Sabtu, 17 Desember 2011

Guruku, Sekarang Aku Guru

Langit hari ini harus menangis. Sudah beberapa hari debu jalanan di kota ini tak pernah dibersihkan. Mungkin mereka lupa caranya membersihkan. Awan sudah gerah melindungi kota ini dari matahari. Sebenarnya, langit pun protes karena harus selalu menangis, tetapi langit tidak tega melihat bumi harus sesak nafas akibat debu-debu yang berserakan. Langit menangis sejak jam dua siang. Padahal langit tak ingin menangis, tapi kenapa tangisannya begitu memilukan sehingga tangisannya tak berhenti hingga sekarang. Ketika tangisannya mulai sesenggukan, aku mulai melangkahkan kakiku dari kampus tempatku belajar. Aku tiba di kota ini sekitar dua minggu yang lalu. Aku berasal dari Samarinda. Kota kecil di mana aku belajar banyak hal. Kota ini pun merupakan ibukota provinsi yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya. Ya, apalagi kalau bukan Kalimantan Timur. Aku bisa sampai ke kota ini itu pun karena bantuan dari pemerintah provinsi ini. Aku diberi bantuan Pemerintah Kalimantan Timur untuk melanjutkan sekolah. Kota ini terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan. Surabaya. Aku belajar di Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Surabaya. Dalam dua minggu ini, tugas-tugas kuliah mulai memburu diriku. Beberapa tugas tak bisa tahan mengantre. Mungkin tugas-tugas ini juga menonton televisi, ketika orang-orang kaya ini membagikan rezeki mereka di tempat umum. Masyarakat berjubel berebut sembako. Tak tahan untuk mengantre karena takut tak dapat bagian. Ya, aku pun harus membiarkan tugas mana saja yang tak sabar. Ada yang minta didahulukan karena waktunya udah mendesak. Ada yang hanya pasrah karena aku singkirkan sementara dari otakku. Siapa suruh jadi tugas kok memahaminya harus baca berkali-kali. Itu pun tidak mengerti juga. Aku harus segera sampai di kos. Meski kepala agak pusing terkena tetesan hujan, aku tetap melangkah. Aku singgah di toko fotocopi, membeli beberapa lembar kertas cover dan lakban hitam. Aku sedikit terhibur. Di sebelahku, berdiri seorang wanita. Dia mahasiswa juga meski jenjangnya setingkat di bawahku. Aku bertanya sekilas di jurusan apa dia kuliah. “Fakultas Ilmu Sosial, Jurusan Administrasi Niaga,” katanya. Setelah itu, aku hanya menatap wajahnya tanpa pernah tahu namanya, sambil menunggu uang kembalian. Setelah mendapatkan uang kembalian. Aku segera melangkahkan kakiku. Aku berada beberapa langkah di belakang wanita itu. Tanpa saling menyapa, kami berpisah di depan gang di samping warung bakso. Sebuah rel kereta api terbentang. Lampu berwarna merah. Jalan dihadang dengan portal belang-belang berwarna merah dan putih. Tak lama kemudian, sebuah kereta api meluncur dengan kecepatan tinggi. aku hanya menatapnya. Tak ada orang di depan pintu, mungkin karena hujan. Jadi, tidak ada seorang penumpang pun yang rela dirinya ditusuk-tusuk hawa dingin. Mungkin lebih enak tidur kali. Tak lama kemudian, aku sampai di kos. Kos-kosan ini adalah rumah bertingkat tiga. Lantai dasar ada sebuah toko bangunan milik bapak kos. Di lantai dua, terdapat tujuh buah kamar. Aku tinggal di kamar pertama sebelah kanan bersama Pak Arif, seorang guru senior di kotaku. Kami sama-sama menerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Lantai tiga, terdiri dari tujuh kamar juga yang belum jadi dan tentunya tidak berpenghuni. “Pak Arif belum pulang,” batinku. Aku mengeluarkan anak kunci dan memasukkannya di lubangnya, memutarnya sekali, memegang gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Kamar gelap. Jendela masih tertutup. Ku tekan saklar yang ada di dinding, lampu pun menyala. Udara kamar pengap, meski cuaca di luar ruangan dingin. Ku buka jendela. Udara dingin dari luar mulai menggeliat masuk ke dalam ruangan ini. ruangan yang berukuran sekitar 3x3 meter. Ku letakkan tas, ku buka jaket, dan angin segera menyusup ke celah bajuku. Ku rebahkan sejenak badanku. Aku teringat sesuatu. “Selama kita menguasai ilmu kita, di mana pun kita berada kita akan selalu di pakai orang,” kata dosenku ketika aku kuliah di Universitas Mulawarman. Beliau bernama Drs. Rusdy Ahmad, M.Hum. Awalnya ku pikir, ini hanya hiburan bagi kami karena kami masuk kuliah di jurusan yang tidak menjadi favorit untuk banyak orang. Saat itu, usiaku delapan belas tahun. Tahun 2002, aku memulai statusku sebagai mahasiswa di Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP, Universitas