titik-titik turun menitik menyambar senyum-senyum puitik.
itik-itik mengelitik dunia yang semakin antik.
pemuda itu beralas tikar-tikar artistik.
memacu nafasnya yang tinggal sedetik.
tertawa tergelitik, menggelitik dunia yang semakin antik dan artistik!
Rabu, 09 Desember 2009
Senin, 07 Desember 2009
Play Boy
Mereka pernah tau, aku bukanlah seorang yang mampu mengetahui semua isi hatimu. banyak orang mengatakan diriku sebagai seorang play boy. ya...play boy. sebuah ungkapan yang diperuntukkan bagi mereka yang sering gonta-ganti pacar. namun, aku merasa tidak berganti-ganti pacar. bahkan, aku lebih suka sendiri dengan niatan tidak ingin menyakiti hati perempuan yang mencintaiku.
Namun, entah mengapa? karena sikapku, banyak perempuan yang suka padaku. aku tak mungkin menerima semuanya sebagai pacarku. aku lebih memilih untuk sendiri. kesendirianku terkadang meminta kehadiran seorang peremuan. kegelisahan ini hingga kini ku rasakan. Namun, walaupun aku sendiri, teman-temanku selalu memberikan label Play Boy itu. bahkan, yang lebih membuatku sedih sebagian atasan di tempatku bekerja, mereka pun memberikan label yang sama. Ya.....Play Boy. Meski, aku tak menginginkan gelar itu?
Namun, entah mengapa? karena sikapku, banyak perempuan yang suka padaku. aku tak mungkin menerima semuanya sebagai pacarku. aku lebih memilih untuk sendiri. kesendirianku terkadang meminta kehadiran seorang peremuan. kegelisahan ini hingga kini ku rasakan. Namun, walaupun aku sendiri, teman-temanku selalu memberikan label Play Boy itu. bahkan, yang lebih membuatku sedih sebagian atasan di tempatku bekerja, mereka pun memberikan label yang sama. Ya.....Play Boy. Meski, aku tak menginginkan gelar itu?
Jumat, 04 Desember 2009
Dua Puncak Gunung
Empat laki-laki menantang maut di atas puncak gunung.
kaget melihat bayang-bayang yang tak pernah dilihat sebelumnya.
ingin berbicara sebenarnya, tapi sudah tak mampu berkata.
dua terpental menabrak kaca, satu tersungkur membumi,
dan satu terjepit oleh si muka dan si belakang.
Alam berteriak, darah mengucur membasahi bumi, tulang-tulang patah remuk.
semua histeris, berkelana dalam dering-dering ambulan,
terkapar dalam ruang-ruang yang sudah mulai gelap.
Jam delapan malam hari satu lelaki itu berjuang mempertahankan nafasnya,
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Jam sembilan malam hari satu lelaki kaget, nafasnya juga beradu sesak,
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Jam sebelas lewat tiga puluh menit satu lelaki pun hendak mengurung nafasnya dalam dada sesaknya, namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Sementara, satu lelaki harus menahan perih yang meremukkan tulang-tulangnya, terdiam, lesu dalam sesal.
Dua sudah kembali kepada-Nya, Satu entah bagaimana kabarnya, dan satu lagi terbaring menahan semua sisa-sisa kisah dua puncak gunung.
kaget melihat bayang-bayang yang tak pernah dilihat sebelumnya.
ingin berbicara sebenarnya, tapi sudah tak mampu berkata.
dua terpental menabrak kaca, satu tersungkur membumi,
dan satu terjepit oleh si muka dan si belakang.
Alam berteriak, darah mengucur membasahi bumi, tulang-tulang patah remuk.
semua histeris, berkelana dalam dering-dering ambulan,
terkapar dalam ruang-ruang yang sudah mulai gelap.
Jam delapan malam hari satu lelaki itu berjuang mempertahankan nafasnya,
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Jam sembilan malam hari satu lelaki kaget, nafasnya juga beradu sesak,
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Jam sebelas lewat tiga puluh menit satu lelaki pun hendak mengurung nafasnya dalam dada sesaknya, namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
namun ia pun kalah, karena tak punya kuasa.
Sementara, satu lelaki harus menahan perih yang meremukkan tulang-tulangnya, terdiam, lesu dalam sesal.
Dua sudah kembali kepada-Nya, Satu entah bagaimana kabarnya, dan satu lagi terbaring menahan semua sisa-sisa kisah dua puncak gunung.
