna diterpa senja kala.
Anganku, kini membeku.. takdirkan hidup yang semu.
Aku tlah sempurna bersama angin lalu
Ku cumbu dalam alunan kata
Terbuai dalam lamunan manja
Aku dan rasaku
Terbang bersama mimpimu.
Ku coba ungkap semua rasa
Gelora dalam tubuhku.
Untukmu kekasih hati
Yang dijanji.
Minggu, 26 Juli 2015
MATA TUA
ketika mata harus berkata,
Apa yang ingin kau katakan tentangku?
Kau boleh remuk redam, mungkin juga angkuh.
Sedikit khayalku, kau mau menerima sedikit nuraniku
Dulu, kau ku bungkam.
Agar suara tak pernah berani berdendang.
Jangan marah!
Itu ku lakukan agar aku tetap tegak berdiri.
Aku adalah warna
Yang menyeruak pada cahaya
Aku adalah gulita
Yang membekap sisa-sisa asa
Aku angkuh dalam naung-Mu
naung-Mu, sudah ku cari. Ku biarkan diri lebur, hancur.
Sehingga tinggal angkuh-Mu.
Apa yang ingin kau katakan tentangku?
Kau boleh remuk redam, mungkin juga angkuh.
Sedikit khayalku, kau mau menerima sedikit nuraniku
Dulu, kau ku bungkam.
Agar suara tak pernah berani berdendang.
Jangan marah!
Itu ku lakukan agar aku tetap tegak berdiri.
Aku adalah warna
Yang menyeruak pada cahaya
Aku adalah gulita
Yang membekap sisa-sisa asa
Aku angkuh dalam naung-Mu
naung-Mu, sudah ku cari. Ku biarkan diri lebur, hancur.
Sehingga tinggal angkuh-Mu.
Hafiz Al-Qur'an, Perlu atau Tidak?
Mari kita berbicara tentang mimpi atau impian!
Setiap mimpi mengalir begitu saja dalam tidur panjang. Namun, mimpi yang menjadi kenyataan disebut impian. Mimpi adalah sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur. Mimpi juga berarti angan-angan. Impian berasal dari kata dasar impi dan mendapat akhiran -an. Kata impi berarti mengharapkan dengan sangat atau mengidamkan. Sementara itu, impian berarti barang atau sesuatu yang sangat diinginkan. Oleh karena itu, istilah yang cocok digunakan adalah impian. Namun, jika kawan-kawan suka dengan istilah mimpi, ya boleh-boleh saja. Tidak ada yang dapat memprotes setiap keputusan yang kita ambil. Untuk itu, izinkan saya untuk menggunakan istilah IMPIAN.
Ekspektasi dari sebuah tulisan tentang impian adalah mempercepat terkabulnya impian. Mengapa? Karena banyak yang membaca atau melihat impian yang kita tuliskan, semakin banyak orang yang berdoa agar kita berhasil mencapainya. Saat ini, saya ingin memberikan kabar kepada dunia, bahwa aku berniat hari ini untuk menjadi penghafal Al-Qur'an.
Menjadi seorang penghafal Al-Quran sudah lama menjadi keinginan. Ketika saya SMA, saya sudah berusaha menghafal. Namun, godaan untuk menghafal sangatlah besar. Secara logis, setan tentu tidak mau kita menjadi penghafal Al-Quran. Berbagai upaya tentu dilakukan setan untuk menggoda kita melakukan hal lain sehingga kita lupa pada niatan untuk menghafal Al-Quran.
Namun, tidaklah pantas jika kita menyalahkan setan sebagai upaya yang menghalangi kita menjadi seorang penghafal Al-Quran. Sudah menjadi tugas setan agar menggoda kita. Hal itu sudah menjadi garis takdirnya. Sementara, impian untuk menjadi penghafal Al-Quran perlu atau tidak? Hal itu bergantung pada kesungguhan niat dan keikhlasan kita, serta apa tujuan kita menjadi penghafal Al-Quran. Seseorang yang hafal Al-Quran tentu tidak ada yang berani meng-claim bahwa dirinya akan masuk surga dan diterima pahalanya. Hak itu mutlak milik Allah SWT.
Ku niatkan menghafal Al-Quran karena itu perintah Maharaja Semesta Alam Allah SWT.
Ku niatkan menghafal Al-Quran sebagai bukti kecintaanku kepada pembawa risalah Baginda Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Ku niatkan menghafal Al-Quran karena setiap penghafal Al-Quran yang ikhlas dapat memberi syafaat kepada kedua orang tuanya sehingga ini menjadi jalan bagiku untuk berbakti kepada kedua orang tuaku.
