Jumat, 23 Maret 2012

Dokumentasi Petualangan II

Hari-harimu akan lebih bermakna, jika kau berani berpetualang. Namun, jika kau takut tersesat, maka kau cukup berpesiar saja. Tentukan kapan kau berangkat dan kapan kau akan kembali. Dulu, seseorang berkata kepadaku, "Jika, kau memulai untuk pergi ke suatu daerah untuk pertama kali, maka kau akan bepergian ke banyak daerah berikutnya. Jika, kau sudah memulai untuk pergi ke luar negeri, maka kau akan bepergian ke banyak negara di dunia." Tentukan hari-harimu, semua akan menjadi nyata, jika keyakinan ada dalam hatimu! Puncak Gunung Nui, Paser, Kalimantan Timur
Di depan Kantor PT Semen Gresik, Jawa Timur
Hutan Pampang, Samarinda, Kalimantan Timur

Dokumentasi Petualangan I

Foto-foto Petualangan ini menggambarkan kepadaku, Setiap tempat itu unik. Setiap tempat memberikan pembelajaran berbeda. Jika kau tahu dunia luar ternyata lebih besar, kau tidak akan berdiam diri duduk manis termangu di beranda rumah, beranda organisasi, beranda pekerjaan, dan beranda-beranda lain yang saat ini kau nikmati. Setiap perjalanan memberikan petualangan baru. Waduk di Blitar (Latar: Gunung Semeru)
Pasar Terapung, Banjarmasin
Pulau Kembang, Banjarmasin
Pulau Kembang, Banjarmasin
Air Tejun Patukuki, Pulau Peling, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah
Gunung Merapi, Jogjakarta
Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah
Air Terjun Sedudo, Nganjuk, Jawa Timur
Pantai Lombang, Sumenep, Madura