Mulawarman. Begitu banyak ejekan dari orang-orang yang ku kenal. “Untuk apa masuk di jurusan bahasa Indonesia. Orang Indonesia, kok belajar bahasa Indonesia lagi. Memang nggak bisa bahasa Indonesia ya,” kata temanku di jurusan yang lain. Aku hanya diam mendengar ini. “Bahasa Indonesia itu membosankan,” temanku yang lain menuturkan. Banyak kalimat-kalimat serupa yang menganggap sebelah mata jurusan yang ku tempuh. Hampir setiap hari, aku mendengar ejekan-ejekan ini. Bahasa Indonesia adalah pilihan kedua, ketika Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Aku belum merasakan kedekatan batin dengan jurusan ini. Sampai-sampai aku punya niat untuk pindah jurusan di tahun berikutnya ke Bahasa Inggris. “Mungkin tahun ini, aku kurang beruntung,” batinku sambil terus memberi semangat kepada diriku. Bahasa Inggris adalah jurusan favorit. Aku niatkan untuk terus memperbaiki diri. Hari ini aku kuliah, Linguistik. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa. Pak Rusydi mengampu mata kuliah ini. Beliau tidak terlalu tinggi, tidak banyak bicara, namun tegas dalam penyampaian. setiap mata kuliah beliau selalu hening karena beliau tidak begitu suka dengan kegaduhan. Bagi beliau, ilmu nomor satu. Bahkan terkesan tidak menyukai mahasiswa yang hanya fokus pada kegiatan kemahasiswaan tanpa pernah peduli dengan kemampuan akademisnya. “Kalian datang kemari, dibiayai orang tua untuk kuliah bukan untuk berkegiatan, dan satu hal perlu kalian ingat, kalian tidak bisa mengikuti segala kegiatan di kampus ini tanpa pernah menjadi mahasiswa di kampus ini,” itu kata-kata beliau yang sering terlontar, jika menyikapi mahasiswa yang menghabiskan masa studinya hanya untuk berkegiatan tanpa pernah peduli dengan kuliah. Mengikuti kuliah beliau, membuat aura idealisme pada diriku yang baru menjadi mahasiswa terasah. Satu bentuk kesempurnaan dan menjadi yang terbaik perlahan-lahan tertanam dalam batin dan pikiranku. Mata kuliah ini begitu menyita perhatianku dari keinginan diriku untuk pindah jurusan. Seiring berjalan waktu, keinginan itu pun berangsur-angsur hilang. Aku mulai mencintai pilihanku meski tanpa disengaja. Ketika mendaftar, om memilihkan jurusan bahasa Inggris karena melihat peluang kerjanya. Aku harus punya dua pilihan, pilihan pertama sesuai pesanan om dan pilihan kedua daripada bingung-bingung aku memilih bahasa Indonesia karena sama-sama bahasanya. Selepas dari semester satu, akhirnya aku memiliki sebuah pilihan. Aku tetap berada di jurusan bahasa Indonesia karena aku mencintainya. Kembali terngiang kalimat yang sering diucapkan oleh Pak Rusydi setiap kali beliau memberikan kuliah di kelas kami. “Selama kita menguasai ilmu kita dimana pun kita berada kita pasti akan dipakai oleh orang lain,” ingatku sambil terus membenamkannya ke dalam lubuk hatiku. Pelajaran berikutnya yang saya pelajari, beliau adalah orang yang taat prosedur dan melakukan segala sesuatu berdasarkan ketentuan yang berlaku dengan dasar logika yang jelas. Hari ini aku datang ke kampus cukup pagi. Aku melihat sebuah pengumuman di depan ruang dosen. Pengumuman tentang beasiswa S2. “Beasiswa S2. Syarat: Lulus S1, IPK minimal 3.50,” ku baca tulisan itu. Entah, perasaanku tiba-tiba mengarahkan untuk mengambil sebuah keyakinan bahwa suatu saat saya akan mendapatkan beasiswa S2. Aku yakinkan dalam diriku untuk menetapkan angka yang ku peroleh selama perkuliahan harus lebih dari 3.50. Selang setahun, aku tak mengingat pengumuman itu lagi. Namun efek dari keyakinan itu memberikan kekuatan bagiku untuk mendapatkan angka itu. Semester pertama IPK 3.47 dan semester kedua IPK 3.33. aku jalani terus perkuliahan. Grafik IPK dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan yang signifikan. Tiga tahun setengah aku menyelesaikan teori perkuliahan. Pengaruh lingkungan membuat diriku memilki fokus yang beragam. Diawali penundaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) karena menyibukkan diri dengan kegiatan di luar kampus. Ditambah lagi beban mengajar yang semakin padat di sebuah SMP swasta. Akibat bujukan teman untuk belajar berwirausaha, akhirnya aku tak menyerahkan berkas KKN yang telah ku susun. Dua bulan kemudian, aku Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sebuah sekolah ternama di kota ku selama empat bulan dengan hasil yang mendekati sempurna. Setelah PPL ini, teman-teman mulai menggarap skripsinya, sementara