Ku niatkan menghafal Al-Quran sebagai sedekah kepada seluruh makhluk Allah di alam semesta dari awal kejadian hingga akhir zaman.
Ku niatkan menghafal Al-Quran untuk menjaga Kalam Allah dalam hatiku, karena neraka tidak akan membakar setiap hati yang dihiasi dengan Al-Quran.
Ku niatkan menghafal Al-Quran untuk sedekah kepada umat Rasullullah SAW hingga akhir zaman, karena setiap huruf dari Al-Quran bernilai sedekah.
Ku niatkan menghafal Al-Quran untuk meminang bidadari di dunia dan akhirat.
Ku niatkan menghafal Al-Quran sebagaimana niatnya orang-orang soleh, para wali Allah, para ulama yang ikhlas, dari orang-orang yang sezaman dengan Rasulullah SAW hingga akhir zaman.
Aamiin. Aamin. Aamin. Allahumma Aamin.
Seperti lazimnya etika menulis impian, maka ada ketentuan waktu pencapaian. Untuk itu, Ku niatkan menghafal Al-Quran paling lama dua tahun dari sekarang.
Saya Rizal Effendy Panga berniat untuk menjadi Hafidz Al-Quran.
Ku mulai menghafal Al-Quran tanggal 26 Juli 2015
Ku akhiri dan ku sempurnakan hafalan Al-Quran tanggal 26 Juli 2017.
Semoga Allah mengabulkan dan memberikan pertolongan dan petunjuknya dalam menjalani hari-hariku bersama Al-Quran. Aamin.
Samarinda, 26 Juli 2015.
Rezeki, Jodoh, dan Mati
Rezeki. Jodoh. Mati.
Itu
semua rahasia. Rahasia yang harusnya kita tahu bahwa semua itu dijamin. Jaminan
yang jujur dan berintegritas tinggi. Janji yang dibuat Sang Pencipta untuk
hambanya. Lalu, kegelisahan seperti apa yang menggerogoti setiap pecinta uang,
ketika uang tak kunjung tiba. Kekhawatiran seperti apa yang berhalusinasi dalam
pemikiran setiap pencinta lawan jenisnya, ketika laki-laki atau perempuan tak
kunjung dekat. Keangkuhan seperti apa yang menenangkan, ketika maut sudah
mengitari tanpa suara.
Kadang
kita tidak sadar bahwa rezeki terbesar adalah kedamaian bersama-Nya.
Kadang
kita tidak sadar bahwa jodoh terbesar adalah menjadi pemuja-Nya.
Kadang
kita tidak sadar bahwa mati terbesar adalah ketika lupa kepada-Nya.
Sebagai
seorang dalam kondisi tua menurut kebanyakan orang untuk menikah, kadang rezeki
belum mendekat, sementara kematian sudah mulai menyapa. Sudah berulang kali
rasa panas dingin campur aduk untuk membenamkan logika dalam sarang-sarang
gelap.
Usiaku
30 tahun lebih. Belum menikah. Rezeki juga masih sempit. Umur? Aku sama sekali
tidak tahu. Kebanyakan orang-orang di sekitarku, sedikit berkomentar. Mungkin juga
mereka gerah. Mudah-mudahan tidak jengah dan memandangku dengan pandangan
sebelah mata. Seandainya demikian, ya, itu memang sudah menjadi garis takdirku.
Namun, peperangan dalam batinku tak dapat ku elakkan. Aku juga sadar bahwa ini
tidak hanya terjadi kepadaku. Banyak orang yang mengalami. Pertanyaannya? Apakah
hidup ini kejam? Mungkin tidak juga. Karena kekejaman hanyalah soal rasa. Sementara,
rasa itu hanya sebagian dari unsur manusia yang terdiri atas Logika, rasa, dan nafsu.
Logika menuntunku untuk memahami setiap peristiwa. Rasa menuntunku untuk
mempertimbangkan setiap langkah. Nafsu, tentu saja membimbingku untuk
bersemangat. Harapanku, seluruh unsur itu menuntunku untuk menghambakan diri
pada-Nya. Itu semua ku lakukan karena aku menjalankan perintah-Nya.
Tariklah
nafasmu, lalu tahanlah semampumu. Dan rasakan bahwa tanpa rezeki Tuhan-Mu
kehidupanmu akan binasa.
Ingat-ingatlah
orang-orang yang pernah dekat denganmu. Lalu, lihat perbuatannya. Seandainya mereka
sudah bersamamu kini, apakah menjamin hidupmu bahagia. Yakinkah dirimu, bahwa
Tuhan telah mempersiapkan seseorang yang sesuai untukmu menurut-Nya dan
diberikan pada waktu yang tepat pula.