Sabtu, 21 November 2009
Untuk Mereka Yang Tak Berani Mengungkapkan Cintanya
Darahku bergejolak mengalir menuju ubun-ubunku. tubuhku semakin memerah, perasaanku gelisah, sungai-sungai di dalam tubuhku mulai merembes di wajahku, tetes demi tetes jatuh ke bumi. pesona pandangannya menembus jiwaku, berdiam sejenak, lalu melesat pergi meninggalakan kenangan yang membuat seluruh sendi-sendiku bergetar. kakiku enggan melangkah menghampirinya.
Perlahan ku tenangkan diriku, namun entah mengapa aku tak berdaya. ia berlalu begitu saja, dengan senyum di wajahnya. meninggalkanku dalam kekosongan yang semakin menyesakkan. lidahku hari ini berpuasa, tak ingin berbuka.
ku lihat ke bawah, tujuh petala bumi mengejekku.
ku lihat ke atas, tujuh lapis langit tertawa sinis padaku.
ku lihat ke kanan, angin tak mau menyampaikan hasratku.
ku lihat ke kiri, dunia menjebakku dalam angan-angannya.
tubuhku ku biarkan kaku, ku pasrahkah diriku, menatap Pemilik Cinta.
ternyata cintaku hanyalah setitik noda di tengah samudra?
Perlahan ku tenangkan diriku, namun entah mengapa aku tak berdaya. ia berlalu begitu saja, dengan senyum di wajahnya. meninggalkanku dalam kekosongan yang semakin menyesakkan. lidahku hari ini berpuasa, tak ingin berbuka.
ku lihat ke bawah, tujuh petala bumi mengejekku.
ku lihat ke atas, tujuh lapis langit tertawa sinis padaku.
ku lihat ke kanan, angin tak mau menyampaikan hasratku.
ku lihat ke kiri, dunia menjebakku dalam angan-angannya.
tubuhku ku biarkan kaku, ku pasrahkah diriku, menatap Pemilik Cinta.
ternyata cintaku hanyalah setitik noda di tengah samudra?
Senin, 16 November 2009
Sekuntum Duri Pendidikan
Kapal pesiar politik menggetarkan sampan pendidikan.
bertarung dengan gelombang menjaga keseimbangan.
berkelana dalam arus.
bersarang dalam otak-otak yang aku pun tak pernah mengenalnya.
Aku hanya mengenalnya lewat layar kaca di ruang tengah rumahku.
aku juga mengenalnya lewat obrolan para pedidik yang tak tahu arah.
ku jalani dunia ini, lewat diam di mulutku, lewat sorot tajam mataku,
Aku hanya bisa berkata dalam hatiku:
mereka hanya tahu apa yang masuk ke dalam perut mereka.
mereka........................mereka?
bertarung dengan gelombang menjaga keseimbangan.
berkelana dalam arus.
bersarang dalam otak-otak yang aku pun tak pernah mengenalnya.
Aku hanya mengenalnya lewat layar kaca di ruang tengah rumahku.
aku juga mengenalnya lewat obrolan para pedidik yang tak tahu arah.
ku jalani dunia ini, lewat diam di mulutku, lewat sorot tajam mataku,
Aku hanya bisa berkata dalam hatiku:
mereka hanya tahu apa yang masuk ke dalam perut mereka.
mereka........................mereka?
Jumat, 14 Agustus 2009
The Journey to Unfold the Path Inside the Yggdrassill Tree (Perjalanan Mengungkap Jalan di Pohon Yggdrassill)
Sepuluh abad setelah berdirinya pohon Yggdrassill diatas Midgard, tak ada lagi suku Elves yang tersisa. Kaum- kaum yang menyandang elemen- elemen kehidupanpun tak ada lagi yang tersisa. Kemajua perkembangan ras manusia sangat pesat hingga tersebar diseluruh Midgard. Kejadian runtuhnya tembok sihir seabad yang lalu hanya menjadi sebatas cerita penghantar tidur saja bagi segilintir orang. Manusia tak lagi percaya akan sihir yang menyebabkan punahnya ras lain selain manusia, tumbuhan, dan hewan.
Memasuki pertengahan abad ke-14, manusia menghapus logika magis menjadi sains. Berbekal ilmu pengetahuan alam manusia menggabungkan hasil ciptaan Tuhan dengan ciptaan mereka, Homonculus. Para saintis yang menggeluti bidang kimiawi disebut Alchemist, bidang biologi disebut Biochemist dan yang menggeluti ilmu sains dan magis, Creator. Pohon Yggdrassill, walau telah tenggelam kisah nyatanya dibalik genangan dongeng penghantar tidur, namun bagi para Creator, pohon ini jelas nyata.