SELAYANG TANYA

Hai, kawan. Apa kabarmu? Kamu selalu menjawab, “Baik, sehat, atau apa sajalah yang penting menggambarkan kondisi terbaikmu saat pertanyaan tersebut meluncur. Bukankah demikian? Sekarang, mari kita jujur. Ketika pertanyaan yang menanyakan kondisi kita, kita sering mengalami hal sebaliknya: kesepian, kerinduan, kekesalan, atau banyak hal yang membuat hati kita gundah. Mari kita coba renungkan! Apa yang membuat kita harus menutupi semua itu dari orang yang bertanya kepada kita. Tepat. Jawaban kita yang baik berguna untuk memberikan ketenangan bagi sang penanya. Apa yang terjadi dengan kebohongan yang kita lakukan selama ini. Apakah kebohongan yang kita lakukan adalah salah? Untuk melihat kondisi ini, kita tidak hanya melihatnya dari satu sudut pandang saja. Mengapa? Jika kita hanya melihat dari jawaban yang kita berikan, alangkah menakutkan. Ternyata banyak dosa yang kita perbuat tanpa kita sadari. Setiap orang berdosa karena membohongi orang-orang yang bertanya padanya. Hal ini bisa menjadi lebih dramatis karena seseorang sangat tega membohongi orang-orang yang mencintainya atau dicintainya. Salahkah? Sebagai contoh, ketika seorang ibu bertanya kepada anaknya, “Bagaimana kabarmu di sana?” Setiap orang akan menjawab dengan jawaban terbaik agar ibunya tidak merasa khawatir. Sementara, kadang-kadang jawaban yang kita persembahkan kepada ibu kita bertolak belakang dengan keadaan kita yang sebenarnya. Dosa pertama kita, berbohong kepada ibu kita, dosa kedua, kita berbohong pada diri sendiri. Pertanyaan berikutnya, jika kita jujur menyampaikan kondisi kita yang sesungguhnya terjadi. Apakah kita bisa dikatakan sebagai anak yang berbakti. Kita mengatakan kesedihan, kegalauan, keresahan, kesukaran, kesulitan, dan lain-lain. Naluri seorang ibu tentu tidak akan membiarkan anaknya hidup dalam penderitaan. Beban pemikiran yang Ibu alami sebagai akibat jawaban jujur kita. Lantas, apakah kita bisa dikatakan sebagai anak yang berbakti. Kawan, kembali lagi pada sebuah pilihan. Sebuah ungkapan yang sering kita dengar Ibarat memakan buah simalakama, tidak dimakan ayah mati, dimakan ibu mati. Setiap perjalanan dalam kehidupan, selalu saja ada pilihan dalam kehidupan kita. Orang-orang terdekat kita, ingin kita berbagi pemikiran dengan mereka. Berbagi tentang keindahan hidup, pengalaman hidup yang luar biasa yang menjadi inspirasi buat sesama. Setiap peribadi unik. Setiap pribadi terlahir sempurna, namun kesempurnaan lenyap seiring proses belajar kita untuk menjadi lebih sempurna. Pilihan-pilihan dalam kehidupan kita menuntun setiap sukses kita di masa mendatang. Pilihan yang tepat tak seharusnya menjadi presiden atau melakukan hal-hal besar. Pilihan tepat, mungkin berasal dari pilihan sederhana, kesederhanaan yang kuat terjalin, kemudian menjadi inspirasi. Inspirasi untuk semuanya. Jika ditanya, apa kbarmu hari ini? tentu kalian sudah punya pilihan. Bukan kebohongan lagi. Mengapa? Karena ketika orang terdekat kita bertanya, kita mampu mengondisikan diri kita dalam keadaan terbaik sebelum menjawab pertanyaaan mereka. itu bisa terjadi dalam hitungan jam, menit, bahkan detik. Seorang yang bersedih, namun bersyukur dia akan mencapai puncak terbaiknya. Kesedihan, kesulitan bukan musuh kita. Mereka kawan kita untuk membuat kita perkasa, membuat kita berbeda. Pengalaman-pengalaman kehidupan yang terlihat pahit, justru menjadi sebuah Kawah Candhradimuka untuk menegakkan kepala kita menantang kehidupan dunia. Kebohongan tak akan terjadi lagi karena kebohongan hanya terjadi pada orang-orang yang takut melihat dunianya. Jika kita mau sedikit melirik, entah ke samping kanan kita, ke samping kiri kita, lalu ke bawah kita, tentu kita tak akan pernah ragu untuk menatap ke atas kita dengan ungkapan syukur yang tulus. Apa kabarmu hari ini, Kawan! Tentu baik-baik saja dan selalu sehat. Senyumanmu memancar ke seluruh penjuru. Don’t cry! If you know, you are spesial. You will change your life to a good life. Kawan, katakan pada siapa saja dengan kejujuran dalam hatimu. “Hari ini, aku baik-baik saja. Aku bangga mengenalmu. Kau inspirasiku.” Sederet kata-kata yang membuat orang-orang di sekitar kita bahagia.

Rabu, 21 Maret 2012

Pandangan terhadap dunia pasti berbeda. Kematian dipandang dengan ketakutan, namun sebaliknya banyak yang memandang kedekatan dengan Sang Tuhan. Hati mereka kosong, namun sebaliknya banyak hati-hati yang berlimpah ruah bahkan terbuang begitu saja membanjiri orang-orang yang mencari hikmah. Ini pilihan kawan. pilihan yang sebenarnya tidak sulit. pilihan yang memang harus memilih, bukan sekadar terlihat eksotis namun gelap. Pohon-pohon kayu saja punya kebijaksanaan. Lahir dari sebiji bibit, kemudian bertumbuh dan terus bertumbuh. Helai-helai daun mulai mengalun menyentuh derai-derai angin, menciptakan harmoni kehidupan. Akar menghujam dalam, menusuk jantung bumi, bekejar-kejaran dengan jutaan akar. apakah hanya jutaan? tidak. Tak ada yang mau repot-repot menghitung jumlah akar di dalam tanah. apalagi harus menghormati akar yang meski saling tumpang tindih tak pernah merampas milik pohon yang lain. Kita manusia. Katanya manusia orang hebat. Seringkali, orang-orang besar berkata, segala hal yang besar hanya untuk orang-orang besar. orang kecil tak pernah tahu sesuatu yang besar meskipun hanya terlintas di pikirannya. kita penentu. memilih atau dipilih. suka atau tidak. =Man Jadda Wa Jadda (Barangsiapa bersungguh-sunguh, maka dia akan mendapatkan kesungguhan hatinya)=

