Semua mata di dunia menatap Sang Terdakwa.
Matanya memerah menahan amarah,
Menghujam di dada yang terkulai lemas, dada kematian keadilan.
Sang Hakim berkata,
“Apakah anda tahu mengapa Anda berada di sini?”
Sang Terdakwa lirih,
“Tubuhku yang terkulai ini tahu mengapa aku berada di sini.”
Sang Hakim melanjutkan sidang dan berkata lagi,
“Apakah Saudara tahu, jika matahari tetaplah menjadi matahari, dan tanah tetaplah menjadi tanah?”
Februari 2010
Sang terdakwa hanya bisa menghembuskan nafasnya dan hanya diam.
“Katakan padaku, kenapa hanya diam,” hardik Sang Hakim.
Jumat, 16 April 2010
Kata di Selembar Kertas Lusuh
Ku tulis sebuah horizon baru
Di kertas lusuh ini,
yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Berkelana dengan gempuran prajurit kata
siap menyerang benteng sajak berpagar aura mitos.
Senjata ditempa, besi-besi dilebur dalam kobaran api,
lalu dipukul berdenting memekakkan telinga, hati cakrawala sajak-sajak pinggiran.
Di kertas lusuh ini,
yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Bertumpuk-tumpuk dengan debu, ku tuliskan kembali kata yang tak berani ku katakan.
Di depan calon abdi bangsa,
yang tertunduk, menekuni setiap huruf yang mulai kabur dari sajak-sajak yang telah lama menumpuk dalam lemari puisi.
Berkonsentrasi membaca sajak.
Ya, sajak-sajak yang tak mereka mengerti,
sajak-sajak yang terpaksa dihayati,
sajak-sajak yang tak mereka kenal.
Apakah pura-pura ataukah memang suka bercumbu dengan sajak-sajak itu?
Di kertas lusuh ini,
yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Ku tulis kembali kata, tapi aku tak ingin menjadikannya kata,
Lalu ku ganti kalimat, tapi aku tak puas hanya kalimat itu saja,
Lalu ku tambah lagi, tambah lagi, dan terus ku tambah.
Di kertas lusuh ini,
Yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Yang berisi deretan kata-kata.
Inginkah mereka?
Melirik kertas lusuh yang telah ku muat kata-kata,
di dalamnya berkobar api tempaan senjata penggempur benteng sajak.
Samarinda (smu negeri 11),
29 Januari 2010
Di kertas lusuh ini,
yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Berkelana dengan gempuran prajurit kata
siap menyerang benteng sajak berpagar aura mitos.
Senjata ditempa, besi-besi dilebur dalam kobaran api,
lalu dipukul berdenting memekakkan telinga, hati cakrawala sajak-sajak pinggiran.
Di kertas lusuh ini,
yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Bertumpuk-tumpuk dengan debu, ku tuliskan kembali kata yang tak berani ku katakan.
Di depan calon abdi bangsa,
yang tertunduk, menekuni setiap huruf yang mulai kabur dari sajak-sajak yang telah lama menumpuk dalam lemari puisi.
Berkonsentrasi membaca sajak.
Ya, sajak-sajak yang tak mereka mengerti,
sajak-sajak yang terpaksa dihayati,
sajak-sajak yang tak mereka kenal.
Apakah pura-pura ataukah memang suka bercumbu dengan sajak-sajak itu?
Di kertas lusuh ini,
yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Ku tulis kembali kata, tapi aku tak ingin menjadikannya kata,
Lalu ku ganti kalimat, tapi aku tak puas hanya kalimat itu saja,
Lalu ku tambah lagi, tambah lagi, dan terus ku tambah.
Di kertas lusuh ini,
Yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Yang berisi deretan kata-kata.
Inginkah mereka?
Melirik kertas lusuh yang telah ku muat kata-kata,
di dalamnya berkobar api tempaan senjata penggempur benteng sajak.
Samarinda (smu negeri 11),
29 Januari 2010
Layar-layar Cinta
Malamku kini enggan tidur seperti biasanya,
bayang-bayang rrembulan menyatu dalam jiwa merindu,
menangkap kerling mata Sang Pencinta,
merenung dalam pangkuan Sang Pujangga.
