Minggu, 26 Juli 2015

MOZAIK PERTAMA: BULAGI, PESONA LELUHUR


Leluhur nusantara memiliki keterikatan dengan mitologi. Sebagai anak-anak nusantara, mitologi menjadi bagian dari kehidupan dan sekaligus menunjukkan keksistensian sebagai penerus kejayaan nusantara. Bapak Proklamator kita, Soekarno pernah berkata, “Jangan melupakan sejarah.” Oleh karena itu, mitologi dan sejarah leluhur dapat menuntun kita untuk mengenali para leluhur. Mitos dibelajarkan melalui cerita atau kisah yang dilakukan secara turun-temurun. Kisah itu hadir sebagai pengantar tidur atau nasihat dari para orang tua kepada anaknya. Kisah tersebut didasarkan pada kenyataan dan pernah terjadi pada masa hidupnya para leluhur atau hanya kisah yang dituturkan sebagai bentuk nasihat kepada keturunannya.
Perjalanan ke tanah leluhur menjadi kisah unik dan petualangan yang berbeda. Perjalanan ke tanah leluhur, saya mulai tahun 2010 (Perjalanan Bulagi I). Bertolak dari Samarinda sebagai tanah kelahiran menuju ke Bulagi, Pulau Peling, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Sementara, perjalanan kedua, saya lakukan tahun 2015 (Perjalanan Bulagi II), bertepatan dengan liburan puasa dan lebaran. Setiap perjalanan akan memberikan cerita yang berbeda, meskipun menuju ke tempat yang sama.
2010. Masa lalu yang tak terlulis membutuhkan energi untuk mengingatnya. Perjalanan Bulagi I yang saya tulis saat ini pun ditulis sembari mengingat peristiwa dan kisah-kisah yang meliputinya. Sebagai perjalanan pertama, setiap jengkal adalah hal yang baru. Samarinda memberikan pengantar dengan nuansa bahagia dan rasa penasaran mengenai tempat yang dituju. Perjalanan ini dimulai dengan menumpang KM Kerinci milik PT PELNI. Pukul 4 Sore, KM Kerinci memulai perjalanan kami dari pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Kurang lebih perjalanan dua jam, kami disuguhkan dengan keindahan sunset di tengah lautan. Sunset yang hadir tanpa terhalang, memberikan pancaran kehangatannya sebelum kembali ke peraduannya. Semilir angin laut berpadu dengan gelombang yang tenang merajut kehangatan dan keheningan di tengah hiruk-pikuk penumpang kapal yang merindukan sanak kerabatnya. Saya berdiri di buritan kapal dan memandang matahari. Matahari pun harus pulang memenuhi ketentuan alam. Saya pun pulang untuk bertemu dengan tanah leluhur.
Perjalanan laut ini ditempuh kurang lebih semalam. Pukul 4 dini hari, kapal mulai memasuki teluk. Dari kejauhan lampu-lampu berpendar-pendar. Kerlip-kerlip lampu itu menyatu dalam kelompoknya membentuk tapal kuda. Cahaya lampu dini hari dari kanan hingga kiri dari bibir pantai dengan khas bertingkat ke setiap lembah pengunungan yang membentengi Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sekitar pukul 5, kapal mulai merapat di Pelabuhan Pantoloan. Dermaga yang panjang ke tengah laut menyambut kami. Di pelabuhan, keramaian sudah terjadi. Hilir mudik orang-orang dan beberapa laki-laki berseragam khas pelabuhan berjajar di dermaga menunggu penumpang untuk dibawakan barang-barangnya. Saya berdiri di buritan kapal dan membiarkan penumpang yang lain turun lebih dahulu. Itu saya lakukan karena tidak ingin berdesak-desakan. Sederhana saja pemikiran saya waktu itu, yaitu mencari keamanan dan keleluasan berjalan. Benar saja, begitu kapal dibuka. Laki-laki berseragam tersebut langsung menyerbu seperti harimau kelaparan, memburu setiap barang dan membawanya dengan cepat ke dermaga dan kembali lagi dengan tujuan mendapatkan barang semakin banyak untuk dibawa. Hal itu tentu sesuai dengan pendapatan yang diinginginkan. Semakin banyak barang, semakin banyak rupiah yang didapat.
Belum lama, terdengar keributan. Salah seorang penumpang dipukul di dermaga karena berselisih paham dengan laki-laki berseragam tadi. Pemandangan yang membuatku miris. Namun, itulah fenonema yang lumrah dan sering terjadi sehingga perlu persiapan diri bagi siapa saja yang ingin menggunakan pelabuhan sebagai sarana mudik lebaran agar memahami hukum alam pelabuhan-pelabuhan di nusantara ini. Sementara, pada masa leluhur nusantara yang dikenal sebagai pelaut, tak pernah ada cerita tentang kekerasan yang sering terjadi. Setiap tempat memiliki hukumnya sendiri, baik di darat, di laut, maupun di udara. Itu yang dapat saya simpulkan.
