Dunia ini penuh dengan cinta, namun tidak semua mendapatkan cinta. pada kehidupan fisik banyak orang yang saling mencintai dalam bentuk hubungan lawan jenis. banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan cinta, seperti : pacaran, menikah, dan lain-lain. Menikah adalah cara yang terbaik. namun tidak semua orang dapat menikah begitu saja. ada beberapa persayaratan yang harus dilalui sebelum melakukan proses pernikahan. Namun , itu semua bisa dilalui bagi mereka yang telah siap.
Urusan cinta memang tidaklah gampang. banyak sekali permasalahan tentang cinta. Pertanyaannya adalah apakah cinta hanya terbatas pada hubungan lawan jenis. sebagian orang mendefinisikan cinta yang hakiki adalah cinta kepada Sang Pencipta. Ini yang harus kita cari tahu! temukan cintamu wahai Sang Pangeran, Cinta yang sejati.
Sabtu, 12 Desember 2009
Pangeran Ganteng
akhir-akhir ini, aku merasa bahwa diriku sedang murung. Pangeran yang dulu periang cenderung diam dan tak bersemangat. entah apa yang terjadi. namun, hatiku ingin selalu riang bersama seluruh alam. Terkadang kata "Pangeran Ganteng" tidak lagi ku rasakan auranya. banyak persoalan yang ku alami, sehingga membuatku hanya bisa diam. rakyatku hanya bisa menatap wajah seriusku yang penuh dengan kemarahan, mereka jarang melihatku tersenyum. sebenarnya aku sangat ingin tersenyum. tersenyum yang tulus untuk mereka. yaaaa....mereka semua. orang-orang yang menganggapku baik, ganteng, sopan, santun, terlebih lagi untuk mereka yang membenciku, bosan, jenuh, namun tak pernah terucapkan lewat kata-kata. telingaku yang mendengar kepedihan dan penderitaan mereka akibat diriku.
Rabu, 09 Desember 2009
Tik-tik Bunyinya
titik-titik turun menitik menyambar senyum-senyum puitik.
itik-itik mengelitik dunia yang semakin antik.
pemuda itu beralas tikar-tikar artistik.
memacu nafasnya yang tinggal sedetik.
tertawa tergelitik, menggelitik dunia yang semakin antik dan artistik!
itik-itik mengelitik dunia yang semakin antik.
pemuda itu beralas tikar-tikar artistik.
memacu nafasnya yang tinggal sedetik.
tertawa tergelitik, menggelitik dunia yang semakin antik dan artistik!
Senin, 07 Desember 2009
Play Boy
Mereka pernah tau, aku bukanlah seorang yang mampu mengetahui semua isi hatimu. banyak orang mengatakan diriku sebagai seorang play boy. ya...play boy. sebuah ungkapan yang diperuntukkan bagi mereka yang sering gonta-ganti pacar. namun, aku merasa tidak berganti-ganti pacar. bahkan, aku lebih suka sendiri dengan niatan tidak ingin menyakiti hati perempuan yang mencintaiku.
Namun, entah mengapa? karena sikapku, banyak perempuan yang suka padaku. aku tak mungkin menerima semuanya sebagai pacarku. aku lebih memilih untuk sendiri. kesendirianku terkadang meminta kehadiran seorang peremuan. kegelisahan ini hingga kini ku rasakan. Namun, walaupun aku sendiri, teman-temanku selalu memberikan label Play Boy itu. bahkan, yang lebih membuatku sedih sebagian atasan di tempatku bekerja, mereka pun memberikan label yang sama. Ya.....Play Boy. Meski, aku tak menginginkan gelar itu?
Namun, entah mengapa? karena sikapku, banyak perempuan yang suka padaku. aku tak mungkin menerima semuanya sebagai pacarku. aku lebih memilih untuk sendiri. kesendirianku terkadang meminta kehadiran seorang peremuan. kegelisahan ini hingga kini ku rasakan. Namun, walaupun aku sendiri, teman-temanku selalu memberikan label Play Boy itu. bahkan, yang lebih membuatku sedih sebagian atasan di tempatku bekerja, mereka pun memberikan label yang sama. Ya.....Play Boy. Meski, aku tak menginginkan gelar itu?
Jumat, 04 Desember 2009
Dua Puncak Gunung
Empat laki-laki menantang maut di atas puncak gunung.
kaget melihat bayang-bayang yang tak pernah dilihat sebelumnya.
ingin berbicara sebenarnya, tapi sudah tak mampu berkata.
dua terpental menabrak kaca, satu tersungkur membumi,
dan satu terjepit oleh si muka dan si belakang.
Alam berteriak, darah mengucur membasahi bumi, tulang-tulang patah remuk.
semua histeris, berkelana dalam dering-dering ambulan,
terkapar dalam ruang-ruang yang sudah mulai gelap.