Selasa, 17 Januari 2012

Mimpi Itu Nyata, Terkadang Nyata Menjadi Mimpi

Rizal Effendy Panga. Lahir di Tabang, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur 9 November 1983. Lahir dari pasangan Rusman Panga dan Yatmiatun. Lahir dari keluarga yang berbeda suku, berada di lingkungan yang berbeda suku, membuat diriku harus belajar untuk memiliki sikap toleransi. Bapak saya berasal dari Banggai, Sulawesi Tengah dan Ibu berasal dari Nganjuk, Jawa Timur. Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Adik saya kedua-duanya adalah perempuan. Menjadi anak tertua dan anak laki-laki satu-satunya juga menjadikan diri saya sebagai seseorang yang harus menjadi contoh buat adik-adik. Pendidikan formal sejak SD hingga perguruan tinggi (S1) di tempuh di Samarinda Kalimantan Timur. Lulus SD tahun 1996 di SDN 016 Samarinda. Lulus SMP tahun 1999 di SMP Negeri 2 Samarinda. Lulus SMK tahun 2002 di SMK Negeri 4 Samarinda. Setelah lulus SMK, saya melanjutkan studi di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP, Universitas Mulawarman. dan sekarang sedang menempuh studi di Pascassarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Surabaya. Ketika masih kecil, saya ingin menjadi tentara. Bagi saya menjadi tentara dengan memakai seragam penuh dengan pangkat kelihatan lebih gagah dan berwibawa. Setiap ada acara televisi yang menampilkan atraksi ABRI, saya selalu menontonnya. Namun, mimpi ini berangsur-angsur lenyap. Ketika saya memasuki usia SMP, kehidupan nyata mulai menampakkan dirinya di hadapan saya. Sebuah kehidupan yang harus saya jalani. Orang tua saya bukanlah orang berada, sehingga tidak semua keinginan saya dapat mereka penuhi. Secara bertahap, saya mulai mengenal kondisi nyata keluarga kami. Ibu saya yang hanya lulusan SD selalu berkata, “Mama hanya lulusan SD, jadi susah mencari pekerjaan. Kerjaan yang penting ada, dan harus menggunakan tenaga yang besar. Kamu harus terus sekolah. Mama akan berusaha agar kamu tetap bisa sekolah. Mama ingin kamu jadi pegawai. Pegawai itu enak. Kerjaannya nggak berat. Tiap bulan dapat gaji. Setelah masa kerja habis, malah dapat uang pensiun. Nggak seperti mama yang harus banting tulang untuk menyekolahkan kamu.” Kalimat-kalimat ini terus meluncur setiap hari bagai doktrin yang semakin berakar. Saya harus rela jalan kaki pergi dan pulang sekolah. Tiap hari ini harus saya jalani. Kalau ada sedikit uang lebih, saya bisa menggunakannya untuk naik angkutan kota atau sekadar belanja kue di kantin. Hidup menuntun kehidupan saya untuk memilih. Ketika SMP, kondisi orang tua yang pas-pasan membuat diriku minder. Saya malu ketika harus berkumpul dengan kawan-kawan yang berasal dari keluarga kaya. Kalau ada teman yang mau ke rumah, saya selalu mencari alasan untuk menolak mereka datang ke rumah. Saya tidak ingin mereka melihat kondisi kehidupan saya di rumah. Saya menjadi anak yang pendiam. Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat ketika SD. Rizal kecil, meski pemalu tetap menjadi pusat perhatian dari pergaulan. Rizal kecil terus berusaha menjadi yang terbaik di kelas. Akibat rasa minder ini. mula-mula berimbas pada nilai-nilai mata pelajaran di SMP. Dari peringkat 2 di kelas satu SMP menjadi peringkat 2 dari belakang. Salah seorang guru saya yang mengetahui kondisi saya memberikan saya semangat. Nama beliau Pak Ardiansyah. Beliau memberikan semangat kepada saya untuk terus bangkit. Bahkan, beliau memberikan sebagian uangnya untuk membantu biaya sekolah saya dan uang sangu untuk jajan. Perbuatan beliau kepada saya memberikan pengaruh yang luar biasa. Kepedulian beliau mengajarkan kepada saya untuk saling berbagi. Seiring waktu, kepedulian orang-orang di sekitar saya menjadikan saya memiliki kepekaan sosial. Saya