diriku sibuk menyiapkan berkas untuk mengikuti KKN yang tertunda. Aku belum bisa mengurus skripsi karena konsentrasi terpecah. Akhirnya aku memilih untuk menyelesaikan KKN terlebih dahulu. Selesai KKN, teman-temanku sudah mulai menyiapkan berkas wisuda. Mereka telah lulus. Satu kegelisahan mulai timbul dalam benakku. Benarkah aku terlalu sombong? Ku renungi diriku yang selalu menginginkan kesempurnaan. Hari ini teman-temanku telah diwisuda dan aku hanya menjadi penonton. Bahkan, aku tak hadir di acara wisuda mereka. Aku masih menganggap bahwa diriku lebih baik dari mereka, tapi faktanya mereka lebih dulu selesai dariku. Aku menyalahkan diriku. Namun, aku tak begitu menghiraukan kegelisahanku. Aku sibukkan diriku untuk mengisi kekosongan hatiku dengan mengajar. Aku berekspserimen di sana. Aku harus menjadi yang terbaik bagi mereka. Aku gelisah, ketika guru mengajar hanya sekadar mengajar, terlebih lagi mengajar hanya untuk mengejar uang. Kuliah ku lupakan. Yang ku ingat hanyalah, bagaimana membuat siswa menjadi lebih baik. Sudah lima tahun usia perkuliahanku, aku sadar jika tidak ku kerjakan ini tidak akan selesai. Kebetulan dosen pembimbingku adalah Pak Rusydi. Aku datang ke rumah beliau menceritakan persoalanku, kemudian ku tunjukkan keseriusanku untuk menggarap skripsiku. Di sela-sela mengajar, aku mulai mengetik huruf demi huruf skripsiku. Konsultasi, revisi, konsultasi lagi dan terus begitu. Hingga ada sebuah cobaan, Proposal skripsi yang sudah ku buat terkena virus. Cadangan data di beberapa teman juga terkena virus. Akhirnya, berhenti lagi untuk menulis skripsi. Setelah dua bulan, komputer di sekolah diperbaiki, aku buru-buru mencari data yang telah ku ketik. Aku lihat folder dengan bertuliskan namaku. Ku buka dan ku arahkan pointer ke arah file, ku klik dua kali. Aku melihat file ku masih ada. Ku periksa keseluruhannya, masih lengkap. Dalam hati aku bersyukur. Segera ku hubungi Pak Rusydi dengan membawa berkas proposal skripsi. Beliau bertanya mekanisme saya dalam menjalankan penelitian. Aku menjawabnya sesuai teori yang ku himpun. Dengan sedikit revisi, akhirnya aku bisa maju seminar proposal. “Zal, setelah seminar proposal ini segera lakukan penelitian!” “Baik, Pak!” “Bagaimana persiapannya?” “Saat ini, saya masih mengumpulkan dana untuk biaya perjalanan dan membeli beberapa alat penelitian.” “Segera, kalau ada kesulitan hubungi bapak!” “Baik, Pak!” “Satu lagi, jangan lama-lama, setelah penelitian cepat selesaikan skripsinya.” “Baik, Pak” Setelah dana terkumpul. Alat-alat dan bahan penelitian telah ku beli. Aku pun berangkat menuju perkampungan Dayak di pedalaman Kalimantan Timur. Aku meneliti di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kaltim. Jarak tempuh dari kotaku sekitar 8 jam. Waktu ini adalah kondisi normal. Jika jalan rusak, untuk sampai ke daerah ini bisa berhari-hari terutama pada saat musim hujan. Beruntung saat ini cuaca cerah dan kondisi jalan masih mulus karena baru diperbaiki. Aku meneliti di dua desa. Desa Deaq Leway dan Desa Nehas Liah Bing. Jarak antara dua desa ini 30 menit perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Desa Deaq Leway adalah tempatku KKN, jadi aku sudah tebiasa dengan warga di sana. Aku berada di desa ini sekitar dua minggu, ketika data sudah cukup, aku pamit kepada mereka. Aku pulang ke Samarinda membawa membawa serta data-data penelitianku. Berbulan-bulan ku curahkan perhatianku untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini. timbul kejenuhan yang membuat diriku berhenti. Hingga akhirnya ditengah kebuntuan, tanpa sengaja aku ketemu dengan dosen pembimbingku. Siapa lagi kalau bukan Pak Rusydi. Ada rasa malu yang menyelinap masuk di hatiku. Beliau langsung bertanya tentang skripsiku yang sudah setahun belum terselesaikan setelah penelitian. “Saya bingung, Pak. Ada beberapa data yang belum bisa saya selesaikan,” kataku dengan perasaan was-was. “Kalau bingung tanya. Jangan diam saja. kalau diam ya, nggak selesai-selesai. Besok saya mau lihat apa yang kamu temukan. Temui saya di kampus,” kata Beliau. Akhirnya, aku pasrah. Esok harinya ku bawa data penelitianku dan menunjukkan kepada beliau. “Apa yang kamu bingungkan.” “Bagian analisis datanya, Pak. Ada beberapa data yang belum saya temukan padanannya.” “Inikan tinggal dibuat begini terus analisisnya begini,” “Wah kalau begitu saya bisa, Pak!” “Kalau bingung, ya tanya. Jangan diam