Datanglah
ke kuburan! Coba hitung berapa jumlahnya! Berapa lama mereka berada di sana? Adakah
yang berada di dalam kubur lebih lama dari umurnya.
Guru
saya pernah berkata, Setiap fase kehidupan cenderung memiliki masa yang lebih
panjang. Coba hitung berapa usia sperma setelah dipancarkan? Coba hitung masa
kehidupan dalam kandungan? Coba hitung masa kehidupan di dunia? Coba hitung
masa kehidupan dalam kubur? Coba hitung kehidupan di padang mahsyar, mizan,
sirath, dan surga atau neraka?
==FASE==
10 tahun pertama,
Ketika matahari
mengerlip manja
Sapa sambut mengiring
tangis, berkelakar.
Mungkin ada tawa,
Atau diam terpaku di
sudut kaku.
Seberkas senyum menggema
mengiring azan.
Tangisku, tak berakhir
duka.
Wajah-wajah menggambar
samudera suka.
10
tahun kedua,
Kenakalan
mulai merayu..
Keberanian mulai meragu.
Kebenaran
mulai melayu.
Kesakitan
mulai mendayu.
Kesedihan
mulai mengharu.
Kelalaian
mulai mengadu.
Pesona-pesona
merayu, meragu, melayu, mendayu, mengharu, dan mengadu.
Alam
sudah mulai tercabik menahan kebebasan. Semua hanya semu.
10 tahun ketiga,
Hiruk pikuk waktu sudah
mengganggu.
Pemburu mulai menyaru,
dendam.
Benci. Terlanjur jatuh
cinta.
Mungkin dia “iri dengki”
karena waktu sedang enggan.
Sudah terlanjur
berwaktu, sedangkan pesona kabur menebar.
Pikir dan rasa
bergandengan.
Sesekali terlepas,
mungkin ingat, mungkin tidak.
Sudah berumur, katanya.
Tapi, kau lirik dengan
malu.
Bibir terangkat, dahi
tertekuk.
Sudah lupa atau pura-pura
lupa?
10
tahun keempat,
Aku tidak tahu karena aku belum tahu.
Tapi
aku ingin tahu, seperti mauku.
Namun,
mauku tak seperti mau-Mu.
Mungkin
hanya mau-Mu yang terjadi.
Namun,
Aku sedikit malu.
Tapi,
izinkan aku duduk dalam mau-MU.
Aku
belum tahu karena aku tidak tahu.
Samarinda, 26 Juli 2015
MOZAIK PERTAMA: BULAGI, PESONA LELUHUR
Leluhur
nusantara memiliki keterikatan dengan mitologi. Sebagai anak-anak nusantara,
mitologi menjadi bagian dari kehidupan dan sekaligus menunjukkan keksistensian
sebagai penerus kejayaan nusantara. Bapak Proklamator kita, Soekarno pernah
berkata, “Jangan melupakan sejarah.” Oleh karena itu, mitologi dan sejarah
leluhur dapat menuntun kita untuk mengenali para leluhur. Mitos dibelajarkan
melalui cerita atau kisah yang dilakukan secara turun-temurun. Kisah itu hadir
sebagai pengantar tidur atau nasihat dari para orang tua kepada anaknya. Kisah
tersebut didasarkan pada kenyataan dan pernah terjadi pada masa hidupnya para
leluhur atau hanya kisah yang dituturkan sebagai bentuk nasihat kepada
keturunannya.
Perjalanan
ke tanah leluhur menjadi kisah unik dan petualangan yang berbeda. Perjalanan ke
tanah leluhur, saya mulai tahun 2010 (Perjalanan Bulagi I). Bertolak dari
Samarinda sebagai tanah kelahiran menuju ke Bulagi, Pulau Peling, Banggai
Kepulauan, Sulawesi Tengah. Sementara, perjalanan kedua, saya lakukan tahun
2015 (Perjalanan Bulagi II), bertepatan dengan liburan puasa dan lebaran. Setiap
perjalanan akan memberikan cerita yang berbeda, meskipun menuju ke tempat yang
sama.
2010. Masa lalu yang tak terlulis
membutuhkan energi untuk mengingatnya. Perjalanan Bulagi I yang saya tulis saat
ini pun ditulis sembari mengingat peristiwa dan kisah-kisah yang meliputinya. Sebagai
perjalanan pertama, setiap jengkal adalah hal yang baru. Samarinda memberikan
pengantar dengan nuansa bahagia dan rasa penasaran mengenai tempat yang dituju.
Perjalanan ini dimulai dengan menumpang KM Kerinci milik PT PELNI. Pukul 4
Sore, KM Kerinci memulai perjalanan kami dari pelabuhan Semayang, Balikpapan,
Kalimantan Timur.