bertekat suatu saat jika saya diberikan kemampuan, saya harus mencontoh guru saya untuk membantu orang-orang yang kesusahan. Perlahan kepercayaan diri saya mulai bangkit. Pergaulan tak terbatas pada status ekonomi. Saya mulai berani memperkenalkan tempat tinggal saya kepada kawan-kawan saya. Nilai-nilai mata pelajaran mulai meningkat kembali meski untuk menjadi terbaik di kelas belum bisa saya raih kembali. Setelah lulusan SMP, saya masuk di SMK Negeri 4 Samarinda. Saat itu, dalam bayanganku cepat selesai sekolah, terus bekerja untuk membantu orang tua. Saya tidak ingin terus menjadi beban untuk orang tua saya, khususnya ibu. Ibu adalah orang yang terus mendorong saya untuk terus sekolah, walaupun beliau harus berhutang ketika membayar uang sekolah. Ketika kelas dua di SMK, ada sebuah peristiwa besar dalam kehidupan saya. Sabtu, 2 September 2000 bertepatan dengan ulang tahun adik saya yang paling kecil, saya kecelakaan. Kaki sebelah kiri bagian paha dan tulang kering saya patah karena berbenturan dengan mobil yang menabrak sepeda motor yang saya tumpangi. Padahal, saya menumpang tidak sampai 5 menit. Sebelum kejadian, saya pulang jalan kaki, teman saya lewat dengan memakai vespa, dan menawari saya untuk ikut bersamanya. Saya senang sekali. Sehubungan dengan saya mau kembali ke sekolah untuk pelantikan Paskibra, saya menerima tawaran dari kawan saya. Kejadian ini mengharuskan saya menginap di rumah sakit selama 21 hari ditambah 30 hari untuk istirahat di rumah. Awalnya saya sedih. Orang tua saya juga sedih dengan keadaan saya, tetapi mereka membesarkan hati saya. Kesedihan saya terbalas. Setelah kejadian yang menimpa diri saya. Saya menyaksikan kejadian-kejadian hebat. Tubuhku yang kecil perlahan semakin meninggi. Bapak saya yang belum pulang ke kampung kurang lebih 20 tahun, bisa pulang kampung, meski bapak sudah tidak bisa menemui kakek saya lagi. Kakek meninggal ketika bapak berada di Kalimantan. Kakek meninggal ketika saya lahir. Selain itu, orang tua saya bisa membeli sebidang tanah. Saya menyadari semakin kita bersyukur dan bersabar atas apa yang menimpa kita, maka kehidupan akan memberikan kejutan-kejutannya. Setelah lulus SMK, niat saya untuk langsung bekerja beralih untuk melanjutkan sekolah. Ibu mendorong saya untuk terus sekolah karena mengingat kondisi kaki saya. Saya berniat mendaftar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Saya meminta izin ke bapak dan ibu, namun mereka tidak mengizinkan karena harus sekolah di luar kota Samarinda. Ibu saya berkata, “Sekolahnya di sini aja, nggak usah jauh-jauh.” Saya pun akhirnya menuruti kemauan mereka. Saya bingung mau kuliah di mana. Om saya mengusulkan untuk mengambil Bahasa Inggris di Universitas Mulawarman. Menurut Om, jurusan bahasa Inggris itu masa depannya bagus karena banyak dibutuhkan orang. Saya hanya menurut saja. Ketika mengisi formulir pendaftaran SNMPTN, saya memilih Pendidikan Bahasa Inggris untuk pilihan pertama dan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah. Pada saat pengumuman, saya diterima di Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah. Jurusan yang saya pilih karena sama-sama bahasa. Awalnya saya ingin pindah jurusan di tahun depan, namun seiring perkuliahan tekad semakin kuat untuk menjalani perkuliahan. Tahun 2002 merupakan awal perkuliahanku. Saya berniat untuk menjadi yang terbaik. Di bulan-bulan awal perkuliahan, saya melihat pengumuman beasiswa S2 dengan syarat minimal 3,50. Saya bertekad untuk melanjutkan pendidikan saya semaksimal mungkin. Pengumuman ini menjadi motivasi yang begitu kuat, meskipun saat itu saya masih menjadi mahasiswa baru. Kuliah di jurusan guru, tentunya akan menjadi guru. Itulah yang terlintas dalam pikiran banyak orang. Apalagi memilih