saja. kalau nggak mau nanya ya nggak bisa selesai-selesai. Cepat selesaikan!” “Iya, Pak. Terima kasih.” Hari yang kutunggu, mungkin juga dinanti-nantikan oleh kebanyakan mahasiswa tiba. Hari ini aku disahkan sebagai sarjana. Aku harus rela menanggalkan status mahasiswaku untuk bertempur di dunia nyata. Ku ucapkan syukur. Namun, hari bahagiaku tak sempurna karena bapakku tak bisa hadir. Beliau sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sedih. Aku harus tetap tersenyum. Mungkinkah, Bapak kecewa padaku karena harus lulus dalam waktu 6 tahun. Cepat-cepat ku lupakan. Mungkin bapak hanya sibuk. Aku laki-laki, harus bisa tegar dihadapan beliau, apalagi Mama mendampingiku. Ibuku punya sebuah cita-cita. Anaknya jadi pegawai. Sekarang aku sudah mengajar di SMA Negeri di kotaku dengan status Pegawai Negeri Sipil. Secara lahir, saya sudah mewujudkan keinginan ibuku. Namun, diriku masih bergejolak. Hasratku untuk terus belajar tak pernah padam. Sering ku tuliskan dalam setiap soal-soal yang ku berikan kepada murid-muridku. “Prof.Dr. H. Rizal Effendy Panga, S.Pd. M.Pd.” Inilah yang jadi hasratku untuk terus belajar. Satu gelar telah ku dapatkan. Berita itu datang mengejutkan. Informasi yang sudah lama ku nantikan. Informasi beasiswa S2 dari pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Aku mendengar dari rekanku di kantor. Hari itu juga ku telusuri kebenaran informasi itu. Aku tak bertemu dengan pejabat yang berwenang menangani informasi ini. ketika, aku bersantai di rumah. Adik mamaku datang membawa satu berkas surat berisi informasi yang sedang ku cari. Aku membacanya. Jurusanku, dicari 15 orang untuk menerima beasiswa ini. Ku persiapkan mentalku. Ku persiapkan segalanya. Mulai dari perizinan kepada kepala sekolah, instansi terkait. Hingga akhirnya aku bisa mengumpulkan berkas beasiswa ini di dinas pendidikan kotaku. Aku pun menjalani serangkaian tes. Impian tak pernah meninggalkan orang yang mencari dan berusaha meraihnya. Sore itu, dering telepon selulerku membawa sebuah pintu ke arah mimpiku. “Zal, informasinya udah ada tuh, coba dicek namamu ada atau nggak?” kata kawanku di seberang sana. “Iya, Kang Mas. Terima kasih,” Aku pun bergegas membuka laptop dan mencari informasi yang ku nantikan. Setelah klik sana-sini. Ku temukan seberkas surat keputusan penerima beasiswa yang di surat itu tertera nama ‘Rizal Effendy Panga’ di urutan nomor 2. Aku bersyukur. Ku kabarkan pada orang tuaku. Ku kabarkan pada dunia. Aku menemui guruku. Beliau senang. Beliau memberikan semangat baru kepadaku untuk terus belajar. “Belajarlah, nanti kamu akan lihat bedanya. Gali ilmunya,” kata beliau. Aku hanya mengangguk. Aku mohon doa kepada beliau agar studiku juga bisa berhasil. “Tok…tok…tok….” “Zal, buka pintu!” Aku terhenti dari lamunanku. Pak Arif sudah datang rupanya. Cepat ku buka pintu kamar kosku. Setelah itu, aku pun bergegas mandi. Kota ini cukup panas, sehingga tubuhku pun harus menyesuaikannya. Banyak hal yang harus ku pelajari disini. Salah satunya, aku bertemu lagi dengan seorang guru yang mengajarkan kepadaku hal baru lagi. Pak Budi namanya. “Jadi orang pintar itu harus tahu tata krama. Harus banyak belajar. Master itu seperti empu. Jadi ya, mesti belajar. Belajar untuk berani berbeda dengan orang lain. Berbeda yang berazas.” kata Pak Budi. Guruku sekarang aku guru. Aku harus belajar untuk menjadi Mahaguru. Sekarang aku mulai tahu, bahwa aku banyak tidak tahu. Semakin ku gali. Semakin ku tambah kepandaianku. Semakin aku tak mampu mengatakan bahwa diriku adalah orang pintar. Semakin malu aku mengumbar pengetahuanku yang sedikit, sementara begitu banyak pengetahuan yang terselubung yang belum mau menampakkan dirinya padaku. Guruku sekarang aku guru. Namun, pantaskah diriku disebut guru, ketika seorang muridku bertanya aku tidak melayaninya dengan ikhlas. Aku harus berkenalan lagi dengan pengetahuan yang masih sungkan untuk menyapaku. Mungkin karena aku lupa kepada mereka selama ini atau mungkin karena aku terlalu bangga pada milikku yang sedikit. Guruku, sekarang aku guru yang terus belajar untuk menjadi Mahaguru, bukan hanya demi diriku tetapi karena banyak produk pendidikan yang salah jalan. Banyak produk pendidikan yang korupsi. Banyak produk pendidikan yang tidak bertanggung jawab. Banyak produk pendidikan yang hanya mementingkan dirinya. Aku yang salah karena aku guru, meski aku tak pernah mengajari mereka.