Selang beberapa waktu, saya turun dari kapal. Lagi-lagi, saya tidak dapat menghindar dari laki-laki berseragam tersebut, dengan halus saya menolak untuk dibawakan barang-barang kami. Namun, semangat pantang menyerah dari laki-laki berseragam tersebut akhirnya mematahkan pertahanan kami. Mereka membantu membawakan barang kami, tentu setelah bernegoisasi soal harga tercapai. Barang-barang kami diantar menuju sebuah mobil dari pemilik agent rental mobil yang akan mengantarkan kami menuju Kota Luwuk.
Pukul 9 pagi, kami mulai meninggalkan Kota Palu. Sepanjang jalan, Palu menghadirkan keperkasaannya dengan gunung-gemunung yang menjulang. Perjalanan 30 menit dari pusat kota, perjalanan kami mulai mendaki. Semakin lama, semakin tinggi dan terjal. Kebun Kopi, itu nama daerah yang kami lalui. Perjalanan mendaki dan jalan-jalan dipinggir-pinggir jurang terjal, mendaki, menurun, tikungan tajam, serta pemandangan hamparan gunung dan lembah menjadi kesatuan panorama yang membuat mata tak henti-hentinya memandang. Kurang lebih tiga jam, kami mengitari pegunungan.
Setelah melewati Kebun Kopi, kami disuguhkan daerah pesisir pantai dari parigi moutong hingga kota Luwuk. Di kanan jalan, gunung yang tegap menjulang membentuk tanjung-tanjung di setiap tikungan. Di kiri jalan, hamparan pohon kelapa dan laut, yang dikenal dengan nama Teluk Tomini, menghiasi perjalanan dan mata yang memandangnya. Indonesia memberikan kejutan-kejutan di setiap jengkal tanahnya. Cerita tentang nusantara lampau memang tak pernah bohong, bahwa Nusantara adalah sepotong surga yang diturunkan di bumi. Perjalanan dari Palu ke Luwuk dituntaskan dengan perjalanan kurang lebih 18 Jam.
Tanah leluhur, sudah terhampar. Sebuah pulau tampak gagah membentang di tengah laut. Pulau Peling itu namanya. Saya mengucapkan salam kepada alam untuk membawaku serta ke alam leluhur dan bersyukur kepada Allah telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengunjungi tanah ini. Menurut sejarah, di pulau ini dulu terdapat kerajaan bersaudara, yaitu Kerajaan Bulagi dan Kerajaan Buko. Sesudah itu, lahir pula Kerajaan Banggai, yang juga merupakan sebuah pulau yang berdekatan. Tanah leluhur ini dalam bahasa Banggai disebut lipubasal yang berarti “Tanah Besar”.
Perjalanan dari Luwuk ke Bulagi ditempuh dengan waktu tiga jam naik kapal motor dan satu jam perjalanan darat dengan menggunakan truk sebagai angkutan masyarakat di Pulau tersebut yang menghubungkan antardesa di pulau tersebut. Paman saya yang juga kapten kapal yang kami tumpangi, mengatakan sambil berkelakar. Bagi siapapun yang datang, apalagi pertama kali ke tanah ini diharuskan mencium tanah. Entah apa maksudnya, tetapi itu menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan cerita-cerita leluhur.
Setelah sambutan dan temu kangen dengan keluarga, mulailah bertebaran tentang kisah-kisah seputar Bulagi dan silsilah atau susur galur garis keturunan para leluhur. Saya teringat akan ilmu yang diajarkan oleh para guru saya, yaitu “Barang siapa mengenal diri, maka akan mengenal Tuhannya.”  Ada yang menarik dari silsilah. Ilmu pun diwajibkan memiliki silsilah hingga kepada para nabi sebagai utusan Tuhan di bumi ini. Begitu juga dengan hadirnya manusia sebagai khalifah di bumi yang bersilsilah sampai kepada Nabi Adam AS. Bahkan dalam ilmu pengetahuan, dikenal ilmu yang khusus mempelajari tentang silsilah, seperti rabhitah, genealogy, dan lain-lain.
Fenomena silsilah secara turun-temurun, ada yang terjaga dan ada juga yang terputus. Dalam istilah nusantara dikenal dengan marga atau fam, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal istilah family name. Umumnya, susur galur atau silsilah terpelihara di lingkungan keluarga raja-raja nusantara atau para penyebar agama, khususnya agama Islam. Khusus di Bulagi dan sekitarnya, silsilah cenderung adalah nama klan atau keluarga yang merupakan nama orang-orang terdahulu.