Kurang
lebih perjalanan dua jam, kami disuguhkan dengan keindahan sunset di tengah lautan. Sunset yang hadir tanpa terhalang,
memberikan pancaran kehangatannya sebelum kembali ke peraduannya. Semilir angin
laut berpadu dengan gelombang yang tenang merajut kehangatan dan keheningan di
tengah hiruk-pikuk penumpang kapal yang merindukan sanak kerabatnya. Saya
berdiri di buritan kapal dan memandang matahari. Matahari pun harus pulang
memenuhi ketentuan alam. Saya pun pulang untuk bertemu dengan tanah leluhur.
Perjalanan
laut ini ditempuh kurang lebih semalam. Pukul 4 dini hari, kapal mulai memasuki
teluk. Dari kejauhan lampu-lampu berpendar-pendar. Kerlip-kerlip lampu itu
menyatu dalam kelompoknya membentuk tapal kuda. Cahaya lampu dini hari dari
kanan hingga kiri dari bibir pantai dengan khas bertingkat ke setiap lembah
pengunungan yang membentengi Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sekitar pukul 5, kapal
mulai merapat di Pelabuhan Pantoloan. Dermaga yang panjang ke tengah laut
menyambut kami. Di pelabuhan, keramaian sudah terjadi. Hilir mudik orang-orang
dan beberapa laki-laki berseragam khas pelabuhan berjajar di dermaga menunggu
penumpang untuk dibawakan barang-barangnya. Saya berdiri di buritan kapal dan
membiarkan penumpang yang lain turun lebih dahulu. Itu saya lakukan karena
tidak ingin berdesak-desakan. Sederhana saja pemikiran saya waktu itu, yaitu
mencari keamanan dan keleluasan berjalan. Benar saja, begitu kapal dibuka.
Laki-laki berseragam tersebut langsung menyerbu seperti harimau kelaparan,
memburu setiap barang dan membawanya dengan cepat ke dermaga dan kembali lagi
dengan tujuan mendapatkan barang semakin banyak untuk dibawa. Hal itu tentu
sesuai dengan pendapatan yang diinginginkan. Semakin banyak barang, semakin
banyak rupiah yang didapat.
Belum
lama, terdengar keributan. Salah seorang penumpang dipukul di dermaga karena
berselisih paham dengan laki-laki berseragam tadi. Pemandangan yang membuatku
miris. Namun, itulah fenonema yang lumrah dan sering terjadi sehingga perlu
persiapan diri bagi siapa saja yang ingin menggunakan pelabuhan sebagai sarana
mudik lebaran agar memahami hukum alam pelabuhan-pelabuhan di nusantara ini. Sementara,
pada masa leluhur nusantara yang dikenal sebagai pelaut, tak pernah ada cerita
tentang kekerasan yang sering terjadi. Setiap tempat memiliki hukumnya sendiri,
baik di darat, di laut, maupun di udara. Itu yang dapat saya simpulkan.
Selang
beberapa waktu, saya turun dari kapal. Lagi-lagi, saya tidak dapat menghindar
dari laki-laki berseragam tersebut, dengan halus saya menolak untuk dibawakan
barang-barang kami. Namun, semangat pantang menyerah dari laki-laki berseragam
tersebut akhirnya mematahkan pertahanan kami. Mereka membantu membawakan barang
kami, tentu setelah bernegoisasi soal harga tercapai. Barang-barang kami
diantar menuju sebuah mobil dari pemilik agent rental mobil yang akan
mengantarkan kami menuju Kota Luwuk.
Pukul
9 pagi, kami mulai meninggalkan Kota Palu. Sepanjang jalan, Palu menghadirkan
keperkasaannya dengan gunung-gemunung yang menjulang. Perjalanan 30 menit dari
pusat kota, perjalanan kami mulai mendaki. Semakin lama, semakin tinggi dan
terjal. Kebun Kopi, itu nama daerah yang kami lalui. Perjalanan mendaki dan
jalan-jalan dipinggir-pinggir jurang terjal, mendaki, menurun, tikungan tajam,
serta pemandangan hamparan gunung dan lembah menjadi kesatuan panorama yang
membuat mata tak henti-hentinya memandang. Kurang lebih tiga jam, kami
mengitari pegunungan.
Setelah
melewati Kebun Kopi, kami disuguhkan daerah pesisir pantai dari parigi moutong
hingga kota Luwuk. Di kanan jalan, gunung yang tegap menjulang membentuk
tanjung-tanjung di setiap tikungan. Di kiri jalan, hamparan pohon kelapa dan
laut, yang dikenal dengan nama Teluk Tomini, menghiasi perjalanan dan mata yang
memandangnya. Indonesia memberikan kejutan-kejutan di setiap jengkal tanahnya.