Selasa, 29 November 2011

Penyair

Penyair muda menyair lagi. Lama tak bersua pena, berseloroh mengkritik langit, menjual mimpi untuk bumi. Fenomena negeri menyeruak ke wajah-wajah jelata. Begini memang jadi penyair. Gelisah menuntun tak kenal ujung. Menggelisahkan penguasa, menemu gelap kekuasaan. Penyair sudah tua. Menegur diri, tak banyak cerita, mulai bercinta dengan penguasa. Penguasa para penguasa. Surabaya, 29 November 2011

Senin, 28 November 2011

Gerobak Dorong Pasar Pagi

Langit mulai menangis lagi, tapi kali ini bumi bahagia karena tangisan langit bisa menghilangkan debu-debu jalanan yang menyesakkan penghuni rahimnya. Langit masih tampak murung, tapi bukan bersedih. Langit hanya ingin bercerita pada sang surya agar segera bangun dari peraduannya. Langit ingin agar sang matahari mulai memanaskan bumi agar penghuni rahimnya bisa segera melakukan aktivitasnya lagi tanpa pernah merasa terganggu dengan tangisan langit. Samarinda. Ya, samarinda ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Itulah kota itu. Sudah lama samarinda tidak hujan. Pagi ini hujan cukup deras, namun matahari perlahan mulai memanaskan air-air yang menggenang. Jalanan pun sudah tak becek lagi. Semua orang bergegas pada pekerjaannya masing-masing, meninggalkan peristirahatan untuk berkelana mencari rezeki Sang Ilahi. Begitu juga nanang, seorang pendorong becak angkut di pasar pagi. Rumahnya cukup jauh dari pasar pagi. Ia tinggal di sungai dama, rumahnya agak ke puncak berada di gunung mangga. Gunung mangga ini sebenarnya bukan gunung tapi merupakan nama jalan menanjak yang cukup tinggi. Memang jika kita jalan kaki dari bagian bawah hingga ke puncak memerlukan tenaga yang cukup. Jika tidak, pasti akan manggah nafas kita, lebih tepatnya nafas yang ngos-ngosan. Namun, berbeda dengan nanang yang sudah terbiasa setiap hari ia berangkat dan pulang melalui jalan ini. Tubuhnya tidak pernah protes kepada pemiliknya. Pagi ini nanang harus ke pasar pagi, meski tubuh ringkihnya sedikit terbatuk-batuk. Nanang alergi terhadap dingin, tapi itu tak menyurutkan langkahnya. Hari ini hari minggu. Pasti banyak orang yang berbelanja ke pasar pagi. Nanang berharap hari ini dia mendapatkan rezeki yang lebih banyak dari hari biasanya. Hari ini ulang tahun pernikahannya yang ke-10. Ia berharap di hari istimewa ini, ia bisa pulang membawa hadiah kecil untuk istrinya tercinta. Ia juga berharap kepada Sang Pemurah, agar mau memberinya rezeki dan mendukung niatnya. Ia ingin memasak makanan yang lezat dan menyajikan untuk istrinya. Ia harus segera bergegas. Jam tangan lusuhnya menunjukkan pukul 07.00 pagi. Setelah berpamitan dengan istrinya sembari mencium keningnya, ia mengambil sepeda ontel miliknya. Nanang mengayuh sepedanya dengan perasaan gembira. Ia yakin, alam akan mendukung niatan sucinya untuk membahagiakan istrinya. Semua hal dia lakukan untuk istrinya. Perlu waktu lima belas menit untuk sampai ke pasar pagi. Sesampainya di sana, ia mengambil gerobak yang ia sewa sehari dua puluh lima ribu rupiah dari juragan gerobak. Sebenarnya, ia ingin memiliki gerobak sendiri. Tapi untuk membeli sebuah gerobak ia harus mengumpulkan bertahun-tahun. Ia sudah menabung, tapi belum cukup untuk membeli sebuah gerobak. Ia mengambil gerobak yang selalu menemaninya mengais rezeki. Nanang mencari pelanggan sendiri. Kadang-kadang seharian ia tidak mendapatkan pelanggan, sementara sewa gerobak tetap harus dibayar. “Nanang, apa kabar hari ini, kelihatannya senang betul,” sapa Rudi, teman seperjuangan mendorong gerobak. “Baik, Rud. Nggak ada apa-apa. Bagaimana kabarmu, dua hari kamu nggak muncul,” Nanang membalas sapaan kawannya. “Biasa, demam lagi badanku, sampai nanti, saya mau narik dulu,” berlalu begitu saja di depan Nanang. Nanang hanya duduk di atas gerobaknya menunggu pelanggannya atau orang yang memerlukan jasanya. Sekali narik gerobak, Nanang diberi ongkos lima sampai sepuluh ribu rupiah. Setelah menunggu satu jam baru ia mendapatkan pelanggan pertamanya. Seorang ibu memanggilnya untuk mengangkat barang-barangnya. Barang ibu ini cukup banyak. Nanang meletakkan satu persatu barang ibu itu. Dua menit Nanang sudah bolak-balik, akhirnya ia berhasil meletakkan semua barang ibu itu. Nanang menarik nafas dalam, mempersiapkan tenaganya untuk mendorong barang ibu itu yang menggunung di gerobaknya. Roda gerobak mulai bergerak seiring dengan dorongan tenaga dari tubuhnya. Nanang mengantar barang-barang ibu itu ke mobilnya yang berada di luar gerbang pasar pagi di Jalan Jenderal Sudirman. Tak berapa lama, ia pun sampai di mobil itu. Ibu itu membuka bagian belakang mobilnya. Nanang pun bergegas memasukkan barang-barang tersebut. “Berapa ongkosnya, Bang?” sapa ibu itu. “Sepuluh ribu.” jawab Nanang singkat. Ibu itu memberikan satu lembar uang sepuluh ribu dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Sampai tengah hari, Nanang sudah mendapatkan uang sebesar enam puluh lima ribu rupiah. