Selasa, 12 Oktober 2010

Bekesahan aja lah....!

Wajahku tak mampu ku angkat lagi… pesonamu membuatku hilang akal. Hanya mata hatiku yang tetap tegar menatapmu. Meski dirimu, seakan-akan menjauh. Pusaran katulistiwa menjejal kepalaku dengan kepenatan yang semakin lama semakin bertumpuk memenuhi pikiranku. Ada sebuah pilihan yang harus ku terima, baik diriku atau dirinya. Aku hanya tersenyum seorang diri menanti satu titik terang di sudut waktu. Berkelana dalam kegelapan. Terlempar dalam lembah yang dalam. Terpekur dalam alunan rayuannya, lalu terdiam membisu. Ingin ku katakan segera, namun entah mengapa hatiku sulit untuk mengatakannya.

Rabu, 18 Agustus 2010

Semangat Sang Pencinta

Pagi ini, hujan mengguyur kota di mana diriku berdomisili. Samarinda, itulah kotaku. Banyak hal yang ku rasakan pagi ini. Badanku terasa lelah, entah karena apa. jika berbicara tentang istirahat, aku pikir sudah lebih dari cukup. Aku harus keluar dari kepenatan ini. Sebuah kata yang memberikan inspirasi bagiku dan mungkin juga orang lain adalah " Semangat ".

Semangat menggerakkan diriku untuk terus menampilkan yang terbaik, meski aku sadar tidak selamanya aku bisa menampilkan yang terbaik dalam kehidupanku. rintangan demi rintangan menghadang jalanku. Hari ini aku ingin bercerita kepada semua orang di dunia tentang cinta dalam hidupku. Bannyak orang merasakan manisnya cinta, namun banyak juga yang merasakan pahitnya cinta.

Cinta bagiku memberikan kekuatan yang dahsyat yang tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang tak pernah merasakan cinta. sebuah kekuatan yang mampu menggerakkan setiap jiwa menuju ke kekasihnya mengalahkan jutaan rintangan kehidupan.

Berkenaan dengan cinta, Ternyata diriku diberikan posisi sebagai seseorang yang menjadi pusat perhatian. Namun, tidak setiap cinta bisa kita dapatkan secara sempurna. Tatkala diriku suka, maka aku tak berani mengungkapnya. ketika orang lain suka, maka diriku yang tidak mendapatkan semangat cinta yang diberikannya. Aku mulai memahamkan ke diriku bahwa Cinta memang tidak bisa dipaksakan.

Sebagian kawan-kawanku mengatakan diriku sebagai Flamboyan yang selalu menebar wanginya pesona cinta ke setiap wanita. Namun, aku bingung harus beralasan dengan apa. Ketika diriku hanya ingin memberikan keramahan diriku kepadanya, mereka memberikan cintanya untukku. Apa yang salah di sini. keramahan yang hadir dalam tuturanku. Cinta yang hadir di hati mereka. Semuanya datang daripada kuasa yang tak mungkin bisa dicapai makhluk. Kuasa Sang Pencipta. Yang menciptakan cinta, Yang menciptakan keramahan pada makhluk-Nya.

Mari kita merenung sejenak,


Tatkala cinta menghampiri jiwa manusia, banyak yang bahagia karenanya. senyumnya merekah. Tingkahnya pun lain dari kebiasaannya. terkadang senyum-senyum sendiri. terkadang mengalami kerinduan yang mendalam pada kekasihnya. Berbagai aktivitas dilakukan dengan rela, tak ada gerutu, tak ada amarah, tak ada benci, tak ada gelisah. Hanya ketenangan yang menyelimuti jiwanya yang suci.

Jika kita mengingat ini dalam diri kita, akankah kita menganggap cinta kejam dan jahat ataukah diri kita yang jahat karena telah merusak kemurnian dan ketulusannya. masihkan diri kita merasakan cinta Sang Pencipta Cinta? Pertanyaan demi pertanyaan akan memburu kita untuk mengetahui makna dari cinta yang sebenarnya.

Cinta tak mengenal rasa sakit, namun keterbatasan ridho manusia membuat jiwa sakit.
Cinta tak mengenal amarah, namun keterbatasan sabar manusia membuatnya meledak.
Cinta tak mengenal dendam, namun keterbatasan hati yang sempit membuatnya terhimpit.
Cinta tak mengenal kecewa, namun keterbatasan ikhlas membuatnya merana.

Cinta yang seperti apa yang kita rasakan saat ini?

Jumat, 13 Agustus 2010

Pangeran dan Bidadari

Tersenyumlah Bidadariku, Di saat engkau menatap senyumku untukmu.
Rizal Effendy panga

Sang malam memintaku, menemaninya malam ini.
Bersenda gurau dengannya.
Entah apa pikirnya?