Cerita tentang nusantara lampau memang tak pernah bohong, bahwa Nusantara
adalah sepotong surga yang diturunkan di bumi. Perjalanan dari Palu ke Luwuk
dituntaskan dengan perjalanan kurang lebih 18 Jam.
Tanah
leluhur, sudah terhampar. Sebuah pulau tampak gagah membentang di tengah laut. Pulau
Peling itu namanya. Saya mengucapkan salam kepada alam untuk membawaku serta ke
alam leluhur dan bersyukur kepada Allah telah memberikan kesempatan kepada saya
untuk mengunjungi tanah ini. Menurut sejarah, di pulau ini dulu terdapat
kerajaan bersaudara, yaitu Kerajaan Bulagi dan Kerajaan Buko. Sesudah itu,
lahir pula Kerajaan Banggai, yang juga merupakan sebuah pulau yang berdekatan. Tanah
leluhur ini dalam bahasa Banggai disebut lipubasal
yang berarti “Tanah Besar”.
Perjalanan
dari Luwuk ke Bulagi ditempuh dengan waktu tiga jam naik kapal motor dan satu
jam perjalanan darat dengan menggunakan truk sebagai angkutan masyarakat di
Pulau tersebut yang menghubungkan antardesa di pulau tersebut. Paman saya yang
juga kapten kapal yang kami tumpangi, mengatakan sambil berkelakar. Bagi
siapapun yang datang, apalagi pertama kali ke tanah ini diharuskan mencium
tanah. Entah apa maksudnya, tetapi itu menunjukkan hal-hal yang berkaitan
dengan cerita-cerita leluhur.
Setelah
sambutan dan temu kangen dengan keluarga, mulailah bertebaran tentang
kisah-kisah seputar Bulagi dan silsilah atau susur galur garis keturunan para
leluhur. Saya teringat akan ilmu yang diajarkan oleh para guru saya, yaitu
“Barang siapa mengenal diri, maka akan mengenal Tuhannya.” Ada yang menarik dari silsilah. Ilmu pun
diwajibkan memiliki silsilah hingga kepada para nabi sebagai utusan Tuhan di
bumi ini. Begitu juga dengan hadirnya manusia sebagai khalifah di bumi yang
bersilsilah sampai kepada Nabi Adam AS. Bahkan dalam ilmu pengetahuan, dikenal
ilmu yang khusus mempelajari tentang silsilah, seperti rabhitah, genealogy, dan
lain-lain.
Fenomena
silsilah secara turun-temurun, ada yang terjaga dan ada juga yang terputus. Dalam
istilah nusantara dikenal dengan marga
atau fam, sedangkan dalam bahasa
Inggris dikenal istilah family name.
Umumnya, susur galur atau silsilah terpelihara di lingkungan keluarga raja-raja
nusantara atau para penyebar agama, khususnya agama Islam. Khusus di Bulagi dan
sekitarnya, silsilah cenderung adalah nama klan atau keluarga yang merupakan
nama orang-orang terdahulu.
Secara
silsilah, susur galur saya di mulai dari Rizal Effendy Panga bin Rusman Panga
bin Kandola Panga bin Yaladani bin Panga bin Badoi bin Boboti bin Mobotikan bin
Doinomo bin Modoino bin Sobotik bin ……….. bin Nuh AS bin …… bin Adam AS. Informasi
silsilah tersebut pun pada akhirnya terkait dengan mitologi karena banyak nama
yang terputus. Jika ditinjau dari silsilah tersebut, saya keturunan keempat
dari kakek Panga. Dalam bahasa Banggai, Panga
memiliki arti cabang. Sebagian para tetua memberikan isyarat, tidak
mengherankan bahwa pam Panga mempunyai jumlah yang banyak. Saya menuliskan
hingga Kakek Sobotik, karena informasi yang saya dapatkan dari para orang tua
yang memiliki persamaan hingga mencapai nama tersebut. Saya pun menemukan
catatan silsilah yang lebih panjang, hingga berakhir di Adi Soko atau Aji Saka
yang merupakan pendiri Kerajaan Banggai dalam fase Modern. Namun, secara ilmiah
hal tersebut belum dapat dibuktikan. Pencarian saya terhadap silsilah ini
menemui kebuntuan karena tidak ada catatan tertulis mengenai hal tersebut. Hal
itulah yang membuat saya menghentikan nama tertinggi hingga Kakek Sobotik.