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 Wita. Nanang bergegas menuju ke Masjid Raya Darussalam. Masjid ini terletak di sebelah timur Pasar Pagi Samarinda. Di sebelah kiri masjid, membentang sungai terpanjang di Kalimantan Timur, Sungai Mahakam. Sungai tempat Pesut, ikan langka yang terancam punah. Ia menuruni tangga yang bermuara pada sebuah tempat wudhu di bawah tanah. Nanang bersyukur hari ini, Allah menyanginya, memberikan kesehatan, kekuatan. Setelah berwudhu, ia pun beranjak menuju masjid dan melaksanakan kewajibannya sebagai rasa syukur atas anugerah Allah SWT kepada diri dan keluarganya. Setelah selesai bermunajat, ia duduk di masjid bagian belakang dan membuka bungkusan yang dibawanya dari rumah. Bungkusan yang berisi menu makan siang yang dibuatkan istrinya tadi pagi. Menu siang ini, Nasi dan telur dadar goreng. Istrinya pun membawakan sebotol minuman. Cukup sederhana, namun Nanang menyukuri karunia Ilahi yang membuatnya tetap sehat. Ia sudah mengantongi uang senilai empat puluh ribu dan uang sewa senilai dua puluh lima ribu sudah ia bayarkan kepada pemilik gerobak. Setelah melepas lelah dan mengisi perutnya, Nanang menjadi semakin bertenaga. Namun tenaga ini tak sepenuhnya dari makanan, tetapi karena ia ingin segera pulang dan memberikan kejutan untuk istrinya. Ia harus bersemangat, masih ada waktu baginya untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menambah rupiah yang telah ia dapatkan. Nanang kembali mangkal di gerobaknya. Menunggu. Mengangkut. Berlari. Mendorong. Semangatnya hari ini jauh lebih kuat dari hari-hari sebelumnya. Pukul 3 sore, pasar mulai sepi. Sebagian kawan-kawannya sudah pulang. Nanang sudah mendapatkan uang sebesar 120 ribu rupiah. Ia pun segera menuju kamar kecil untuk mengganti pakaiannya. Di kamar mandi, Ia melihat seorang laki-laki berkacamata, berjaket kulit. Nanang hanya melihat sepintas, lalu masuk ke toilet. Tak lama kemudian, Nanang keluar dari WC. Ketika melintas di depan laki-laki itu, Laki-laki tadi memegang pundak Nanang dari belakang, menegurnya, mengajaknya berbicara. Nanang seakan-akan lupa niatnya untuk segera pulang. Laki-laki tadi semakin asik mengajaknya mengobrol seputar kerjaannya dan bertanya berapa penghasilannya hari ini. Nanang pun seperti tersihir, Nanang melakukan apa pun yang dikatakan laki-laki itu. Hingga tanpa sadar, Nanang mengeluarkan uang jerih payahnya mendorong gerobak hari ini. Laki-laki tadi menerima dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Nanang hanya mengangguk. Laki-laki tadi berlalu dari hadapan Nanang. Setelah sepuluh menit, Nanang baru tersadar. Kenapa ia masih berada di sini? Apa yang terjadi? Ia coba mengingat-ingat kejadian. Ia terkejut dan segera memeriksa kantong celananya. Nanang lemas. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya kehilangan tenaga. Ia mencoba berlari mengejar laki-laki berkacamata tadi dengan sisa-sisa kekuatannya, namun tak juga ketemu. Ia melangkah dengan gontai. Semua lamunannya perlahan mulai masuk ke pikirannya. Harapan indah, ingin memberikan hadiah kecil untuk istrinya sebagai hadiah ulang tahun perkawainannya pupus. Ia tak mampu bersuara, apalagi berkata-kata. Beberapa pedagang yang mengenalnya menegurnya. Ia tak menoleh, apalagi menjawab pertanyaan tersebut. Pikirannya kini diliputi kekecewaan karena dirinya teledor sehingga ia tidak bisa membelikan sesuatu untuk istrinya. Nanang tak ingin berlama-lama berada di pasar. Ia ingin segera pulang. Terbayang wajah sedih istrinya, seharian bekerja namun tak membawa hasil apa-apa. Ia ambil sepedanya. Ia kayuh dengan malas. Bayang-bayang kekecewaan terus mendera alam pikirannya. Tak terasa, air matanya mengalir. Sungguh hari ini, ia ingin memberikan sedikit senyum kepada istrinya. Sudah sepuluh tahun berumah tangga, namun tak banyak yang ia bisa berikan kepada istrinya. Pikirannya semakin menerawang. Ketika hendak berbelok, Nanang tak melihat mobil yang keluar dari kanan jalan. Mobil itu melaju cukup kencang. Nanang terpental. Ia pingsan. Orang ramai berkerumun. Tubuh Nanang diangkut ke dalam mobil yang menabraknya. Membawa ke Rumah Sakit Islam Samarinda. Perawat langsung mengecek kondisi Nanang. Secara fisik Nanang tidak terlalu parah, hanya beberapa bagian tubuhnya lecet karena bergesekan dengan aspal. Namun, Nanang harus dirawat inap karena kondisi tubuhnya lemah. Nanang pingsan selama satu jam. Ketika ia terbangun, di sebelah kanannya istrinya tersenyum. Nanang berusah bangkit, tetapi segera dicegah oleh istrinya. “Istirahatlah, abang perlu istirahat. Nanti kalau sudah kuat, baru deh abang boleh duduk.” Kepala Nanang dielus dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang tangan kiri nanang yang terbujur lemas di ranjang rumah sakit. “Maafkan abang karena tidak bisa memberikan hadiah terbaik untuk ulang tahun pernikahan kita.” Nanang berkata lirih. “Abang sehat dan selalu tersenyum setiap saat sudah cukup menjadi kado pernikahan kita. Jadi, abang cepat sembuh ya.” ****