Jam delapan malam hari satu lelaki itu berjuang mempertahankan nafasnya,
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Jam sembilan malam hari satu lelaki kaget, nafasnya juga beradu sesak,
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Jam sebelas lewat tiga puluh menit satu lelaki pun hendak mengurung nafasnya dalam dada sesaknya, namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Sementara, satu lelaki harus menahan perih yang meremukkan tulang-tulangnya, terdiam, lesu dalam sesal.
Dua sudah kembali kepada-Nya, Satu entah bagaimana kabarnya, dan satu lagi terbaring menahan semua sisa-sisa kisah dua puncak gunung.
kaget melihat bayang-bayang yang tak pernah dilihat sebelumnya.
ingin berbicara sebenarnya, tapi sudah tak mampu berkata.
dua terpental menabrak kaca, satu tersungkur membumi,
dan satu terjepit oleh si muka dan si belakang.
Alam berteriak, darah mengucur membasahi bumi, tulang-tulang patah remuk.
semua histeris, berkelana dalam dering-dering ambulan,
terkapar dalam ruang-ruang yang sudah mulai gelap.
Jam delapan malam hari satu lelaki itu berjuang mempertahankan nafasnya,
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Jam sembilan malam hari satu lelaki kaget, nafasnya juga beradu sesak,
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Jam sebelas lewat tiga puluh menit satu lelaki pun hendak mengurung nafasnya dalam dada sesaknya, namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Sementara, satu lelaki harus menahan perih yang meremukkan tulang-tulangnya, terdiam, lesu dalam sesal.
Dua sudah kembali kepada-Nya, Satu entah bagaimana kabarnya, dan satu lagi terbaring menahan semua sisa-sisa kisah dua puncak gunung.
Sabtu, 21 November 2009
Untuk Mereka Yang Tak Berani Mengungkapkan Cintanya
Darahku bergejolak mengalir menuju ubun-ubunku. tubuhku semakin memerah, perasaanku gelisah, sungai-sungai di dalam tubuhku mulai merembes di wajahku, tetes demi tetes jatuh ke bumi. pesona pandangannya menembus jiwaku, berdiam sejenak, lalu melesat pergi meninggalakan kenangan yang membuat seluruh sendi-sendiku bergetar. kakiku enggan melangkah menghampirinya.
Perlahan ku tenangkan diriku, namun entah mengapa aku tak berdaya. ia berlalu begitu saja, dengan senyum di wajahnya. meninggalkanku dalam kekosongan yang semakin menyesakkan. lidahku hari ini berpuasa, tak ingin berbuka.
ku lihat ke bawah, tujuh petala bumi mengejekku.
ku lihat ke atas, tujuh lapis langit tertawa sinis padaku.
ku lihat ke kanan, angin tak mau menyampaikan hasratku.
ku lihat ke kiri, dunia menjebakku dalam angan-angannya.
tubuhku ku biarkan kaku, ku pasrahkah diriku, menatap Pemilik Cinta.
ternyata cintaku hanyalah setitik noda di tengah samudra?
Perlahan ku tenangkan diriku, namun entah mengapa aku tak berdaya. ia berlalu begitu saja, dengan senyum di wajahnya. meninggalkanku dalam kekosongan yang semakin menyesakkan. lidahku hari ini berpuasa, tak ingin berbuka.
ku lihat ke bawah, tujuh petala bumi mengejekku.
ku lihat ke atas, tujuh lapis langit tertawa sinis padaku.
ku lihat ke kanan, angin tak mau menyampaikan hasratku.
ku lihat ke kiri, dunia menjebakku dalam angan-angannya.
tubuhku ku biarkan kaku, ku pasrahkah diriku, menatap Pemilik Cinta.
ternyata cintaku hanyalah setitik noda di tengah samudra?
Senin, 16 November 2009
Sekuntum Duri Pendidikan
Kapal pesiar politik menggetarkan sampan pendidikan.
bertarung dengan gelombang menjaga keseimbangan.
berkelana dalam arus.
bersarang dalam otak-otak yang aku pun tak pernah mengenalnya.
Aku hanya mengenalnya lewat layar kaca di ruang tengah rumahku.
aku juga mengenalnya lewat obrolan para pedidik yang tak tahu arah.
ku jalani dunia ini, lewat diam di mulutku, lewat sorot tajam mataku,
Aku hanya bisa berkata dalam hatiku:
mereka hanya tahu apa yang masuk ke dalam perut mereka.
mereka........................mereka?
bertarung dengan gelombang menjaga keseimbangan.
berkelana dalam arus.
bersarang dalam otak-otak yang aku pun tak pernah mengenalnya.
Aku hanya mengenalnya lewat layar kaca di ruang tengah rumahku.
aku juga mengenalnya lewat obrolan para pedidik yang tak tahu arah.
ku jalani dunia ini, lewat diam di mulutku, lewat sorot tajam mataku,
Aku hanya bisa berkata dalam hatiku:
mereka hanya tahu apa yang masuk ke dalam perut mereka.
mereka........................mereka?
Langganan:
Postingan (Atom)