bahasa Indonesia. Jurusan ini masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang yang saya kenal. “Orang Indonesia kok kuliah di jurusan Bahasa Indonesia.” Tahun 2004, saya mulai mengajar. Saya mengajar di SD karena menggantikan kakak tingkat saya yang sedang KKN. Pengalaman mengajar pertama kali membuatku berkeringat dan gugup, meskipun yang saya hadapi hanyalah murid kelas 3 SD. Untuk menjadi guru ternyata tidak mudah. Di SD, saya hanya mengajar sekitar 2 bulan. Setelah itu saya tidak mengajar lagi karena kakak tingkat saya sudah kembali. Saya pun tidak mengajar lagi. Sebulan kemudian, salah seorang teman saya menawarkan untuk mengajar di sebuah SMP swasta tak jauh dari rumahku. Berbekal pengalaman dua bulan mengajar, saya memberanikan diri untuk mengajukan diri mengajar di SMP tersebut. Alhamdulillah, saya diterima. Jadilah, saya seorang guru resmi yang masih berstatus mahasiswa. Sekolah menjadi tempat saya untuk bereksperimen dan terus mencari cara-cara yang tepat dan berkenan di hati siswa-siswa saya. Berbagai perlakuan, dari menjadi guru yang suka marah-marah, suka nyubit, hingga akhirnya ku tinggalkan semua itu. Saya menyalahkan diri sendiri. Bukan siswa yang harus mengerti saya, tetapi saya yang harus memahami mereka. Setiap kejadian dalam pekerjaan sebagai guru membuat saya semakin terasah untuk menemukan hal-hal yang tidak saya temukan di kampus ketika perkuliahan. Saya ingin menjadi guru yang menjadi teladan bagi siswa-siswa saya. Bukan hanya dari segi ilmu, namun dari segi akhlak. Guru bukan hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Pernyataan inilah yang membuat saya untuk terus belajar banyak hal. Tahun 2008, saya menyelesaikan S1 dan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan. Saya lulus dalam waktu 6 tahun dengan IPK 3,62, meski semua materi perkuliahan selesai dalam waktu 3,5 tahun. Saya jadi teringat dengan pengumuman yang saya baca ketika awal perkuliahan. Saya tidak pernah memberikan batasan kepada diri saya tentang kapan saya harus lulus, tetapi saya menentukan berapa nilai yang saya peroleh. Namun untuk menjadi dosen, sekarang harus memiliki kualifikasi S2. Saya tidak memiliki kualifikasi pendidikan sebagai dosen, akhirnya di tahun ini saya mendaftar sebagai PNS (Guru) di lingkungan Pemerintah Kota Samarinda. Alhamdulillah, saya diterima dan di tempatkan di SMA Negeri 11 Samarinda. Sebagai seorang guru, saya masih punya keinginan. Saya sudah mengajar siswa dari tingkat PAUD hingga SMA. Saya hanya fokus mengajar pada jenjang SMA. Dalam lubuk hati saya, masih menginginkan untuk mengajar di perguruan tinggi. Guru dan Dosen bagi saya ada hal yang prinsip yang membedakan keduanya. Guru dalam memberikan penilaian tidak bisa independen karena berbagai sebab di lapangan, namun dosen dalam memberikan penilaian bisa independen tanpa ada tendensi dari pihak manapun. Saya memiliki kebiasaan untuk menuliskan nama, Prof. Dr. H. Rizal Effendy Panga, S.Pd. M.Pd. dalam setiap soal ujian yang saya berikan kepada siswa. Supaya tetap bisa berterima di soal, saya selalu mengunakannya untuk menganalisis tanda baca. Soal ini selalu saya berikan di setiap ujian. Rangkaian gelar yang menempel di nama saya meskipun saat ini masih belum semua saya peroleh, saya percaya suatu saat ini pasti terjadi. Dulu ketika saya mengingin beasiswa S2 ketika awal kuliah, hari ini saya sedang menjalani studi yang sudah lama saya impikan. Berbeda dengan S1, untuk studi S2 saya sudah menanamkan dalam hati dan pikiran saya untuk memperoleh predikat lulusan tercepat dan terbaik. Bagi saya sekolah lagi bukan hanya menjadi orang pintar namun menjadi teladan bagi orang-orang yang berada di sekitar saya, khususnya keluarga saya. Semangat ibu saya untuk