Siangku kini enggan melangkah bersamanya,
gelombang terik membekukan jiwa syahdu,
menekan ego sayap-sayap Sang Cakrawala,
menatap sunyi wajah Sang Arjuna.
Soreku kini enggan merayu dirinya,
bidadari yang lama nurani menyatu,
membisikkan damai dalam relung Sang Brahmana,
memuja kata Sang Penyapa.
Senjaku kini terbaring menatap hati,
menunggu secercah buaian kekasih-Nya.
Samarinda (Kampus), 26 Maret 2010
bayang-bayang rrembulan menyatu dalam jiwa merindu,
menangkap kerling mata Sang Pencinta,
merenung dalam pangkuan Sang Pujangga.
Siangku kini enggan melangkah bersamanya,
gelombang terik membekukan jiwa syahdu,
menekan ego sayap-sayap Sang Cakrawala,
menatap sunyi wajah Sang Arjuna.
Soreku kini enggan merayu dirinya,
bidadari yang lama nurani menyatu,
membisikkan damai dalam relung Sang Brahmana,
memuja kata Sang Penyapa.
Senjaku kini terbaring menatap hati,
menunggu secercah buaian kekasih-Nya.
Samarinda (Kampus), 26 Maret 2010
Pujangga, Pangeran, dan Pemuja
Didedikasikan untuk Para Pecinta Yang Hatinya Tak Pernah Merasakan Cinta.
Malam-malam membayangi siang.
Siang hanya termenung menanti Sang Bidadari.
Senyumnya mulai terlihat kini, senyum yang lama membeku.
kerling mata, gemulai tubuh, berurai deburan gelombang cinta suci,
cinta yang lama membisu.
Pujangga
kata-kata bertebaran memercikkan kehangatan,
kehangatan yang dinanti para pecinta.
Nurani berperang mempertahankan benteng Qalbunya.
menahan serangan rayuan Sang Pujangga.
Pangeran
Titah sang paduka adalah kehormatanku.
Dayang-dayang mengerlingkan matanya,
melambaikan senyum-senyum nakalnya,
melenggak-lenggokkan tubuhnya,
memikat hati Sang Pangeran.
Pemuja
Hatinya berderai memandang kekasih merindu.
luapan air mata menyucikan jiwa-jiwa kering pecinta.
bermuara dalam Sungai Cinta Sang Nabi.
Cinta buih kepada gelombang.
Cinta debu kepada angin.
Cinta hamba kepada Sang Pencipta.
semuanya menjadi Pemuja.
Sang Pujangga Cinta,
Sang Pangeran Cinta,
Sang Pemuja Cinta.
Cinta Pujangga, Cinta Pangeran, Cinta Pemuja
Kepada Sang Pencipta.
Samudera Cinta, 17 Maret 2010
Malam-malam membayangi siang.
Siang hanya termenung menanti Sang Bidadari.
Senyumnya mulai terlihat kini, senyum yang lama membeku.
kerling mata, gemulai tubuh, berurai deburan gelombang cinta suci,
cinta yang lama membisu.
Pujangga
kata-kata bertebaran memercikkan kehangatan,
kehangatan yang dinanti para pecinta.
Nurani berperang mempertahankan benteng Qalbunya.
menahan serangan rayuan Sang Pujangga.
Pangeran
Titah sang paduka adalah kehormatanku.
Dayang-dayang mengerlingkan matanya,
melambaikan senyum-senyum nakalnya,
melenggak-lenggokkan tubuhnya,
memikat hati Sang Pangeran.
Pemuja
Hatinya berderai memandang kekasih merindu.
luapan air mata menyucikan jiwa-jiwa kering pecinta.
bermuara dalam Sungai Cinta Sang Nabi.
Cinta buih kepada gelombang.
Cinta debu kepada angin.
Cinta hamba kepada Sang Pencipta.
semuanya menjadi Pemuja.
Sang Pujangga Cinta,
Sang Pangeran Cinta,
Sang Pemuja Cinta.
Cinta Pujangga, Cinta Pangeran, Cinta Pemuja
Kepada Sang Pencipta.