Silsilah
dianggap sebagai sesuatu yang keramat atau suci sehingga tidak menjadi objek
yang dibicarakan secara sembarangan. Banyak hal-hal mitos yang bertebaran,
apabila membicarakan tentang silsilah. Penelusuran mengenai nama-nama tersebut,
juga didasarkan pada kepercayaan bahwa setiap pulau atau daerah diberi nama
sesuai dengan orang yang pertama berada di daerah tersebut atau peristiwa atau
kejadian tertentu. Bulagi, sebagai nama daerah, juga mengalami hal tersebut.
Bulagi dapat diasumsikan sebagai orang pertama atau pendiri Kerajaan Bulagi.
Selain itu, juga dapat dikaitkan dengan peristiwa atau mitologi ketika Raja
Mandapar berkunjung ke daerah bakiling (kering), maka timbul rasa hausnya. Raja
Mandapar pun menyuruh orang memerintahkan seseorang untuk memanjat kelapa. Tak
berapa lama, pemanjat tersebut berteriak. Sang raja berkata bula ‘apa’ dan pemanjat berkata som ‘semut’. Hal itu menjadi dasar
penyebutan bulagi sosom sebagai pengganti daerah yang bernama Bakiling. Sebagai
simpulan yang buntu, saya berkesimpulan bahwa mengetahui silsilah adalah
sebagai upaya untuk bersyukur karena hadirnya kita dalam dunia ini melalui para
leluhur yang memberikan restu dan doanya untuk anak keturunannya agar menjadi
pemelihara bumi dan mengambil manfaat yang digunakan untuk tujuan kebaikan.
Sebagai
wilayah kepulauan, Bulagi pun memberikan pesona alam yang tak kalah dengan
daerah lain. Perjalanan Bulagi I ini pun akhirnya membentuk satu lingkaran
perjalanan dengan mengendarai sepeda motor untuk mengelilingi pulau. Ungkapan
rasa terima kasih, saya berikan kepada Saudara saya Supardi Y. Zakaria, S.Pd.
yang merupakan suami dari saudara sepupu saya. Di Bulagi, saya dihadirkan
dengan keindahan laut dengan pulau tak berpenghuni dan togong (pulau karang)
kecil. Di Bulagi sendiri, terdapat tiga togong kecil. Dua togong saya tidak
tahu namanya, sedangkan satu togong bernama Babanggai. Dari cerita yang
beredar, di togong tersebut terdapat kuburan para leluhur. Di daerah kampung
baru, terdapat pantai, namun tidak begitu luas.
Bersama
dengan kakak, saya menelusuri Pulau Peling bagian selatan, yaitu kecamatan
Totikum dan Tinangkung. Setiap desa yang kami lalui memberikan pesona yang
berbeda. Pagar-pagar rumah yang terbuat dari kayu tersusun rapi. Setiap desa
punya warna sendiri. Beruntungnya, proyek jalan sudah masuk di pulau ini. Beberapa
jalan yang rusak sudah diperbaiki. Ketika sampai di Desa Patukuki, saya singgah
sebentar ke air terjun. Entah apa namanya. Yang pasti air terjun di Patukuki
ini mampu memberikan kegembiraan dan
membuatku terhenti untuk bermain-main dengan airnya. Air yang berwarna
kehijauan dan susunan batu-batu serta coraknya yang terbentuk melalui kikisan
air membuat betah untuk berlama-lama di sini. Tak banyak yang ke sini. Ada
beberapa warga usia remaja yang juga ikut mandi-mandi di air terjun tersebut.
Setelah
puas mandi-mandi, kami melanjutkan perjalanan ke Ambelang. Di daerah yang
tinggi dan jalan yang berliku, kami berhenti di puncaknya. Daerah ini dikenal
dengan nama Gunung Bebek. Entah mengapa dinamakan demikian. Padahal tidak ada
bebek satu pun di gunung tersebut. Kehidupan terasa kembali. Sinyal telepon
seluler pun muncul. Di Bulagi, tidak ada sinyal sehingga perlu perjalanan yang
jauh hanya sekadar mendapatkan sinyal. Selain kami, banyak warga yang singgah
dan bersantai sambil menghubungi sanak keluarga di daerah lain. Fenomena ini
tentu tidak dapat ditemukan di kota besar atau daerah yang sudah maju.
Tiba
di Ambelang, kami istirahat semalam. Pagi hari, kami melanjutkan perjalanan.
Jam 6 pagi kami berangkat melalui daerah Tobing, Totikum untuk melanjutkan
perjalanan. Misi utama saya adalah menjemput papa tua saya dari pulau yang
lain. Kami berburu waktu agar tidak ketinggalan kapal motor kecil yang disebut bodi oleh warga sekitar. Sesampainya di
pinggir laut daerah Totikum, kami menyeberang menggunakan bodi menuju pulau Banggai. Gelombang
laut yang tenang dan percikan air laut menemani kami sekitar satu jam.