Secara silsilah, susur galur saya di mulai dari Rizal Effendy Panga bin Rusman Panga bin Kandola Panga bin Yaladani bin Panga bin Badoi bin Boboti bin Mobotikan bin Doinomo bin Modoino bin Sobotik bin ……….. bin Nuh AS bin …… bin Adam AS. Informasi silsilah tersebut pun pada akhirnya terkait dengan mitologi karena banyak nama yang terputus. Jika ditinjau dari silsilah tersebut, saya keturunan keempat dari kakek Panga. Dalam bahasa Banggai, Panga memiliki arti cabang.  Sebagian para tetua memberikan isyarat, tidak mengherankan bahwa pam Panga mempunyai jumlah yang banyak. Saya menuliskan hingga Kakek Sobotik, karena informasi yang saya dapatkan dari para orang tua yang memiliki persamaan hingga mencapai nama tersebut. Saya pun menemukan catatan silsilah yang lebih panjang, hingga berakhir di Adi Soko atau Aji Saka yang merupakan pendiri Kerajaan Banggai dalam fase Modern. Namun, secara ilmiah hal tersebut belum dapat dibuktikan. Pencarian saya terhadap silsilah ini menemui kebuntuan karena tidak ada catatan tertulis mengenai hal tersebut. Hal itulah yang membuat saya menghentikan nama tertinggi hingga Kakek Sobotik.
Silsilah dianggap sebagai sesuatu yang keramat atau suci sehingga tidak menjadi objek yang dibicarakan secara sembarangan. Banyak hal-hal mitos yang bertebaran, apabila membicarakan tentang silsilah. Penelusuran mengenai nama-nama tersebut, juga didasarkan pada kepercayaan bahwa setiap pulau atau daerah diberi nama sesuai dengan orang yang pertama berada di daerah tersebut atau peristiwa atau kejadian tertentu. Bulagi, sebagai nama daerah, juga mengalami hal tersebut. Bulagi dapat diasumsikan sebagai orang pertama atau pendiri Kerajaan Bulagi. Selain itu, juga dapat dikaitkan dengan peristiwa atau mitologi ketika Raja Mandapar berkunjung ke daerah bakiling (kering), maka timbul rasa hausnya. Raja Mandapar pun menyuruh orang memerintahkan seseorang untuk memanjat kelapa. Tak berapa lama, pemanjat tersebut berteriak. Sang raja berkata bula ‘apa’ dan pemanjat berkata som ‘semut’. Hal itu menjadi dasar penyebutan bulagi sosom sebagai pengganti daerah yang bernama Bakiling. Sebagai simpulan yang buntu, saya berkesimpulan bahwa mengetahui silsilah adalah sebagai upaya untuk bersyukur karena hadirnya kita dalam dunia ini melalui para leluhur yang memberikan restu dan doanya untuk anak keturunannya agar menjadi pemelihara bumi dan mengambil manfaat yang digunakan untuk tujuan kebaikan.
Sebagai wilayah kepulauan, Bulagi pun memberikan pesona alam yang tak kalah dengan daerah lain. Perjalanan Bulagi I ini pun akhirnya membentuk satu lingkaran perjalanan dengan mengendarai sepeda motor untuk mengelilingi pulau. Ungkapan rasa terima kasih, saya berikan kepada Saudara saya Supardi Y. Zakaria, S.Pd. yang merupakan suami dari saudara sepupu saya. Di Bulagi, saya dihadirkan dengan keindahan laut dengan pulau tak berpenghuni dan togong (pulau karang) kecil. Di Bulagi sendiri, terdapat tiga togong kecil. Dua togong saya tidak tahu namanya, sedangkan satu togong bernama Babanggai. Dari cerita yang beredar, di togong tersebut terdapat kuburan para leluhur. Di daerah kampung baru, terdapat pantai, namun tidak begitu luas.
Bersama dengan kakak, saya menelusuri Pulau Peling bagian selatan, yaitu kecamatan Totikum dan Tinangkung. Setiap desa yang kami lalui memberikan pesona yang berbeda. Pagar-pagar rumah yang terbuat dari kayu tersusun rapi. Setiap desa punya warna sendiri. Beruntungnya, proyek jalan sudah masuk di pulau ini. Beberapa jalan yang rusak sudah diperbaiki. Ketika sampai di Desa Patukuki, saya singgah sebentar ke air terjun. Entah apa namanya. Yang pasti air terjun di Patukuki ini mampu memberikan kegembiraan  dan membuatku terhenti untuk bermain-main dengan airnya. Air yang berwarna kehijauan dan susunan batu-batu serta coraknya yang terbentuk melalui kikisan air membuat betah untuk berlama-lama di sini. Tak banyak yang ke sini. Ada beberapa warga usia remaja yang juga ikut mandi-mandi di air terjun tersebut.