Samudera Cinta, 17 Maret 2010
Senyumku Untukmu
senyum pertamaku pagi ini menyapa puisi hatimu. menerbangkan angan ke masa itu.
ketika kristal bening mengalir di sungai wajahmu.
menemukan sisi lembayung senja.
anganku pun memaksa merasuk jiwa sepimu, berkelakar senyum sang pangeran mimpi.
sebaris senyum harap, coba ku bendung dari sungai-sungai harapan.... Lihat Selengkapnya
ku basuh hatimu dari luka-luka dunia.
ku basuh hatimu dari keramaian dunia.
ku basuh hatimu dari kesepian dunia.
ku basuh hatimu dari kejahatan dunia.
ku basuh hatimu dari gelap gulita dunia.
ku basuh hatimu dari imajinasi liar dunia.
merangkak, tertatih berjalan, kemudian berlari menuju harap
dan angan.
Samarinda (Kampus), 28 Februari 2010.
ketika kristal bening mengalir di sungai wajahmu.
menemukan sisi lembayung senja.
anganku pun memaksa merasuk jiwa sepimu, berkelakar senyum sang pangeran mimpi.
sebaris senyum harap, coba ku bendung dari sungai-sungai harapan.... Lihat Selengkapnya
ku basuh hatimu dari luka-luka dunia.
ku basuh hatimu dari keramaian dunia.
ku basuh hatimu dari kesepian dunia.
ku basuh hatimu dari kejahatan dunia.
ku basuh hatimu dari gelap gulita dunia.
ku basuh hatimu dari imajinasi liar dunia.
merangkak, tertatih berjalan, kemudian berlari menuju harap
dan angan.
Samarinda (Kampus), 28 Februari 2010.
Sabtu, 12 Desember 2009
Pangeran Mencari Cinta
Dunia ini penuh dengan cinta, namun tidak semua mendapatkan cinta. pada kehidupan fisik banyak orang yang saling mencintai dalam bentuk hubungan lawan jenis. banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan cinta, seperti : pacaran, menikah, dan lain-lain. Menikah adalah cara yang terbaik. namun tidak semua orang dapat menikah begitu saja. ada beberapa persayaratan yang harus dilalui sebelum melakukan proses pernikahan. Namun , itu semua bisa dilalui bagi mereka yang telah siap.
Urusan cinta memang tidaklah gampang. banyak sekali permasalahan tentang cinta. Pertanyaannya adalah apakah cinta hanya terbatas pada hubungan lawan jenis. sebagian orang mendefinisikan cinta yang hakiki adalah cinta kepada Sang Pencipta. Ini yang harus kita cari tahu! temukan cintamu wahai Sang Pangeran, Cinta yang sejati.
Urusan cinta memang tidaklah gampang. banyak sekali permasalahan tentang cinta. Pertanyaannya adalah apakah cinta hanya terbatas pada hubungan lawan jenis. sebagian orang mendefinisikan cinta yang hakiki adalah cinta kepada Sang Pencipta. Ini yang harus kita cari tahu! temukan cintamu wahai Sang Pangeran, Cinta yang sejati.
Pangeran Ganteng
akhir-akhir ini, aku merasa bahwa diriku sedang murung. Pangeran yang dulu periang cenderung diam dan tak bersemangat. entah apa yang terjadi. namun, hatiku ingin selalu riang bersama seluruh alam. Terkadang kata "Pangeran Ganteng" tidak lagi ku rasakan auranya. banyak persoalan yang ku alami, sehingga membuatku hanya bisa diam. rakyatku hanya bisa menatap wajah seriusku yang penuh dengan kemarahan, mereka jarang melihatku tersenyum. sebenarnya aku sangat ingin tersenyum. tersenyum yang tulus untuk mereka. yaaaa....mereka semua. orang-orang yang menganggapku baik, ganteng, sopan, santun, terlebih lagi untuk mereka yang membenciku, bosan, jenuh, namun tak pernah terucapkan lewat kata-kata. telingaku yang mendengar kepedihan dan penderitaan mereka akibat diriku.
Langganan:
Postingan (Atom)