Seorang Creator yang memiliki kemampuan intelegensi yang tinggi tampak sangat tertarik saat ia mendengar Proffesornya di Accademy of Science tentang pohon ini. Leezard Valeth, seorang pria yang amat disanjung para Proffesor yang pernah mengajarnya karena kepandaiannya dalam membaca dan menterjemahkan setiap huruf Rune kuno dalam kitab- kitab mantera kuno pada abad ke-12.
Dan, dari otak yang pandai dalam membaca aksara inilah kisah dari perjalanan ini dimulai.
Pada suatu malam saat Valeth melewati ruangan salah satu Proffesornya Laspuchin Berdoa ia mendengar percakapannya dengan Metheus Methyss yang sedang memperdebatkan tentang eksistensi dari pohon Yggdrassill.
“Tempat ini pasti ada ditanah para Viking bermukim, tanah dimana Odin menanam Jantung Ymir!” tegas Laspuchin.
“Tetapi tahukah engkau betapa mustahilnya menemukan tempat bermukim kaum barbar itu!? Begitu masuk tak akan bisa kembali!” pungkas Metheus.
“Kaum barbar? KAUM BARBAR KATAMU!? Viking adalah reinkarnasi dari para Aenferior Lenneth Valkyrie yang gugur saat Ragnarok, Book of Everlasting, buku ini adalah bukti nyata, catatan tulis tangan Belenus yang merupakan salah satu Aenferior Lenneth Valkyrie!” tegas Laspuchin bersikukuh dengan pendapatnya.
“Belenus katamu? Aku jadi mempertanyakan gelar proffesor yang kau dapat jika kau sudah tahu para Aenferior Lenneth Valkyrie adalah roh, jiwa orang mati yang aku yakin makhluk- makhuk transparan seperti itu tak akan bisa memegang benda- benda di Midgard yang keseluruhannya adalah benda- benda padat!” ketus Metheus datar.
“Kau Alchemist, hanya memikirkan antara benda padat, gas dan cair saja, senyawa atau apalah itu, pernahkah otak kimiamu itu mampu menjelaskan kejadian Ragnarok!? Adakah asam atau apa dalam pertempuran seribu tahun? Apakah Odin bertempur dengan Surt hanya memperebutkan tempat yang penuh dengan O2??” desak Laspuchin.
“Kau…”
“Maaf Proffesor saya menyela, suara anda berdua terdengar waktu saya melewati ruangan ini” sela Valeth tiba- tiba mengejutkan keduanya.
Keduanyapun terkejut dan tak menyangka kalau Valeth mendengar percakapan mereka. Valeth berjalan ketengah ruangan mendekati mereka.
“Sedari awal saya telaah dengan yang anda berdua debatkan, saya tak beranni lancang tetapi saya yakin anda berdua percaya dengan keberadaan pohon Yggdrassill” sergah Valeth.
“Oh Valeth, kau selalu diterima” sanjung Laspuchin.
Laspuchin lalu mempersilakan Valeth untuk duduk bersama mereka didalam ruangan itu.
“Nah, aku ingin kau utarakan dengan intelegensimu yang tinggi itu tentang masalah yang kami bicarakan?” desak Laspuchin.
“Sebelumnya bolehkah saya tahu apa akar masalah dari pertikaian anda berdua?” lanjut Valeth.
Laspuchin lalu menceritakan semuanya dari awal dan Valethpun menawarkan diri untuk menterjemaahkan seluruh buku dari Book of Everlasting. Keduanyapun setuju sekali dengan usul Valeth dan bersedia memberinya waktu hingga satu bulan.
Setelah lewat sebulan Valethpun mengumumkan hasil terjemaahan Book of Everlasting kepada kedua Proffesor itu. Keduanyapun puas, terutama Laspuchin yang girang sekali saat tahu bahwa lokasi pohon Yggdrassill itu benar- benar ada. Laspuchin bahkan bersedia mentanda tangani surat pengadaan ekspedisi untuk mencari tempat ini dengan dana Academy of Magic yang diminta oleh Valeth sendiri dengan alasan studi ilmiah.
Sebenarnya tak ada yang tahu dan menyangka sisi gelap Leezard Valeth. Selama ini intelegensinya yang tinggi telah membuat dirinya congkak hati, ia menganggap dirinya pastilah bukan manusia biasa. Saat membaca Book of Everlasting ia menemukan bahwa pohon Yggdrassill adalah tangga menuju Asgard dan Nifelheim. Inilah tujuan perjalanan ini, Leezard Valeth ingin membuktikan bahwa pendapatya yang menganggap dirinya adalah bagian dari dewa- dewi adalah benar.