Setelah puas mandi-mandi, kami melanjutkan perjalanan ke Ambelang. Di daerah yang tinggi dan jalan yang berliku, kami berhenti di puncaknya. Daerah ini dikenal dengan nama Gunung Bebek. Entah mengapa dinamakan demikian. Padahal tidak ada bebek satu pun di gunung tersebut. Kehidupan terasa kembali. Sinyal telepon seluler pun muncul. Di Bulagi, tidak ada sinyal sehingga perlu perjalanan yang jauh hanya sekadar mendapatkan sinyal. Selain kami, banyak warga yang singgah dan bersantai sambil menghubungi sanak keluarga di daerah lain. Fenomena ini tentu tidak dapat ditemukan di kota besar atau daerah yang sudah maju.
Tiba di Ambelang, kami istirahat semalam. Pagi hari, kami melanjutkan perjalanan. Jam 6 pagi kami berangkat melalui daerah Tobing, Totikum untuk melanjutkan perjalanan. Misi utama saya adalah menjemput papa tua saya dari pulau yang lain. Kami berburu waktu agar tidak ketinggalan kapal motor kecil yang disebut bodi oleh warga sekitar. Sesampainya di pinggir laut daerah Totikum, kami menyeberang menggunakan bodi menuju pulau Banggai. Gelombang laut yang tenang dan percikan air laut menemani kami sekitar satu jam.
Setibanya di pulau Banggai, kami menuju ke tempat saudara. Tak jauh dari kantor pos. Sampai di sana, saya menunggu papa tua saya. Sambil menunggu kedatangan papa tua saya, kami keliling pulau Banggai yang merupakan pusat wilayah kerajaan masa silam. Saya melewati istana Raja Banggai yang dikenal dengan istilah Tomundo yang berarti Raja. Mumpun di Banggai, boleh kita cerita tentang raja-raja. Dari tuturan para tetua, Tomundo dipilih oleh Basalo Sangkap (empat) yang ada di Banggai yang mewakili setiap daerah. Sebelum bersatu, dulu daerah-daerah tersebut adalah kerajaan-kerajaan yang kemudian dipersatukan. Oleh karena itu, Tomundo Banggai dipilih dari keturunan dari basalo sangkap secara demokrasi. Kerajaan banggai dianggap sebagai satu-satunya kerajaan yang menerapkan sistem demokrasi. Tentunya bukan demokrasi barat karena pada masa itu orang-orang eropa belum masuk ke wilayah nusantara. Sementara itu, di luar basalo sangkap terdapat basalo-basalo yang mewakili setiap daerah yang berada dalam kawasan kerajaan Banggai. Basalo Bulagi dianggap sebagai Basalo yang memiliki kedudukan istimewa dan dihormati oleh Tomundo Banggai. Hal itu ditunjukkan dengan cara penghormatan yang berbeda dengan basalo yang lain di hadapan tomundo.
Selain Tomundo dan Basalo, dikenal pula Jogugu dan Kapitan. Jogugu berfungsi sebagai pengatur urusan kerajaan, sedangkan kapitan digunakan sebagai gelar bagi panglima perang. Saya jadi teringant dengan pahlawan nasional Kapitan Pattimura. Dalam era sekarang, kedudukan Tomundo dipegang oleh bupati, basalo dipegang oleh camat, jogugu dan kapitan masih ada dalam perangkat adat. Dalam era sekarang, Kerajaan dijadikan sebagai simbol pelestarian adat dan kebudayaan. Selain itu, saya juga mendengar istilah pandalabing. Menurut para tetua, pandalabing itu adalah simbol pemegang keturunan. Saya berasumsi setelah mendengar kisah dari para orang tua, pandalabing berperan sebagai penasehat sebagai wujud dari orang-orang yang bijak yang merupakan pemegang garis keturunan. Mengenai kebenarannya, saya pun tidak dapat memberikan kesimpulan terkait dengan fungsi dan tugas dari gelar kebangsawanan pada masa silam yang dijadikan sebagai gelar bagi perangkat adat di era Kerajaan Adat Banggai, seperti lazimnya kerajaan adat lain di nusantara ini.
Banggai pun meninggalkan cerita tentang perjuangan dengan dibangunnya Tugu Trikora sebagai bukti pangkalan militer dalam misi pembebasan Irian Barat. Perjalanan di pulau Banggai pun mengharuskan kami untuk menginap. Keesokan hari, kami menyeberang ke Salakan, pusat pemerintahan Kabupaten Banggai Kepulauan, dengan menumpang kapal feri bersama dengan papa tua saya. Sesampainya di Totikum, papa tua pun diantar ke Bulagi oleh adik dari Kak Pardi. Setelah itu, kami berputar arah untuk mengitari Pulau Peling Bagian Timur yang melibatkan wilayah Kecamatan Totikum dan kecamatan Tinangkung. Suasana pedesaan khas dengan pagar pun kami jumpai kembali. Jalan tersebut melalui pinggir-pinggir pantai. Berbagai nama desa pun masuk dalam memori. Namun, saat ini hanya beberapa desa saja yang saya ingat. Satu desa yang cukup bersih dan tatanan yang rapi yang sampai hari ini saya ingat adalah Desa Abason. Sementara desa-desa yang lain banyak yang lupa namanya. Perjalanan kami berakhir kembali di Ambelang. Perjalanan tersebut dilalui dengan perjalanan dari pagi hingga sore hari. Akhirnya, perjalanan tersebut saya tutup dengan beristirahat semalam di Ambelang.