Sebuah kisah Pangeran dan bidadari, katanya:
Tatapan keheningan memendar cahaya sunyi bintang-bintang.
Berkelebat dua senyum pada bintang dan rembulan,
memadu kasih di keremangan malam,
membiarkan kumbang-kumbang terlelap,
dan mendengkur tanpa ada tanya.

Sebuah kisah Pangeran dan Bidadari, katanya:
Cendawan hutan menutup lukanya, Singa berlalu tanpa auman.
Senyum itu tersenyum pada kawah-kawah nurani.
Gelombang bidadari menghampiri pokok-pokok cemara.
Menari dan tertawa dalam pusaran waktu-waktu senja, ketika
sepasang merpati terbang menembus selaput imajinasi.

Sebuah kisah Pangeran dan Bidadari, katanya:
Mentari cemburu, menatap malu-malu
Mempesona sang mimpi, merekah lenyapkan bulir-bulir angkara.
Terpaku aku dalam matamu, tertawa aku dalam pelukmu,
Dan tersipu aku dalam tatapmu.
Bermula pesan mencari mula-mula harapan.

Sebuah kisah pangeran dan Bidadari, katanya:
Angin berkelakar kepada langit, melambai awan putih.
Jemarinya mulai bergerak, menarikan tarian bayu.
Kakinya mulai berdetak menyungging senyum itu.
Senyum yang lama ku tunggu, senyum lekukan bibir merahmu.
Ketika raga ini hanya terpaku.

Sebuah kisah pangeran dan bidadari, katanya:
Tanah hanya termenung diam, mengintip malu-malu pesona
Bidadari mengitari taman-taman hatiku. Membentuk mahligai pelangi.
Kamar-kamar pualam terhampar, hiasi pesona semesta.
Kicauan burung, aliran air, desiran angin, hijau rerumputan, sinar mentari,
Bersidang menyambut sang Pujaan Hati.

Sebuah kisah pangeran dan bidadari, katanya!

Minggu, 30 Mei 2010

Bidadariku, Akankah Kau ingat lagi, meski diriku tak bersamamu lagi.

Ku mulai menulis dengan nama Allah agar tulisan ini mengalir dari hatiku bukan karena keinginan nafsu belaka. Semoga hatiku dan hatimu terlepas dari rasa untuk menyalahkan Allah atas semua yang terjadi di antara kita. Maha Suci Allah dari pada keburukan perangai hambanya.
Suara Hati berirama memandang Sang Pencipta, memohon sebuah petunjuk-Nya yang memberikan kelapangan di dada tanpa amarah. Berkelebat kesunyian memenuhi ruang-ruang sepiku selama kurang lebih 30 hari yang ditentukan. Ku cari petunjuk dari lamunan dan doaku. Ku cari pula senyum-senyum kekasih-Nya yang membimbingku menghadapkan hatiku dan wajahku dalam pancaran kasih sayang-Nya.
Kuhindarkan diriku dari keinginan-keinginan yang membelenggu jiwaku. Keresahan demi keresahan ku rasakan. Langit menekanku dengan kuasanya, bumi menggoyangkan pijakanku, badai menerbangkan jiwaku yang entah harus berpegang pada siapa. Namun hatiku ku biarkan untuk menelusuri hingga hari yang ditentukan. Ketika hari itu tiba, keresahan itu semakin menjadi, ingin ku katakan segera, namun lidahku kelu untuk mengatakannya. Menjadi seorang yang bertanggung jawab, namun kepekaanku menahannya untuk berkata. Lukaku kini terlihat. Perangaiku kini terkelupas dari kulit yang membungkusnya dengan rapi.
Seorang perempuan yang memberi pesonanya pada hatiku. Entah mengapa ketika bibirku berucap dengan nama-Nya begitu mengaguminya, namun saat kehendak-Nya mempertemukan hambanya yang lemah hatinya ini, Kuasa-Nya membalikkan hatiku darinya.
Hari ini, ku tulis catatan kecil ini, sebagai jawaban dari pertanyaan orang yang sangat menyayangiku. Sebuah jawaban yang enggan ku tulis dalam untaian kata, namun diriku pun tak kuasa membiarkan dirinya dalam penantian yang panjang. Sesungguhnya ingin ku biarkan deru-deru hatiku beterbangan memenuhi alam raya dan melayang ke pangkuannya tanpa serpihan kata-kata yang terbaca semesta.
Kehendak diriku, ingin memaksa hati ini untuk memenuhi harapan hatinya. Hari demi hari kupaksa diriku lebih keras, namun semakin keras ku paksa hatiku mengingatkan diriku yang lemah ini kepada sebuah ketidaktulusan. Ku hentikan sejenak, ku biarkan hatiku beristirahat dalam senyum sang mentari di kala pagi, dan tertidur pulas dalam pangkuan sang malam. Namun hari yang ditentukan, terus mengusik hatiku, bercanda, dan memperolok-olok diriku yang tak punya keberanian. Ingin ku sampaikan suara hatiku ketika itu, namun hatiku saat itu sedang berperang menghadapi sebuah pilihan.
Diriku yakin, sebenarnya ia siap menerima apa pun. Tapi menjadi penentu dalam pengambilan keputusan menjadi dilema yang besar. Sebuah keputusan pasti menimbulkan dua tanggapan yang berbeda. Ia menyerahkan sepenuhnya pada diriku, namun diriku berharap dia yang memberikan putusan. Diriku yang berbuat, lantas mengapa diriku juga yang harus menjadi hakim. Hakim yang menentukan hati seseorang. Tak layak diriku menjadi hakim yang menjatuhkan putusan kepada orang lain, sementara diriku yang berbuat yang menjadi awal sebuah perkara.
Ku bersihkan diriku dalam basuhan suci, lalu ku tengadahkan wajahku ke wajah-Nya Yang Agung. Ku serahkan keputusan ini pada-Nya yang disuarakan melalui hatiku yang sering lupa pada-Nya. Ku jawab dengan lirih pertanyaan itu dengan kalimat-kalimat hatiku yang penuh cela, “Aku menyayangimu, namun aku tak ingin membiarkan ketidaktulusan dalam hatiku. Bukan karena kekuranganmu, tapi karena buruknya perangaiku. Maafkan diriku dunia dan akhirat. Besar harapan hatiku untuk memohon keridhoan dari hatimu yang terluka karena diriku. Bidadariku, Akankah kau ingat lagi diriku! meski diriku tak bersama dirimu. “