Academy mendanainya besar sekali, hampir sama dengan dana membangun sebuah jembatan penghubung dua pulau. Ia bahkan dibekali dengan orang- orang untuk membantunya selama perjalanan karena menurut Book of Everlasting, Tanah dimana Ymir ditanam diatas Midgard dijaga oleh lisan- lisan yang tak mampu kami (manusia) pahami, suku itu sangatlah tidak dapat dimengerti baik bahasa maupun tingkah lakunya. Tentunya Valeth memerlukan bantuan untuk melewatinya.
Hari keberangkatanpun tiba, Valeth dan regu perjalanannyapun memulai petualangan yang bahkan Valeth sendiri tak tahu harus kemana. Tetapi, ia meyakini satu hal bahwa utara adalah arah dimana dunia bermula, maka ia menyarankan untuk pergi ke utara. Perjalanan yang tak mudah memang, rintangan- rintangan yang muncul dari makhluk- makhluk sihir sepanjang perjalanan semakin membuat Valeth yakin akan arah tujuannya.
Musim dingin telah mengunjungi daerah utara terlebih dahulu membuat regu Valeth sedikit kesulita dalam perjalanan menuju utara. Terkadang ada juga yang mendebat arah perjalanan mereka, tak jarang terjadi perkelahian karena masalah sepele. Dalam waktu satu bulan merekapun tampak yakin telah memasuki daerah utara, salju tebal dan badai yang tak lazim selalu saja menghalangi setiap langkah mereka. Tak sedikit orang- orang Valeth menyarankan untuk pulang saja atau menghentikan perjalanan itu, tetapi Valeth bersikeras untuk menemukan lokasi pohon itu dan menjajikan uang pembayaran yang lebih besar.
Walau begitu ada saja yang memilih pulang mereka adalah yang berfikir bahwa bayaran perjalanan ini tak sebanding dengan harga nyawa mereka. Pemberontakkan ini semakin berlanjut dari hari ke hari, semakin hari satu atau dua orang memutuskan untuk pulang dengan pesan yang sama untuk yang lain, nyawa kalian lebih berharga dari hal ini. Hingga akhirnya, regu penggiring Valethpu hanya tersisa 3 orang saja, mungkin mereka berfikir makin sedikit yang ikut, makin banyak yang akan mereka dapatkan.
Tiga hari tiga malam berusaha menembus badai aneh yang muncul tiba- tiba itu akhirnya hal ganjilpun disaksikan oleh mereka berempat. Sebuah desa kecil yang hangat, tampak damai tak terusik dan yang paling aneh desa itu tampak tak tersentuk seincipun oleh badai salju yang mereka berusaha tembus selama tiga hari ini.
Terpana oleh keadaan desa yang ditengahnya ada pilar yang luar biasa besar dan tinggi hingga tertutup embun atau awan, mereka tak menyadari beberapa makhluk bertelinga panjang sudah menodong mereka sejak tadi.
“Manusia, apa yang kalian lakukan disini!?” bentak salah satu makhluk itu.
Tersadar telah ditodong busur dan anak panah dari belakang Valeth dan regunya hanya bisa terkejut dan terpaku ditempat mereka berdiri saat itu. Tiga orang yang mengikuti Valeth memang tak mengerti dengan bahasa itu tetapi Valeth mengerti bahasa itu, bahasa rune kuno.
“Kami datang dari jauh, kami tersesat dalam badai!” kilah Valeth.
“Pembohong! Kalian manusia takkan bisa menipu kami kaum Elves! Kau yang bisa berbicara bahasa kami, kau mencari pohon Yggdrassill, mengaku saja!” desak Elves itu.
Mau tak mau Valeth mengaku dengan hanya sebuah anggukkan kecil. Kemampuan intelejensi Valeth yang sangat tinggi telah memahami tabiat asli para Elves yang diyakini telah punah selama ini, Elves bukannya punah, mereka hanya mengasingkan diri dari manusia yang sudah tak berfikir seperti manusia lagi. Saling bunuh hanya untuk kepentingan pribadi, saling bertengkar hanya untuk memenuhi nafsu duniawi, merusak alam dan mulai tak peduli pada sekitarnya.
“Pergi kalian! Apa yang kalian cari tak ada disini!” bentak salah seorang Elves yang masih menodong mereka dengan busur dan panah dari belakang.
“Kami yakin pohon itu ada disini! Badai dan makhluk- makhluk sihir yang muncul sepanjang perjalanan kemari bukanlah makhluk biasa yang kami lihat, jika bukan untuk menjaga jalur kemari lalu mengapa makhluk itu ada disana!?” kilah Valeth.