Esok hari dari Ambelang, saya pun menuju Bulagi kembali dengan rentang waktu kurang lebih satu jam. Setibanya di Bulagi, beberapa paman saya melarang saya untuk bepergian lagi. mereka khawatir karena saya baru pertama kali datang. Lagi-lagi, takut keteguran dan lain-lain yang berkaitan dengan kisah-kisah para leluhur. Saya pun menurut saja, lagi pula sudah cukup lelah. Sebagai daerah pulau, tentu sangat mudah untuk mendapatkan menu-menu makanan yang bersumber dari laut. Bahkan di perjalanan, saya sempat menawar ikan Layar berukuran satu meter lebih. Namun, nelayan itu tidak menjualnya karena hendak dipupu atau diasapi.
Nuansa Bulagi dan silsilah menarik perhatian kembali. Saya lebih banyak mendengarkan para tetua bercerita. Budaya lisan yang terjadi di masyarakat tentu sangat sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Seiring waktu, cerita-cerita tersebut tentu mengalami proses penambahan atau pengurangan berdasarkan daya ingat penceritanya. Selain itu, orang-orang tua yang paham tentang cerita asalnya sudah banyak yang meninggal. Yang saat ini masih dapat saya saksikan adalah kubur dari kakek Kandola Panga dan Kakek Yaladani karena lokasinya dekat dengan rumah keluarga. Sementara, kakek-kakek pendahulu tidak saya temukan. Menurut informasi, kubur kakek Panga terdapat di daerah Kinali, perbatasan Desa Sosom.
Karena bertepatan dengan lebaran, biasanya di Bulagi ada tradisi takbiran keliling Desa. Start di Bulagi lalu melewati beberapa desa hingga ke desa Kamba, kemudian balik arah ke Bulagi Utara kembali dan dilanjutkan melewati beberapa desa menuju Desa Peling Seasa ke arah utara. Sebagai penggembira, saya pun ikut dalam truk yang mengangkut warga untuk melaksanakan takbiran.
Keesokan harinya, sholat ied. Karena masjid tidak dapat menampung jamaah, salat ied dilaksanakan di lapangan bola dekat kantor kecamatan. Sore harinya, saya dan paman saya menuju ke daerah montomisan untuk bertemu dengan guru Aman. Saya memanggilnya tete (sebutan bagi kakek dalam bahasa Banggai). Selain silaturahmi, lagi-lagi pembicaraan kami berkisar pada silsilah. Saya berkeinginan ke daerah yang dianggap keramat, yaitu Lipubasal atau tanah besar. Namun, paman saya tidak sanggup memenuhi karena alasan tertentu. Tete Aman pun tidak menyanggupi permintaan saya. Akhirnya, kami menuju ke Lalanday. Di desa tersebut, saya menemui paman saya yang masih satu fam Panga. Paman saya tersebut adalah pemegang kunci Lipubasal. Lagi-lagi harapan saya tidak dipenuhi karena alasan tertentu.
Di Lalanday, terdapat mata air yang membentuk aliran sungai menuju ke laut. Sungai itu dibendung dan dijadikan tempat pemandian yang selalu ramai dikunjungi, khususnya pada saat lebaran. Di dalam sungai tersebut, terdapat ikan yang dikeramatkan. Warnanya bercak-bercak hitam. Ikan itu tidak boleh dibunuh apalagi dikonsumsi. Menurut cerita, ada orang yang coba-coba menangkap ikan itu, kemudian dikonsumsi. Akhirnya, orang tersebut sakit dan meninggal tidak lam setelah mengonsumsi ikan tersebut. Sampai hari ini, tidak ada yang berani memakan ikan tersebut. Ikan itu adalah ikan air tawar yang hidup di Sungai atau mata air di Lalanday tersebut dan tidak ada jenis ikan lain.
Sebagai sebuah kisah, tentu tidak ada kisah yang selesai. Setiap waktu akan memberikan kisah baru, meskipun pada tempat yang sama. Setiap sejarah perlu dipelajari bukan untuk diagungkan, tetapi untuk menggali kebijaksanaan setiap zaman. Bulagi sebagai tanah leluhur tentu punya persepsi berbeda bagi orang-orang yang lahir di rantau orang dengan orang-orang yang lahir di tanah leluhur. Kecintaan dan kerinduan, serta rasa ingin tahu menyeruak dalam liang-liang pemikiran untuk mengeksploitasi kebijaksanaan dan kearifan lokal sebagai bukti dan esksitensi kebudayaan, sekaligus menunjukkan eksistensi nusantara sebagai bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi.