Jumat, 16 April 2010

Euphoria Keadilan Ku

Semua mata di dunia menatap Sang Terdakwa.
Matanya memerah menahan amarah,
Menghujam di dada yang terkulai lemas, dada kematian keadilan.

Sang Hakim berkata,
“Apakah anda tahu mengapa Anda berada di sini?”

Sang Terdakwa lirih,
“Tubuhku yang terkulai ini tahu mengapa aku berada di sini.”

Sang Hakim melanjutkan sidang dan berkata lagi,
“Apakah Saudara tahu, jika matahari tetaplah menjadi matahari, dan tanah tetaplah menjadi tanah?”


Februari 2010

Sang terdakwa hanya bisa menghembuskan nafasnya dan hanya diam.

“Katakan padaku, kenapa hanya diam,” hardik Sang Hakim.

Kata di Selembar Kertas Lusuh

Ku tulis sebuah horizon baru

Di kertas lusuh ini,
yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Berkelana dengan gempuran prajurit kata
siap menyerang benteng sajak berpagar aura mitos.
Senjata ditempa, besi-besi dilebur dalam kobaran api,
lalu dipukul berdenting memekakkan telinga, hati cakrawala sajak-sajak pinggiran.

Di kertas lusuh ini,
yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Bertumpuk-tumpuk dengan debu, ku tuliskan kembali kata yang tak berani ku katakan.
Di depan calon abdi bangsa,
yang tertunduk, menekuni setiap huruf yang mulai kabur dari sajak-sajak yang telah lama menumpuk dalam lemari puisi.
Berkonsentrasi membaca sajak.
Ya, sajak-sajak yang tak mereka mengerti,
sajak-sajak yang terpaksa dihayati,
sajak-sajak yang tak mereka kenal.
Apakah pura-pura ataukah memang suka bercumbu dengan sajak-sajak itu?

Di kertas lusuh ini,
yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Ku tulis kembali kata, tapi aku tak ingin menjadikannya kata,
Lalu ku ganti kalimat, tapi aku tak puas hanya kalimat itu saja,
Lalu ku tambah lagi, tambah lagi, dan terus ku tambah.

Di kertas lusuh ini,
Yang ku temukan di laci kerja, pagi ini.
Yang berisi deretan kata-kata.
Inginkah mereka?
Melirik kertas lusuh yang telah ku muat kata-kata,
di dalamnya berkobar api tempaan senjata penggempur benteng sajak.


Samarinda (smu negeri 11),
29 Januari 2010

Layar-layar Cinta

Malamku kini enggan tidur seperti biasanya,
bayang-bayang rrembulan menyatu dalam jiwa merindu,
menangkap kerling mata Sang Pencinta,
merenung dalam pangkuan Sang Pujangga.

Siangku kini enggan melangkah bersamanya,
gelombang terik membekukan jiwa syahdu,
menekan ego sayap-sayap Sang Cakrawala,
menatap sunyi wajah Sang Arjuna.

Soreku kini enggan merayu dirinya,
bidadari yang lama nurani menyatu,
membisikkan damai dalam relung Sang Brahmana,
memuja kata Sang Penyapa.

Senjaku kini terbaring menatap hati,
menunggu secercah buaian kekasih-Nya.

Samarinda (Kampus), 26 Maret 2010
silahkan tempatkan kode iklan, banner atau teks disini