Minggu, 13 Maret 2011

Sajak

Sebuah alunan huruf kehidupan,
mengalir menyatu di sungai impian,
menyambangi muara samudra,
lebur bercampur gelapnya biru kembar.

Memutar arus masa lalu,
mengikat kekinian,
memenjarakan masa depan,
membentuk jalinan simfoni nada-nada hitam atau putih.

Jalan berliku menuju dua arah berlawanan,
kadang terjebak, kadang mujur.
Berbagai aroma terhampar, menyeruak ke dalam otak penggembala,
kadang tertahan, kadang malah dipaksa keluar.

Sajakku, sajak dunia,
tak ku temukan, sajak hatiku.
Sajak kenangan, bukan sajak bualan.
Sajak bukan sekadar coretan-coretan,
sajak kumpulan kegelisahan,
terbenam dalam bayangan.

Arti sajak, ya... aku hanya tau sajak itu diriku.
Diriku yang tak pernah punya kuasa.


Samarinda, 13 Maret 2011

Kamis, 10 Maret 2011

Balada Bocah Asongan

Ringkih terbaring lesu.

Mentari menemanimu bersama hiruk pikuk kota.

Tak ada kata, apalagi suara.

Bumi menjadi kasur siang ini.



Sejenak,

angin hendak berhenti bertiup,

menyelimuti dua onggok tubuh bocah asongan,

berlomba mendengkur, getir terhempas gelombang dunia,

terpental dari peradaban, hilang.



Berjuta pasang mata di atas kuasa,

memandang, menatap sepi,

mencoba asa peduli, terbakar api cemburu.



Cemburu pada siang ini,

cemburu pada sore nanti,

cemburu pada malam sepi.

Lalu, lenyap bersama pekat malam.



Dua bocah asongan hanya menanti,

mengabarkan berita republik ini,

menerobos mimpi,

hanya bisa menyepi,

kemudian berkata:

Kami anak langit berbaju angin menatap mimpi-mimpi panjang matahari.

berlari kian kemari, menyentak bumi bersua arogansi itu.

Akankah kami punya arti?





Samarinda, 11 Maret 2011

Taring Kecil itu Tumbuh Perlahan

Taring kecil itu tumbuh perlahan,

mengoyak mimpi semu, membuka luka sang waktu

setiap sisinya saling bercumbu, meraung siap menerkam

bertanya lepaskan kerinduan desiran angin

angkara melepas tatapannya

mentari hanya diam

rembulan kembali ke peraduan, bersembunyi dibalik tirai tirani

bintang hanya membeku saling pandang



Taring kecil itu tumbuh perlahan,

bercengkerama malam, siang pun cemburu.

pelita maya berkejaran saling sikut, lalu berontak

mimpi terpental, nafsu melilit wajah beku

kunang-kunang kehilangan cahaya

sendi-sendi galau merobek benteng, membakar,

anyaman-anyaman kecewa merajut setiap jengkal.



Taring kecil itu tumbuh perlahan,

lalu meretas makna setiap hurup yang mengalir menjadi debu-debu sajak.