Bersambung……..


Samarinda, 26 Juli 2015

Pencari Kebijaksanaan, Rizal Effendy Panga, Cucu Nusantara.




Senin, 22 April 2013

Dokumentasi Petualangan IV

Setiap kaki melangkah, selalu dilampaui oleh langkah dari mimpi-mimpi. Keinginan yang kuat akan menggerakkan tubuh yang terkungkung perasaan nyaman berada di daerah sendiri. Salahkah? Jawabannya, tidak ada yang salah. Namun, jika hanya bertahan di kampung halaman, maka kita hanya mengenal keindahan dan keagungan kampung halaman semata. Falsafah orang-orang tua dulu, salah satunya merantau. Merantau membuat kita berbeda. Mengapa demikian? Karena kita akan beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru. 
Orang-orang baru akan mengajarkan banyak hal tanpa  bermaksud mengajarkan sesuatu. Mereka tidak sadar memberi kita seteguk manis kisah hidup dan secangkir pengalamannya baik dalam keadaan suka dan duka. Orang-orang baru itu mungkin bisa menjadi sahabat, kakak, adik, orang tua, dan bisa juga menjadi pasangan hidup yang kita tunggu. Semua itu rahasia. Rahasia itu mutiara. Seperti mutiara-mutiara terbaik yang berada di laut-laut dalam Indonesia. Jelajahi satu demi satu. Temukan orang-orang yang mengajarkan kepadamu tanpa pernah menjadi paling hebat di depanmu. Mengapa demikian? Karena dirimu justru mau belajar dari orang yang tak pernah mau mengajarkan apapun kepadamu? Ya, memang kedengarannya aneh, mirip cerita seorang pendekar pemula yang mau berguru kepada pendekar sakti. Semakin menolak, semakin dikejar pendekar sakti tersebut. 

Pertemuanku dengan beberapa orang baru yang memberikan makna kehidupan dalam perjalananku:

Bersama Prof. Peter Charles Taylor, Ph.D. (Dosen Curtin University, Perth, Western Australia)


Bersama  Julia Crowley (Dosen Curtin University) dan rekan-rekan Gelombang I Program "Indonesian Teacher Course"


Bersama Yuli Rahmawati, Ph.D. (Dosen UNJ) dan Naif Al Sulami (Kandidat Doktor di Curtin University dan Dosen King Abdul Azis University, Jedah)


Bersama Mahasiswa S3 Curtin Universty dari Malawe.


Bersama Emiko Watanabe, Mahasiswi S2 Unesa dari Jepang


Bersama Mba Yani Sujaya (Tour Guide, Jakarta) yang mengajarkan lewat kisah-kisahnya.


Bersama Ibunda Mas Wahyudi, rekan mahasiswa di Unesa yang mengajarkan tanpa banyak kata-kata.



Bersama Mas Wahyudi (kanan) dan Mas Amilis (tengah) atas persahabatannya di Unesa.