“Makhluk itu untuk menjauhkan kami dari manusia- manusia tamak sepertimu!”
“Berhenti memanggilku manusia!” bentak Valeth.
“Jika kau bukan manusia, lalu apa kau ini? Kalian makhluk ciptaan Dewi Frey tak seharusnya bersikap angkuh seperti ini!”
“Aku yakin aku salah satu penghuni Valhalla!” tegas Valeth.
“Hanya karena kau dianugerahi otak yang cerdas melebihi yang lain bukan berarti kau adalah salah satu dari penghuni Valhalla! Kau hanya manusia, ucapanmu barusan bila tak kau sadari dapat menggiringmu menuju tanah kesengsaraan Nifelheim! Pulanglah, yang kalian cari tak ada disini!”.
“Aku takkan pulang tanpa bukti yang jelas atas keyakinanku!” tegas Valeth bersikukuh dengan pendapatnya.
“Manusia angkuh, bila Lord Undien mendengar ucapanmu bisa saja ia cabut semua kepandaianmu dan kau akan menjadi seperti orang tolol yang hina!”
Valeth tampak tersinggung dengan peryataan ini, secepat yang ia bisa, ia mengeluarkan sebotol kaca penuh cairan kimia mematikan untuk dilemparkan kearah Elves dibelakangnya, tetapi para Elves lebih cepat. Sepuluh anak panah melesat menembus dada Valeth tanpa ia sempat sadari. Valeth tercegang disaat ajalnya ia melihat sisa orang- orangnya terbantai oleh para Elves dengan sangat tanpa belas kasih. Setelah itu pandangannya mulai gelap, lalu ia mulai tak dapat merasakan bagian- bagian tubuhnya, seakan ada sesuatu yang dingin sedang ditarik keluar dari ubun- ubunnya, saat rasa dingin itu sampai pada tenggorokkannya ia mendengar suara wanita yang sangat dingin, datar dan tanpa perasaan.
Kau manusia tamak dan angkuh, tempatmu adalah tanah tanpa harapan, tanah terlupakan, tanah penuh hina dan siksa, tanah yang terlupakan, Nifelheim.
“Benarkah aku manusia? Lalu siapakah engkau?”
Aku adalah Lenneth Valkyrie, satu dari tiga Dewi Norun yang menguasai takdir dan kematian setiap makhluk yag lahir dari tangan Dewi Frey dan mendapat izin hidup dari Lord Odin ayah para Dewa. Dan kau, jiwa yang mengalami kematian adalah makhluk yang lahir dari tangan Dewi Frey yang diberi satu keistimewaan yang memang dikaruniakan kepada setiap ciptaan, kau adalah murni manusia kecil yang congkak dan angkuh dengan karunia yang telah diberikan.
Saat tubuh Valeth terjerembab ketanah tak bernyawa, roh dirinya telah sampai pada sebuah tempat yang setiap orang enggan untuk memikirkan atau bahkan memimpikannya, sebuah tempat penuh kehampaan dan keputus asaan dari setiap penghuninya yang begitu tersiksa, suara itu kembali menyapanya dengan satu kalimat terakhir,
Selamat datang ditanah kehampaan dan keputus asaan, Nifelheim.
Dan, itulah akhir perjalanan Leezard Valeth yang congkak dengan kepandaian yang ia miliki, berakhir tragis dan dengan hal yang tak diinginkan.
e-mail: replicka_only@yahoo.com
nama; patria yusmirza pratama
My Student in SMKTI Airlangga
Memasuki pertengahan abad ke-14, manusia menghapus logika magis menjadi sains. Berbekal ilmu pengetahuan alam manusia menggabungkan hasil ciptaan Tuhan dengan ciptaan mereka, Homonculus. Para saintis yang menggeluti bidang kimiawi disebut Alchemist, bidang biologi disebut Biochemist dan yang menggeluti ilmu sains dan magis, Creator. Pohon Yggdrassill, walau telah tenggelam kisah nyatanya dibalik genangan dongeng penghantar tidur, namun bagi para Creator, pohon ini jelas nyata.
Seorang Creator yang memiliki kemampuan intelegensi yang tinggi tampak sangat tertarik saat ia mendengar Proffesornya di Accademy of Science tentang pohon ini. Leezard Valeth, seorang pria yang amat disanjung para Proffesor yang pernah mengajarnya karena kepandaiannya dalam membaca dan menterjemahkan setiap huruf Rune kuno dalam kitab- kitab mantera kuno pada abad ke-12.
