Selasa, 24 Februari 2009

Kisah ku

Hari ini, aku merasa gelisah, entah apa yang terjadi pada diriku. aku berusaha menenangkan diriku dengan bersholawat, sholawat yang dulu sering ku lakukan namun kini sangat jarang ku lakukan. aku ingin terus bersholawat. aku ingin sholawat menemani hari-hariku dalam mengarungi kehidupan ini. kegelisahan yang kadang kala muncul dapat hilang ketika ku bersenandung. walau dengan suara lirih. sholawat adalah laguku yang memberikan semangat tatkala aku terjatuh.

Minggu, 22 Februari 2009

Kisah Harian Ku

Aku berprofesi sebagai seorang guru di SMK TI Airlangga. Aku mengajar Bahasa Indonesia. Selain itu, aku juga mengajar di SMP YPS Samarinda. Setiap hari kamis, aku selalu bingung. Pasalnya, jadwal mengajarku sama, sehingga aku harus membagi waktu ku untuk kedua sekolah ini. Namun, hal ini menimbulkan perasaan cemburu pada siswaku di SMK TI Airlangga. Aku semakin bingung. Aku mencoba meminta salah seorang guru, untuk menggantikanku setiap hari kamis, namun beberapa siswa ku merasa kurang berkenan dengan guru tersebut. Aku semakin bingung. Namun, proses kegiatan belajar mereka begitu penting. Meski hal ini berpengaruh, aku tetap meminta guru tersebut menggantikanku.
Aku akan mengamati perjalanan belajar mereka. Semangat wahai muridku!!!

Aku Menyayangi kalian semua......

.....Samarinda, 23 Februari 2009.....

Selasa, 04 November 2008

Janji

Janji

Lekuk cahaya menebar pesona mentari senja

Tak luput pandang berikrar janji

Dua insan bersatu bernaung dalam cinta Ilahi

Bersua dalam duka berkisah dalam canda

Sayap-sayap kecil bidadari membelai qalbu

Mengepak diam berdesir lirih

Beradu daya menarik diam

Pondok-pondok tersenyum pasti

Melambaikan kehangatan tak bertepi

Menghilang menusuk membungkam

Hati yang lupa

Tatapan kosongnya menghias wajah

Mengalir darah menembus nadi-nadi rasa malu

Aku tersenyum…..

Dia termenung…..

Selasa, 28 Oktober 2008

Tsunami

Luluh….

Lantak….

Bernanah….

Darah meluap membanjiri kota

Onggokan manusia menggunung

Jeritan tangis menderu telinga-telinga tak berdaun

Terhempas badai ketakutan, menelan ludah kepahitan

Kotak-kotak besi tak kuat berjalan.

Beradu apa kepulan debu tak kuat melantunkan kedamaian

Terkoyak kebengisan alam

Berayun tak tentu arah terbenam kenangan masa.

Tsunami

Luluh….

Lantak….

Bernanah….

Darah meluap membanjiri kota

Onggokan manusia menggunung

Jeritan tangis menderu telinga-telinga tak berdaun

Terhempas badai ketakutan, menelan ludah kepahitan

Kotak-kotak besi tak kuat berjalan.

Beradu apa kepulan debu tak kuat melantunkan kedamaian

Terkoyak kebengisan alam

Berayun tak tentu arah terbenam kenangan masa.

Gendang Semesta

Langkahku berderap ikuti langkah-langkah tarian alam

Terbawa mengawang luapkan ego

Terbuai alunan menatap mentari

Irama gendang memecah kesunyian

Terbang mengitari wajah-wajah kaku

Gendang…..gendang…….gendang…..

Oh….semangat semesta

Satukan kekuatan mengalir tanpa henti.

Tak-tak-tak-tak-tak-tak-tak.

Tak-tak-tak-tak-tak-tak-tak.

Tak-tak-tak-tak-tak-tak-tak.

Tak-tak-tak-tak-tak-tak-tak.

Tak-tak-tak-tak-tak-tak-tak.

Tak-tak-tak-tak-tak-tak-tak.

Tak-tak-tak-tak-tak-tak-tak.

Gelombang Cinta saling mengejar mengapai angan-angan panjang tanpa kenal putus asa

Raih…..raih…..raihlah apa yang bisa kau raih

Tenggelamkan dirimu dalam angan-angan

Satukan semua angan

Satukan semua harap

Satukan semua…..satukan semua dengan apa yang bisa kau lakukan.

Minggu, 26 Oktober 2008

Lambaian Sepi

Aku mendengar bisikan hati mengiris pilu

Menahan rintihan panjang, berkelana

Mencari cinta sejati

Keresahan bertubi-tubi melahap sgala impian

Terbelunggu jiwa-jiwa pendosa

Terurai air mata lelapkan pengelana senja

Usai sudah harap

Namun,

Ikhlas hati mengobati sgala gundah

Lirik-lirik kematian bersemayam tumbuh

Puaskan dahaga petualang-petualang semesta

Menatap kebesaran Ilahi

Berpaling dari dunia fana tua renta

Ku hanya bisa ungkapkan rasa

Tanpa harus ku tahu aku di mana

Aku hanya seorang diri sebatang kara di tengah gemuruhnya dunia

Pontang-panting ku cari namun semuanya lari

Aku terdiam duduk lesu patah luluh

Ke mana ku harus mengadu

Ke mana ku harus melangkah

Ke mana dunia yang gemerlap

Ke mana ku harus membawa derita

Sendiri……sendiri……sendiri

Sendiri dalam kemarahan

Sendiri dalam kekecewaan panjang

Sendiri menyaksikan pertempuran dua jiwa dalam relung sukma.


Rizal Effendy Panga, Samarinda - Kalimantan Timur


silahkan tempatkan kode iklan, banner atau teks disini