Jumat, 01 Maret 2013

Dokumentasi Petualangan III

Setiap langkah menuju puncak, memang memerlukan tetesan peluh. Namun, hanya orang yang bertahan yang dapat mencapai puncak. Begitu juga perubahan nasib seseorang, hanya orang-orang yang bertekad kuat yang dapat mencapai perubahan demi perubahan dalam kehidupannya. Mungkin mustahil, ketika aku berpikir S2 ke Belanda. Kemampuan berbahasa Inggris yang seadanya. Belum ada jalan terang menuju ke sana. Namun, mimpi selalu berarti. Beasiswa S2 di Unesa, Surabaya telah mengantarkan diriku ke petualangan demi petualangan dalam hidupku. Teruslah bermimpi untuk menggapai mimpi-mimpi yang telah ditetapkan!!! Pohon Buah Maja Museum Trowulan Mojokerto Pinggir jalan Nasi khas Lamongan. Daerah persawahan Lamongan. Gunung Bromo Probolinggo Jawa Timur Bandara Ngurah Rai Bali. Curtin University Perth Western Australia. Victoria Park Train Station Perth Western Australia. Swan Bell Tower Perth City Western Australia. Kings Park Perth Western Australia. Caversham Perth Western Australia. Rumah Penjara Fremantle Perth Western Australia. Masjid pertama di Perth Western Australia.

Jumat, 23 Maret 2012

Dokumentasi Petualangan II

Hari-harimu akan lebih bermakna, jika kau berani berpetualang. Namun, jika kau takut tersesat, maka kau cukup berpesiar saja. Tentukan kapan kau berangkat dan kapan kau akan kembali. Dulu, seseorang berkata kepadaku, "Jika, kau memulai untuk pergi ke suatu daerah untuk pertama kali, maka kau akan bepergian ke banyak daerah berikutnya. Jika, kau sudah memulai untuk pergi ke luar negeri, maka kau akan bepergian ke banyak negara di dunia." Tentukan hari-harimu, semua akan menjadi nyata, jika keyakinan ada dalam hatimu! Puncak Gunung Nui, Paser, Kalimantan Timur
Di depan Kantor PT Semen Gresik, Jawa Timur
Hutan Pampang, Samarinda, Kalimantan Timur

Dokumentasi Petualangan I

Foto-foto Petualangan ini menggambarkan kepadaku, Setiap tempat itu unik. Setiap tempat memberikan pembelajaran berbeda. Jika kau tahu dunia luar ternyata lebih besar, kau tidak akan berdiam diri duduk manis termangu di beranda rumah, beranda organisasi, beranda pekerjaan, dan beranda-beranda lain yang saat ini kau nikmati. Setiap perjalanan memberikan petualangan baru. Waduk di Blitar (Latar: Gunung Semeru)
Pasar Terapung, Banjarmasin
Pulau Kembang, Banjarmasin
Pulau Kembang, Banjarmasin
Air Tejun Patukuki, Pulau Peling, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah
Gunung Merapi, Jogjakarta
Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah
Air Terjun Sedudo, Nganjuk, Jawa Timur
Pantai Lombang, Sumenep, Madura