Dan, dari otak yang pandai dalam membaca aksara inilah kisah dari perjalanan ini dimulai.
Pada suatu malam saat Valeth melewati ruangan salah satu Proffesornya Laspuchin Berdoa ia mendengar percakapannya dengan Metheus Methyss yang sedang memperdebatkan tentang eksistensi dari pohon Yggdrassill.
“Tempat ini pasti ada ditanah para Viking bermukim, tanah dimana Odin menanam Jantung Ymir!” tegas Laspuchin.
“Tetapi tahukah engkau betapa mustahilnya menemukan tempat bermukim kaum barbar itu!? Begitu masuk tak akan bisa kembali!” pungkas Metheus.
“Kaum barbar? KAUM BARBAR KATAMU!? Viking adalah reinkarnasi dari para Aenferior Lenneth Valkyrie yang gugur saat Ragnarok, Book of Everlasting, buku ini adalah bukti nyata, catatan tulis tangan Belenus yang merupakan salah satu Aenferior Lenneth Valkyrie!” tegas Laspuchin bersikukuh dengan pendapatnya.
“Belenus katamu? Aku jadi mempertanyakan gelar proffesor yang kau dapat jika kau sudah tahu para Aenferior Lenneth Valkyrie adalah roh, jiwa orang mati yang aku yakin makhluk- makhuk transparan seperti itu tak akan bisa memegang benda- benda di Midgard yang keseluruhannya adalah benda- benda padat!” ketus Metheus datar.
“Kau Alchemist, hanya memikirkan antara benda padat, gas dan cair saja, senyawa atau apalah itu, pernahkah otak kimiamu itu mampu menjelaskan kejadian Ragnarok!? Adakah asam atau apa dalam pertempuran seribu tahun? Apakah Odin bertempur dengan Surt hanya memperebutkan tempat yang penuh dengan O2??” desak Laspuchin.
“Kau…”
“Maaf Proffesor saya menyela, suara anda berdua terdengar waktu saya melewati ruangan ini” sela Valeth tiba- tiba mengejutkan keduanya.
Keduanyapun terkejut dan tak menyangka kalau Valeth mendengar percakapan mereka. Valeth berjalan ketengah ruangan mendekati mereka.
“Sedari awal saya telaah dengan yang anda berdua debatkan, saya tak beranni lancang tetapi saya yakin anda berdua percaya dengan keberadaan pohon Yggdrassill” sergah Valeth.
“Oh Valeth, kau selalu diterima” sanjung Laspuchin.
Laspuchin lalu mempersilakan Valeth untuk duduk bersama mereka didalam ruangan itu.
“Nah, aku ingin kau utarakan dengan intelegensimu yang tinggi itu tentang masalah yang kami bicarakan?” desak Laspuchin.
“Sebelumnya bolehkah saya tahu apa akar masalah dari pertikaian anda berdua?” lanjut Valeth.
Laspuchin lalu menceritakan semuanya dari awal dan Valethpun menawarkan diri untuk menterjemaahkan seluruh buku dari Book of Everlasting. Keduanyapun setuju sekali dengan usul Valeth dan bersedia memberinya waktu hingga satu bulan.
Setelah lewat sebulan Valethpun mengumumkan hasil terjemaahan Book of Everlasting kepada kedua Proffesor itu. Keduanyapun puas, terutama Laspuchin yang girang sekali saat tahu bahwa lokasi pohon Yggdrassill itu benar- benar ada. Laspuchin bahkan bersedia mentanda tangani surat pengadaan ekspedisi untuk mencari tempat ini dengan dana Academy of Magic yang diminta oleh Valeth sendiri dengan alasan studi ilmiah.
Sebenarnya tak ada yang tahu dan menyangka sisi gelap Leezard Valeth. Selama ini intelegensinya yang tinggi telah membuat dirinya congkak hati, ia menganggap dirinya pastilah bukan manusia biasa. Saat membaca Book of Everlasting ia menemukan bahwa pohon Yggdrassill adalah tangga menuju Asgard dan Nifelheim. Inilah tujuan perjalanan ini, Leezard Valeth ingin membuktikan bahwa pendapatya yang menganggap dirinya adalah bagian dari dewa- dewi adalah benar.
Academy mendanainya besar sekali, hampir sama dengan dana membangun sebuah jembatan penghubung dua pulau. Ia bahkan dibekali dengan orang- orang untuk membantunya selama perjalanan karena menurut Book of Everlasting, Tanah dimana Ymir ditanam diatas Midgard dijaga oleh lisan- lisan yang tak mampu kami (manusia) pahami, suku itu sangatlah tidak dapat dimengerti baik bahasa maupun tingkah lakunya. Tentunya Valeth memerlukan bantuan untuk melewatinya.