Setibanya
di pulau Banggai, kami menuju ke tempat saudara. Tak jauh dari kantor pos. Sampai
di sana, saya menunggu papa tua saya. Sambil menunggu kedatangan papa tua saya,
kami keliling pulau Banggai yang merupakan pusat wilayah kerajaan masa silam.
Saya melewati istana Raja Banggai yang dikenal dengan istilah Tomundo yang berarti Raja. Mumpun di
Banggai, boleh kita cerita tentang raja-raja. Dari tuturan para tetua, Tomundo
dipilih oleh Basalo Sangkap (empat) yang ada di Banggai yang mewakili setiap
daerah. Sebelum bersatu, dulu daerah-daerah tersebut adalah kerajaan-kerajaan
yang kemudian dipersatukan. Oleh karena itu, Tomundo Banggai dipilih dari
keturunan dari basalo sangkap secara demokrasi. Kerajaan banggai dianggap
sebagai satu-satunya kerajaan yang menerapkan sistem demokrasi. Tentunya bukan
demokrasi barat karena pada masa itu orang-orang eropa belum masuk ke wilayah
nusantara. Sementara itu, di luar basalo sangkap terdapat basalo-basalo yang
mewakili setiap daerah yang berada dalam kawasan kerajaan Banggai. Basalo Bulagi
dianggap sebagai Basalo yang memiliki kedudukan istimewa dan dihormati oleh
Tomundo Banggai. Hal itu ditunjukkan dengan cara penghormatan yang berbeda
dengan basalo yang lain di hadapan tomundo.
Selain
Tomundo dan Basalo, dikenal pula Jogugu dan
Kapitan. Jogugu berfungsi sebagai pengatur
urusan kerajaan, sedangkan kapitan digunakan sebagai gelar bagi panglima
perang. Saya jadi teringant dengan pahlawan nasional Kapitan Pattimura. Dalam
era sekarang, kedudukan Tomundo dipegang oleh bupati, basalo dipegang oleh
camat, jogugu dan kapitan masih ada dalam perangkat adat. Dalam era sekarang,
Kerajaan dijadikan sebagai simbol pelestarian adat dan kebudayaan. Selain itu,
saya juga mendengar istilah pandalabing.
Menurut para tetua, pandalabing itu
adalah simbol pemegang keturunan. Saya berasumsi setelah mendengar kisah dari
para orang tua, pandalabing berperan
sebagai penasehat sebagai wujud dari orang-orang yang bijak yang merupakan
pemegang garis keturunan. Mengenai kebenarannya, saya pun tidak dapat
memberikan kesimpulan terkait dengan fungsi dan tugas dari gelar kebangsawanan
pada masa silam yang dijadikan sebagai gelar bagi perangkat adat di era
Kerajaan Adat Banggai, seperti lazimnya kerajaan adat lain di nusantara ini.
Banggai
pun meninggalkan cerita tentang perjuangan dengan dibangunnya Tugu Trikora
sebagai bukti pangkalan militer dalam misi pembebasan Irian Barat. Perjalanan
di pulau Banggai pun mengharuskan kami untuk menginap. Keesokan hari, kami
menyeberang ke Salakan, pusat pemerintahan Kabupaten Banggai Kepulauan, dengan
menumpang kapal feri bersama dengan papa tua saya. Sesampainya di Totikum, papa
tua pun diantar ke Bulagi oleh adik dari Kak Pardi. Setelah itu, kami berputar
arah untuk mengitari Pulau Peling Bagian Timur yang melibatkan wilayah
Kecamatan Totikum dan kecamatan Tinangkung. Suasana pedesaan khas dengan pagar
pun kami jumpai kembali. Jalan tersebut melalui pinggir-pinggir pantai. Berbagai
nama desa pun masuk dalam memori. Namun, saat ini hanya beberapa desa saja yang
saya ingat. Satu desa yang cukup bersih dan tatanan yang rapi yang sampai hari
ini saya ingat adalah Desa Abason. Sementara desa-desa yang lain banyak yang
lupa namanya. Perjalanan kami berakhir kembali di Ambelang. Perjalanan tersebut
dilalui dengan perjalanan dari pagi hingga sore hari. Akhirnya, perjalanan
tersebut saya tutup dengan beristirahat semalam di Ambelang.
Esok
hari dari Ambelang, saya pun menuju Bulagi kembali dengan rentang waktu kurang
lebih satu jam. Setibanya di Bulagi, beberapa paman saya melarang saya untuk
bepergian lagi. mereka khawatir karena saya baru pertama kali datang.