SELAYANG TANYA

Hai, kawan. Apa kabarmu? Kamu selalu menjawab, “Baik, sehat, atau apa sajalah yang penting menggambarkan kondisi terbaikmu saat pertanyaan tersebut meluncur. Bukankah demikian? Sekarang, mari kita jujur. Ketika pertanyaan yang menanyakan kondisi kita, kita sering mengalami hal sebaliknya: kesepian, kerinduan, kekesalan, atau banyak hal yang membuat hati kita gundah. Mari kita coba renungkan! Apa yang membuat kita harus menutupi semua itu dari orang yang bertanya kepada kita. Tepat. Jawaban kita yang baik berguna untuk memberikan ketenangan bagi sang penanya. Apa yang terjadi dengan kebohongan yang kita lakukan selama ini. Apakah kebohongan yang kita lakukan adalah salah? Untuk melihat kondisi ini, kita tidak hanya melihatnya dari satu sudut pandang saja. Mengapa? Jika kita hanya melihat dari jawaban yang kita berikan, alangkah menakutkan. Ternyata banyak dosa yang kita perbuat tanpa kita sadari. Setiap orang berdosa karena membohongi orang-orang yang bertanya padanya. Hal ini bisa menjadi lebih dramatis karena seseorang sangat tega membohongi orang-orang yang mencintainya atau dicintainya. Salahkah? Sebagai contoh, ketika seorang ibu bertanya kepada anaknya, “Bagaimana kabarmu di sana?” Setiap orang akan menjawab dengan jawaban terbaik agar ibunya tidak merasa khawatir. Sementara, kadang-kadang jawaban yang kita persembahkan kepada ibu kita bertolak belakang dengan keadaan kita yang sebenarnya. Dosa pertama kita, berbohong kepada ibu kita, dosa kedua, kita berbohong pada diri sendiri. Pertanyaan berikutnya, jika kita jujur menyampaikan kondisi kita yang sesungguhnya terjadi. Apakah kita bisa dikatakan sebagai anak yang berbakti. Kita mengatakan kesedihan, kegalauan, keresahan, kesukaran, kesulitan, dan lain-lain. Naluri seorang ibu tentu tidak akan membiarkan anaknya hidup dalam penderitaan. Beban pemikiran yang Ibu alami sebagai akibat jawaban jujur kita. Lantas, apakah kita bisa dikatakan sebagai anak yang berbakti. Kawan, kembali lagi pada sebuah pilihan. Sebuah ungkapan yang sering kita dengar Ibarat memakan buah simalakama, tidak dimakan ayah mati, dimakan ibu mati. Setiap perjalanan dalam kehidupan, selalu saja ada pilihan dalam kehidupan kita. Orang-orang terdekat kita, ingin kita berbagi pemikiran dengan mereka. Berbagi tentang keindahan hidup, pengalaman hidup yang luar biasa yang menjadi inspirasi buat sesama. Setiap peribadi unik. Setiap pribadi terlahir sempurna, namun kesempurnaan lenyap seiring proses belajar kita untuk menjadi lebih sempurna. Pilihan-pilihan dalam kehidupan kita menuntun setiap sukses kita di masa mendatang. Pilihan yang tepat tak seharusnya menjadi presiden atau melakukan hal-hal besar. Pilihan tepat, mungkin berasal dari pilihan sederhana, kesederhanaan yang kuat terjalin, kemudian menjadi inspirasi. Inspirasi untuk semuanya. Jika ditanya, apa kbarmu hari ini? tentu kalian sudah punya pilihan. Bukan kebohongan lagi. Mengapa? Karena ketika orang terdekat kita bertanya, kita mampu mengondisikan diri kita dalam keadaan terbaik sebelum menjawab pertanyaaan mereka. itu bisa terjadi dalam hitungan jam, menit, bahkan detik. Seorang yang bersedih, namun bersyukur dia akan mencapai puncak terbaiknya. Kesedihan, kesulitan bukan musuh kita. Mereka kawan kita untuk membuat kita perkasa, membuat kita berbeda. Pengalaman-pengalaman kehidupan yang terlihat pahit, justru menjadi sebuah Kawah Candhradimuka untuk menegakkan kepala kita menantang kehidupan dunia. Kebohongan tak akan terjadi lagi karena kebohongan hanya terjadi pada orang-orang yang takut melihat dunianya. Jika kita mau sedikit melirik, entah ke samping kanan kita, ke samping kiri kita, lalu ke bawah kita, tentu kita tak akan pernah ragu untuk menatap ke atas kita dengan ungkapan syukur yang tulus. Apa kabarmu hari ini, Kawan! Tentu baik-baik saja dan selalu sehat. Senyumanmu memancar ke seluruh penjuru. Don’t cry! If you know, you are spesial. You will change your life to a good life. Kawan, katakan pada siapa saja dengan kejujuran dalam hatimu. “Hari ini, aku baik-baik saja. Aku bangga mengenalmu. Kau inspirasiku.” Sederet kata-kata yang membuat orang-orang di sekitar kita bahagia.

Rabu, 21 Maret 2012

Pandangan terhadap dunia pasti berbeda. Kematian dipandang dengan ketakutan, namun sebaliknya banyak yang memandang kedekatan dengan Sang Tuhan. Hati mereka kosong, namun sebaliknya banyak hati-hati yang berlimpah ruah bahkan terbuang begitu saja membanjiri orang-orang yang mencari hikmah. Ini pilihan kawan. pilihan yang sebenarnya tidak sulit. pilihan yang memang harus memilih, bukan sekadar terlihat eksotis namun gelap. Pohon-pohon kayu saja punya kebijaksanaan. Lahir dari sebiji bibit, kemudian bertumbuh dan terus bertumbuh. Helai-helai daun mulai mengalun menyentuh derai-derai angin, menciptakan harmoni kehidupan. Akar menghujam dalam, menusuk jantung bumi, bekejar-kejaran dengan jutaan akar. apakah hanya jutaan? tidak. Tak ada yang mau repot-repot menghitung jumlah akar di dalam tanah. apalagi harus menghormati akar yang meski saling tumpang tindih tak pernah merampas milik pohon yang lain. Kita manusia. Katanya manusia orang hebat. Seringkali, orang-orang besar berkata, segala hal yang besar hanya untuk orang-orang besar. orang kecil tak pernah tahu sesuatu yang besar meskipun hanya terlintas di pikirannya. kita penentu. memilih atau dipilih. suka atau tidak. =Man Jadda Wa Jadda (Barangsiapa bersungguh-sunguh, maka dia akan mendapatkan kesungguhan hatinya)=
silahkan tempatkan kode iklan, banner atau teks disini