Samarinda, 6 Maret 2011

Jumat, 11 Februari 2011

Durian Jatuh Bukan Karena Angin

“Lariiiiiiiiiiiiiiiiiii!”
Beberapa anak berlari dari kebun durian. Laki-laki separuh baya berteriak sambil mengacungkan parangnya ke arah gerombolan anak tadi. Ekspresi kelelahan tampak di wajahnya. Emosinya mengalir dari darah-darahnya menuju ke kepalanya. Wajahnya memerah. Keringatnya membasahi wajahnya yang mulai berkerut.
“Dasar pencuri nakal kalian, kalau dapat rasakan nanti,” gerutu Pak Jamil.
Ia pun melanjutkan pekerjaannya menunggu durian yang jatuh. Namun, tak jauh dari tempat itu. anak-anak itu masih bersembunyi di balik semak-semak. Berhati-hati mengintip, kalau-kalau mereka masih dikejar. Nafas mereka masih turun naik tak beraturan. Setelah memastikan sudah tidak ada yang mengejar, anak-anak itu pun berbaring di atas tanah dengan formasi yang semerawut. Bajunya basah oleh keringat. Sesekali helaan nafas lega dengan tarikan nafas yang dalam terdengar.
“Hampir saja ketahuan,” kata Andra
“Kalau tertangkap bisa gawat urusannya,” jawab Andri menimpali perkataan saudara tuanya.
“Untung saja kita tadi cepat berlari. Parang Pak Jamil yang putih mengkilat itu menyeramkan banget,” Andru pun tak mau kalah berkomentar.
“Iya. Padahal kita sudah mengumpulkan durian cukup banyak. Eh, sekarang kita harus merelakannya dibawa pulang Pak Jamil,” Andre menggerutu.
“Durian itu memang milik Pak Jamil. Kita yang salah Kak,” ujar Androida.
“Hussss! Kamu diam saja,” Jawab mereka berempat serempak.
Anak-anak ini adalah lima bersaudara kembar. Andra kakak tertua disusul Andri, Andru, Andre, dan Androida. Dari kelima bersaudara ini, hanya Androida yang perempuan. Kemana pun mereka pergi, Androida selalu dibawa. Usia mereka 11 tahun. Mereka duduk di kelas lima sekolah dasar. Sejak jam enam pagi kelima bersaudara ini sudah berangkat ke hutan di belakang rumah. Tepatnya berangkat menuju ke kebun durian Pak Jamil. Setiap musim durian, kebun Pak Jamil memang selalu menjadi incaran anak-anak di kampung ini. Durian di kebun Pak Jamil memang terkenal enak. Daging buahnya tebal. Wangi buahnya selalu mengundang selera untuk menyantapnya. Di mata anak-anak, Pak Jamil terkenal dengan kegalakannya. Apalagi kalau ada yang berani-berani mencuri buah duriannya. Pak Jamil akan mengejar dengan parangnya yang mengkilat. Melihat kilatannya saja, sudah membuat sendi-sendi yang melihatnya gemetaran.
Biasanya lima bersaudara ini, selalu bernasib bagus. Durian-durian yang enak tersebut selalu bisa disantap. Meskipun setiap hasil yang diperoleh tak pernah dibawa pulang ke rumah. Mereka sangat takut pada ayah. Ayah terkenal galak, jika anak-anaknya melakukan kesalahan. Apalagi melakukan kesalahan yang merugikan orang lain.
Ayah ingin anak-anaknya menjadi orang-orang yang bertanggung jawab. Walaupun galak, ayah terkenal dengan orang tua yang bijak. Kami berlima tak luput dari pengawasannya. Untuk hari ini saja, kami berlima harus meminta izin berjam-jam agar diizinkan bermain minggu pagi ini. Kami tidak mungkin mengatakan kepada beliau bahwa kami akan pergi ke kebun durian Pak Jamil untuk mencuri buah duriannya. Ayah bisa marah besar, jika beliau tahu. Oleh karena itu, kami selalu menggunakan adik kami sebagai alasan untuk pergi.
Ayah sangat menyayangi Androida. Segala keinginan dari putri semata wayangnya ini, pasti dikabulkan. Androida sebenarnya tidak ingin pergi bersama kami. Dia sudah ada janji dengan Sinta. Dia mau mengerjakan PR di rumah Sinta, teman sebangkunya di sekolah. Kami memaksanya. Terutama kakak pertama kami si Andra. Kak Andra yang mengusulkan kalau kami berlima besok harus mencari durian. Kalau hanya kami berempat pasti tidak akan mudah mendapatkan izin, jadi kami mengajak Androida agar kami dapat izin.
Namun, keberuntungan belum berpihak kepada kami. Sepuluh buah durian sudah kami kumpulkan di bawah pohon. Lagi asik menunggu dari jauh Pak Jamil sudah berteriak-teriak. Kontan saja, kami langsung berlari berhamburan. Untung saja kami, tidak tertangkap. Dari cerita teman-teman yang pernah mengambil buah durian di kebun Pak Jamil. Khususnya mereka yang tertangkap, pasti diikat dibawah pondoknya. Kemudian dibiarkan sampai sore ditinggal sendirian di hutan. Hukuman ini rata-rata membuat teman-teman kami jera. Apalagi ada cerita bahwa kebun Pak Jamil terkenal Angker.
Bayu, teman sekelas kami pernah tertangkap Pak Jamil. Bayu merengek-rengek, bahkan sampai kencing di celana agar dibuka ikatannya. Dia bercerita ada penunggunya di kebun tersebut. Awalnya kami ingin mengajak Bayu, tetapi dia tidak berani. Jadi kami nekat, sampai-sampai Androida pun kami paksa ikut.
“Merayap. Tunduk semua! Pak Jamil datang tuh,” kata Andre.
Kami semua layaknya tentara yang dapat perintah dari komandan langsung cepat mengatur barisan. Berbaris dibawah lindungan semak-semak. Semuanya tertunduk cemas. Langkah kaki Pak Jamil semakin terdengar lebih kencang. Nafas kami kembali tidak teratur. Detak jantung kami berdetak lebih kencang. Setiap langkah Pak Jamil membuat detakan jantung kami semakin cepat. Pucat. Seluruh persendian lemas. Tinggal lima langkah dari tempat kami tiarap. Pak Jamil berhenti. Kami semakin was-was. Androida menangis. Cepat-cepat kami tutup mulutnya agar tidak bersuara. Pak Jamil melangkah lagi. Berhenti lagi. Entah apa yang dilakukannya.
Dari balik semak-semak, kami hanya bisa melihat kakinya yang semakin mendekat ke arah kami. Pak Jamil semakin mendekat. Wajah kami memerah. Androida sudah mengalir air matanya dengan suara tertahan di tangan kami. Kami hanya pasrah. Pak Jamil terus melangkah. Berlalu dari persembunyian kami. Setiap langkahnya membuat kami semakin lega.
“Huuuuuuuuh, hampir saja,” jawab kami serempak.
“Hiks…hiks…hiks…. Kak kita pulang yuk. Ida takut kak. Pulang yuk,” akhirnya Androida bisa melepaskan suara tangisnya.
“Jangan dulu! Kita sudah jauh-jauh ke sini. Jadi kita harus bisa mencicipi durian enak itu,” kata Kak Andra layaknya memberikan perintah.
“Kak, Ida takut kak,” rengek Androida.
“Tenang aja, ada Kakak. Sudahlah nggak usah nangis lagi! Ayo semua ikut!” Tegas Andra.
Kami pun kembali ke kebun durian Pak Jamil. Kami menemukan 3 buah durian. Tanpa berpikir panjang kami langsung membelah durian tersebut. Menyantapnya penuh semangat. Tanpa memperhatikan sekeliling kami. Kami sudah terlanjur tergiur dengan buah durian tersebut. Bahkan Kak Andra, tadi malam mengigau sedang menikmati buah durian.
“Hmmmmmmmmmmmmmm! Mau lari kemana lagi kalian,” Suara agak berat itu bergema yang tidak lain milik dari Pak Jamil.
Kami tertangkap basah. Durian yang berada di mulut kami tiba-tiba hambar. Kami menurunkan tangan kami. Barang bukti masih terlihat. Mulut berlepotan dengan daging buah durian. Tak ada celah untuk lari. Androida malah sudah menangis sejak tadi. Pucat. Gemetar. Pak Jamil menceramahi kami. Setelah puas memarahi kami, yang menyebabkan air mata kami mengalir. Pak Jamil jadi tidak tega. Beliau mengajak kami masuk ke dalam pondoknya. Kami tak berani membantah. Di dalam pondoknya, Beliau membelah dua buah durian yang paling besar. Mempersilakan kami makan. “Anak-anak, perbuatan mencuri itu tidak baik. Alam akan memberikan sesuatu yang baik, jika kita mencari dengan cara yang baik. Jika kalian datang dengan baik-baik, Bapak pasti akan memberikannya untuk kalian. Nah, sekarang jangan malu-malu. Makanlah sepuasnya,” kata Pak Jamil.
silahkan tempatkan kode iklan, banner atau teks disini