Lagi-lagi, takut keteguran dan lain-lain yang berkaitan dengan kisah-kisah para
leluhur. Saya pun menurut saja, lagi pula sudah cukup lelah. Sebagai daerah
pulau, tentu sangat mudah untuk mendapatkan menu-menu makanan yang bersumber
dari laut. Bahkan di perjalanan, saya sempat menawar ikan Layar berukuran satu
meter lebih. Namun, nelayan itu tidak menjualnya karena hendak dipupu atau
diasapi.
Nuansa
Bulagi dan silsilah menarik perhatian kembali. Saya lebih banyak mendengarkan
para tetua bercerita. Budaya lisan yang terjadi di masyarakat tentu sangat
sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Seiring waktu, cerita-cerita tersebut
tentu mengalami proses penambahan atau pengurangan berdasarkan daya ingat
penceritanya. Selain itu, orang-orang tua yang paham tentang cerita asalnya
sudah banyak yang meninggal. Yang saat ini masih dapat saya saksikan adalah
kubur dari kakek Kandola Panga dan Kakek Yaladani karena lokasinya dekat dengan
rumah keluarga. Sementara, kakek-kakek pendahulu tidak saya temukan. Menurut
informasi, kubur kakek Panga terdapat di daerah Kinali, perbatasan Desa Sosom.
Karena
bertepatan dengan lebaran, biasanya di Bulagi ada tradisi takbiran keliling
Desa. Start di Bulagi lalu melewati beberapa desa hingga ke desa Kamba,
kemudian balik arah ke Bulagi Utara kembali dan dilanjutkan melewati beberapa
desa menuju Desa Peling Seasa ke arah utara. Sebagai penggembira, saya pun ikut
dalam truk yang mengangkut warga untuk melaksanakan takbiran.
Keesokan
harinya, sholat ied. Karena masjid tidak dapat menampung jamaah, salat ied
dilaksanakan di lapangan bola dekat kantor kecamatan. Sore harinya, saya dan
paman saya menuju ke daerah montomisan untuk bertemu dengan guru Aman. Saya
memanggilnya tete (sebutan bagi kakek
dalam bahasa Banggai). Selain silaturahmi, lagi-lagi pembicaraan kami berkisar
pada silsilah. Saya berkeinginan ke daerah yang dianggap keramat, yaitu
Lipubasal atau tanah besar. Namun, paman saya tidak sanggup memenuhi karena
alasan tertentu. Tete Aman pun tidak menyanggupi permintaan saya. Akhirnya,
kami menuju ke Lalanday. Di desa tersebut, saya menemui paman saya yang masih
satu fam Panga. Paman saya tersebut adalah pemegang kunci Lipubasal. Lagi-lagi
harapan saya tidak dipenuhi karena alasan tertentu.
Di
Lalanday, terdapat mata air yang membentuk aliran sungai menuju ke laut. Sungai
itu dibendung dan dijadikan tempat pemandian yang selalu ramai dikunjungi,
khususnya pada saat lebaran. Di dalam sungai tersebut, terdapat ikan yang
dikeramatkan. Warnanya bercak-bercak hitam. Ikan itu tidak boleh dibunuh
apalagi dikonsumsi. Menurut cerita, ada orang yang coba-coba menangkap ikan
itu, kemudian dikonsumsi. Akhirnya, orang tersebut sakit dan meninggal tidak
lam setelah mengonsumsi ikan tersebut. Sampai hari ini, tidak ada yang berani
memakan ikan tersebut. Ikan itu adalah ikan air tawar yang hidup di Sungai atau
mata air di Lalanday tersebut dan tidak ada jenis ikan lain.
Sebagai
sebuah kisah, tentu tidak ada kisah yang selesai. Setiap waktu akan memberikan
kisah baru, meskipun pada tempat yang sama. Setiap sejarah perlu dipelajari
bukan untuk diagungkan, tetapi untuk menggali kebijaksanaan setiap zaman. Bulagi
sebagai tanah leluhur tentu punya persepsi berbeda bagi orang-orang yang lahir
di rantau orang dengan orang-orang yang lahir di tanah leluhur. Kecintaan dan
kerinduan, serta rasa ingin tahu menyeruak dalam liang-liang pemikiran untuk
mengeksploitasi kebijaksanaan dan kearifan lokal sebagai bukti dan esksitensi
kebudayaan, sekaligus menunjukkan eksistensi nusantara sebagai bangsa yang
memiliki peradaban yang tinggi.
Bersambung……..
Samarinda, 26 Juli 2015
Pencari Kebijaksanaan, Rizal Effendy Panga, Cucu Nusantara.
Langganan:
Postingan (Atom)