Hari keberangkatanpun tiba, Valeth dan regu perjalanannyapun memulai petualangan yang bahkan Valeth sendiri tak tahu harus kemana. Tetapi, ia meyakini satu hal bahwa utara adalah arah dimana dunia bermula, maka ia menyarankan untuk pergi ke utara. Perjalanan yang tak mudah memang, rintangan- rintangan yang muncul dari makhluk- makhluk sihir sepanjang perjalanan semakin membuat Valeth yakin akan arah tujuannya.
Musim dingin telah mengunjungi daerah utara terlebih dahulu membuat regu Valeth sedikit kesulita dalam perjalanan menuju utara. Terkadang ada juga yang mendebat arah perjalanan mereka, tak jarang terjadi perkelahian karena masalah sepele. Dalam waktu satu bulan merekapun tampak yakin telah memasuki daerah utara, salju tebal dan badai yang tak lazim selalu saja menghalangi setiap langkah mereka. Tak sedikit orang- orang Valeth menyarankan untuk pulang saja atau menghentikan perjalanan itu, tetapi Valeth bersikeras untuk menemukan lokasi pohon itu dan menjajikan uang pembayaran yang lebih besar.
Walau begitu ada saja yang memilih pulang mereka adalah yang berfikir bahwa bayaran perjalanan ini tak sebanding dengan harga nyawa mereka. Pemberontakkan ini semakin berlanjut dari hari ke hari, semakin hari satu atau dua orang memutuskan untuk pulang dengan pesan yang sama untuk yang lain, nyawa kalian lebih berharga dari hal ini. Hingga akhirnya, regu penggiring Valethpu hanya tersisa 3 orang saja, mungkin mereka berfikir makin sedikit yang ikut, makin banyak yang akan mereka dapatkan.
Tiga hari tiga malam berusaha menembus badai aneh yang muncul tiba- tiba itu akhirnya hal ganjilpun disaksikan oleh mereka berempat. Sebuah desa kecil yang hangat, tampak damai tak terusik dan yang paling aneh desa itu tampak tak tersentuk seincipun oleh badai salju yang mereka berusaha tembus selama tiga hari ini.
Terpana oleh keadaan desa yang ditengahnya ada pilar yang luar biasa besar dan tinggi hingga tertutup embun atau awan, mereka tak menyadari beberapa makhluk bertelinga panjang sudah menodong mereka sejak tadi.
“Manusia, apa yang kalian lakukan disini!?” bentak salah satu makhluk itu.
Tersadar telah ditodong busur dan anak panah dari belakang Valeth dan regunya hanya bisa terkejut dan terpaku ditempat mereka berdiri saat itu. Tiga orang yang mengikuti Valeth memang tak mengerti dengan bahasa itu tetapi Valeth mengerti bahasa itu, bahasa rune kuno.
“Kami datang dari jauh, kami tersesat dalam badai!” kilah Valeth.
“Pembohong! Kalian manusia takkan bisa menipu kami kaum Elves! Kau yang bisa berbicara bahasa kami, kau mencari pohon Yggdrassill, mengaku saja!” desak Elves itu.
Mau tak mau Valeth mengaku dengan hanya sebuah anggukkan kecil. Kemampuan intelejensi Valeth yang sangat tinggi telah memahami tabiat asli para Elves yang diyakini telah punah selama ini, Elves bukannya punah, mereka hanya mengasingkan diri dari manusia yang sudah tak berfikir seperti manusia lagi. Saling bunuh hanya untuk kepentingan pribadi, saling bertengkar hanya untuk memenuhi nafsu duniawi, merusak alam dan mulai tak peduli pada sekitarnya.
“Pergi kalian! Apa yang kalian cari tak ada disini!” bentak salah seorang Elves yang masih menodong mereka dengan busur dan panah dari belakang.
“Kami yakin pohon itu ada disini! Badai dan makhluk- makhluk sihir yang muncul sepanjang perjalanan kemari bukanlah makhluk biasa yang kami lihat, jika bukan untuk menjaga jalur kemari lalu mengapa makhluk itu ada disana!?” kilah Valeth.
“Makhluk itu untuk menjauhkan kami dari manusia- manusia tamak sepertimu!”
“Berhenti memanggilku manusia!” bentak Valeth.
“Jika kau bukan manusia, lalu apa kau ini? Kalian makhluk ciptaan Dewi Frey tak seharusnya bersikap angkuh seperti ini!”