melihat anaknya untuk terus sekolah kini terpatri begitu kuat. Saat ini saya menguatkan hati saya, bahwa saya akan menyelesaikan pendidikan saya hingga program doktoral. Ini saya lalukan karena orang tua saya, khususnya ibu saya. Tidak ada batas untuk mencari ilmu. Selama kita menginginkan ilmu, maka ilmu akan mendekat. Selain itu, saya punya niatan untuk menghafal Al Quran 30 juz. Penghafal Al Quran yang ikhlas bisa menjadi penolong bagi orang tuanya ketika di akhirat. Saya juga menyadari untuk menghafal Al Quran perlu perjuangan, tekun, serta sabar. Beberapa kali hafalan saya hilang karena saya tidak melakukannya secara rutin. Saya merasa kesulitan ketika harus membagi kapan saya menghafal dan mengerjakan hal lain. Sampai hari ini saya pun hanya mampu menghafal surah-surah pendek saja, namun saya masih berharap suatu saat saya bisa menyelesaikan hafalan saya. Saya punya keinginan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua. Kemudahan-kemudahan dalam kehidupan saya tentu tak terlepas dari restu keduanya. Meski keinginan ini sifatnya tidak bisa diukur. Saya meletakkan keinginan ini pada urutan utama dalam kehidupan saya, setelah Keridhaan Allah dan Rasulullah SAW. Suatu saat, saya ingin kedua orang tua saya dapat berangkat haji dengan biaya dari saya. Saya ingin menghapus kerutan-kerutan di wajah ibu saya dengan senyum di wajahnya. saya ingin menjadi anak kebanggaannya. Manusia hidup berpasang-pasangan. Saya pun punya keinginan untuk menikah. Saya berencana menikah setelah menyelesaikan pendidikan S2. Saya juga punya keinginan untuk menjadi pengusaha. Namun, hingga saat ini tak satu pun usaha mandiri yang pernah saya lakukan karena aktivitas yang cukup padat sebagai pengajar. Beberapa kali usaha bergabung dengan teman, namun belum berhasil. Saya menyadari menjadi pengusaha bukanlah hal mudah. Perlu persiapan ilmu dan latihan secara terus-menerus. Seperti anak kecil yang belajar naik sepeda. Ketika jatuh, bangun lagi, jatuh lagi, bangun lagi. Akibat banyak jatuh mungkin terluka, namun ketika sembuh terus belajar karena satu tujuan bisa naik sepeda. Meskipun prosesnya sama, menjadi pengusaha tak seperti belajar naik sepeda karena kerugian yang mungkin diterima bukan luka yang bisa sembuh dalam beberapa hari, sehingga perlu mempersiapkan mental dan pengembangan diri. Berbagai buku-buku pengembagan diri saya agar saya mengetahui apa yang harus saya lakukan. Saya juga punya keinginan suatu saat jika diberikan kemampuan untuk memiliki sebuah sekolah. Sekolah yang independen. Tidak harus terikat pada aturan sekolah formal. Sebuah sekolah yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk berani menentukan pilihan dalam kehidupannya. Pilihan untuk menjadi orang-orang terbaik sesuai keinginannya. Sekolah yang menyenangkan. Sekolah yang membangun kerjasama tim, bukan sekolah yang hanya disuapi ilmu tetapi tidak mampu memiliki kecakapan dalam menghadapi kehidupannya. Sekolah yang menuntut siswa untuk berani berbeda dengan dasar yang bisa dipertanggungjawabkan karena setiap individu berbeda dan tidak mungkin disamakan. Banyak keinginan-keinginan dalam kehidupan ini, namun keinginan terkuat adalah menjadi orang yang bermanfaat untuk banyak orang. Menjadi teladan bagi diri sendiri, keluarga, dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Keinginan akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Kehidupan akan membuat kita memiliki keinginan. Keinginanlah yang akan membuat kita bersemangat untuk hidup. Hidup yang bermanfaat. Bersyukur membuat kehidupan lebih bermakna. Demikian, deskripsi yang bisa saya berikan tentang saya dan keinginan-keinginan saya dalam kehidupan ini. Surabaya, 4 Januari 2012 Pemimpi, Prof. Dr. H. Rizal Effendy Panga, S.Pd. M.Pd.

Jumat, 13 Januari 2012

Adikku

Hujan datang lagi adikku. mungkin disana juga sedang hujan. tapi aku tahu, kau masih punya asa. tak hanya diam menanti rembulan terbit malam ini. kau, pasti terus melangkah, meski kau tak kuat melangkah sendiri. tapi aku tahu kau masih punya kedua kaki. kalau lelah, istirahatlah. ketika lelahmu hilang, kembalilah untuk melangkah. kau tahu adikku, bahwa disini aku banyak menjumpai orang-orang tak berkaki, tetapi masih bisa menatap pagi sembari tersenyum. Bukan waton tapi maton (bukan asal, tapi berazas). Kemarin ku dengar, kalimat pendek itu dari guruku. adikku, kalimat ini memang sederhana. Sesederhana itukah? Ya. Adikku, kau sekarang sedang belajar bukan? Pesanku, belajarlah untuk mengatakan yang benar, bukan perkataaan yang asal-asalan. mungkin kadang-kadang orang tidak suka dengan kebenaran yang kau katakan, tapi percayalah itu akan menjadi bagian dari dirimu. matahari pun selalu benar. terbit selalu dari arah timur menuju barat. andai, matahari berbohong sekali saja kepada tuhan dan datang dari arah timur. tentu semesta akan terganggu. Mungkin kalau kita asal-asalan, orang-orang di sekitar kita juga terganggu. teruslah belajar adikku. Adikku, menenangkan hati memang tidak mudah. kadang kita bisa, kadang kita malah menambah gelisah. sementara, burung-burung hanya tahu rasa gembira, tak pernah sedih, pergi pagi mencari makan, dan pulang sore dalam keadaan kenyang. lalu tertidur. manusia memang bukan burung adikku, tapi kita bisa belajar dari semangat sang burung. Adikku, di sini hujan lagi. mungkin di sana sedang panas. namun, aku ingin kau tetap dingin. dingin yang lembut yang memberikan kesejukan bagi matahari. matahari sudah terlalu tua untuk merasakan kesejukan, mungkin juga sudah lupa rasanya bagaimana. adikku, jika kau terbangun ingatlah bahwa matahari itu akan bangkit dengan memberikan kehangatan kepada bumi dari dinginnya malam. namun, jika malam hari kau jangan bersedih, karena matahari sedang menghangatkan belahan bumi yang lain. adikku, kau tahu bukan, bahwa hibup harus bermanfaat laksana matahari yang memberikan kehangatan tanpa diminta, meskipun dirinya tak pernah merasakan kesejukan. Adikku, jangan bersedih lagi meski dunia sudah berlaku tak adil padamu. Hari ini, lahar di mataku memberontak setelah mendengar kisahmu. Mungkin itu karena aku tak bisa melihat wajahmu. Aku tahu, hatimu sedang berduka. Adikku, kau tentu ingat tentang seorang anak yang kita temui di pasar. Meski sudah lama, kau masih ingatkan dengan wajah anak itu. Kau dulu pernah bilang, dunia tak adil bagi anak itu. Tapi kini, kakakmu juga beranggapan yang sama denganmu. Dunia sedang berlaku tidak adil padamu. Adikku, kau tahu, hidup terus berlayar menuju garis finish. Meski dayungmu retak, jangan kau biarkan dayung itu patah. Ikatlah yang kencang agar kuat menahan gelombang kehidupan. Aku tahu kau masih bisa tersenyum adikku. tersenyumlah yang paling manis, yang belum pernah kau tunjukkan kepadaku.