“Aku yakin aku salah satu penghuni Valhalla!” tegas Valeth.
“Hanya karena kau dianugerahi otak yang cerdas melebihi yang lain bukan berarti kau adalah salah satu dari penghuni Valhalla! Kau hanya manusia, ucapanmu barusan bila tak kau sadari dapat menggiringmu menuju tanah kesengsaraan Nifelheim! Pulanglah, yang kalian cari tak ada disini!”.
“Aku takkan pulang tanpa bukti yang jelas atas keyakinanku!” tegas Valeth bersikukuh dengan pendapatnya.
“Manusia angkuh, bila Lord Undien mendengar ucapanmu bisa saja ia cabut semua kepandaianmu dan kau akan menjadi seperti orang tolol yang hina!”
Valeth tampak tersinggung dengan peryataan ini, secepat yang ia bisa, ia mengeluarkan sebotol kaca penuh cairan kimia mematikan untuk dilemparkan kearah Elves dibelakangnya, tetapi para Elves lebih cepat. Sepuluh anak panah melesat menembus dada Valeth tanpa ia sempat sadari. Valeth tercegang disaat ajalnya ia melihat sisa orang- orangnya terbantai oleh para Elves dengan sangat tanpa belas kasih. Setelah itu pandangannya mulai gelap, lalu ia mulai tak dapat merasakan bagian- bagian tubuhnya, seakan ada sesuatu yang dingin sedang ditarik keluar dari ubun- ubunnya, saat rasa dingin itu sampai pada tenggorokkannya ia mendengar suara wanita yang sangat dingin, datar dan tanpa perasaan.
Kau manusia tamak dan angkuh, tempatmu adalah tanah tanpa harapan, tanah terlupakan, tanah penuh hina dan siksa, tanah yang terlupakan, Nifelheim.
“Benarkah aku manusia? Lalu siapakah engkau?”
Aku adalah Lenneth Valkyrie, satu dari tiga Dewi Norun yang menguasai takdir dan kematian setiap makhluk yag lahir dari tangan Dewi Frey dan mendapat izin hidup dari Lord Odin ayah para Dewa. Dan kau, jiwa yang mengalami kematian adalah makhluk yang lahir dari tangan Dewi Frey yang diberi satu keistimewaan yang memang dikaruniakan kepada setiap ciptaan, kau adalah murni manusia kecil yang congkak dan angkuh dengan karunia yang telah diberikan.
Saat tubuh Valeth terjerembab ketanah tak bernyawa, roh dirinya telah sampai pada sebuah tempat yang setiap orang enggan untuk memikirkan atau bahkan memimpikannya, sebuah tempat penuh kehampaan dan keputus asaan dari setiap penghuninya yang begitu tersiksa, suara itu kembali menyapanya dengan satu kalimat terakhir,
Selamat datang ditanah kehampaan dan keputus asaan, Nifelheim.
Dan, itulah akhir perjalanan Leezard Valeth yang congkak dengan kepandaian yang ia miliki, berakhir tragis dan dengan hal yang tak diinginkan.
e-mail: replicka_only@yahoo.com
nama; patria yusmirza pratama
My Student in SMKTI Airlangga
Kamis, 09 Juli 2009
Imajinasi Hati
Penjara kata melilit lidahku
merajam terbenam dalam kursi listrik kaku
terbersit angan, ringan melayang
juga sepi tanpa hujatan.
bergerak perahu kata mendobrak dermaga angkuh
tak bertepi menenggelamkan samudera ke celah bebatuan.
bibir terpesona, tapi tak mampu membuka
mata melihat nanar penuh air mata
tebing curam di tengah dua aliran sungai wajah kelu
berkelakar dalam tawa-tawa yang tak terdengar semesta
hanya hati lirih berseri sendiri
lalu, memeluk kemalangan tiada henti
berpangku tertelungkup membatu
tak bergerak.
merajam terbenam dalam kursi listrik kaku
terbersit angan, ringan melayang
juga sepi tanpa hujatan.
bergerak perahu kata mendobrak dermaga angkuh
tak bertepi menenggelamkan samudera ke celah bebatuan.
bibir terpesona, tapi tak mampu membuka
mata melihat nanar penuh air mata
tebing curam di tengah dua aliran sungai wajah kelu
berkelakar dalam tawa-tawa yang tak terdengar semesta
hanya hati lirih berseri sendiri
lalu, memeluk kemalangan tiada henti
berpangku tertelungkup membatu
tak bergerak.
Langganan:
Postingan (Atom)