Sabtu, 17 Desember 2011

Guruku, Sekarang Aku Guru

Langit hari ini harus menangis. Sudah beberapa hari debu jalanan di kota ini tak pernah dibersihkan. Mungkin mereka lupa caranya membersihkan. Awan sudah gerah melindungi kota ini dari matahari. Sebenarnya, langit pun protes karena harus selalu menangis, tetapi langit tidak tega melihat bumi harus sesak nafas akibat debu-debu yang berserakan. Langit menangis sejak jam dua siang. Padahal langit tak ingin menangis, tapi kenapa tangisannya begitu memilukan sehingga tangisannya tak berhenti hingga sekarang. Ketika tangisannya mulai sesenggukan, aku mulai melangkahkan kakiku dari kampus tempatku belajar. Aku tiba di kota ini sekitar dua minggu yang lalu. Aku berasal dari Samarinda. Kota kecil di mana aku belajar banyak hal. Kota ini pun merupakan ibukota provinsi yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya. Ya, apalagi kalau bukan Kalimantan Timur. Aku bisa sampai ke kota ini itu pun karena bantuan dari pemerintah provinsi ini. Aku diberi bantuan Pemerintah Kalimantan Timur untuk melanjutkan sekolah. Kota ini terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan. Surabaya. Aku belajar di Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Surabaya. Dalam dua minggu ini, tugas-tugas kuliah mulai memburu diriku. Beberapa tugas tak bisa tahan mengantre. Mungkin tugas-tugas ini juga menonton televisi, ketika orang-orang kaya ini membagikan rezeki mereka di tempat umum. Masyarakat berjubel berebut sembako. Tak tahan untuk mengantre karena takut tak dapat bagian. Ya, aku pun harus membiarkan tugas mana saja yang tak sabar. Ada yang minta didahulukan karena waktunya udah mendesak. Ada yang hanya pasrah karena aku singkirkan sementara dari otakku. Siapa suruh jadi tugas kok memahaminya harus baca berkali-kali. Itu pun tidak mengerti juga. Aku harus segera sampai di kos. Meski kepala agak pusing terkena tetesan hujan, aku tetap melangkah. Aku singgah di toko fotocopi, membeli beberapa lembar kertas cover dan lakban hitam. Aku sedikit terhibur. Di sebelahku, berdiri seorang wanita. Dia mahasiswa juga meski jenjangnya setingkat di bawahku. Aku bertanya sekilas di jurusan apa dia kuliah. “Fakultas Ilmu Sosial, Jurusan Administrasi Niaga,” katanya. Setelah itu, aku hanya menatap wajahnya tanpa pernah tahu namanya, sambil menunggu uang kembalian. Setelah mendapatkan uang kembalian. Aku segera melangkahkan kakiku. Aku berada beberapa langkah di belakang wanita itu. Tanpa saling menyapa, kami berpisah di depan gang di samping warung bakso. Sebuah rel kereta api terbentang. Lampu berwarna merah. Jalan dihadang dengan portal belang-belang berwarna merah dan putih. Tak lama kemudian, sebuah kereta api meluncur dengan kecepatan tinggi. aku hanya menatapnya. Tak ada orang di depan pintu, mungkin karena hujan. Jadi, tidak ada seorang penumpang pun yang rela dirinya ditusuk-tusuk hawa dingin. Mungkin lebih enak tidur kali. Tak lama kemudian, aku sampai di kos. Kos-kosan ini adalah rumah bertingkat tiga. Lantai dasar ada sebuah toko bangunan milik bapak kos. Di lantai dua, terdapat tujuh buah kamar. Aku tinggal di kamar pertama sebelah kanan bersama Pak Arif, seorang guru senior di kotaku. Kami sama-sama menerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Lantai tiga, terdiri dari tujuh kamar juga yang belum jadi dan tentunya tidak berpenghuni. “Pak Arif belum pulang,” batinku. Aku mengeluarkan anak kunci dan memasukkannya di lubangnya, memutarnya sekali, memegang gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Kamar gelap. Jendela masih tertutup. Ku tekan saklar yang ada di dinding, lampu pun menyala. Udara kamar pengap, meski cuaca di luar ruangan dingin. Ku buka jendela. Udara dingin dari luar mulai menggeliat masuk ke dalam ruangan ini. ruangan yang berukuran sekitar 3x3 meter. Ku letakkan tas, ku buka jaket, dan angin segera menyusup ke celah bajuku. Ku rebahkan sejenak badanku. Aku teringat sesuatu. “Selama kita menguasai ilmu kita, di mana pun kita berada kita akan selalu di pakai orang,” kata dosenku ketika aku kuliah di Universitas Mulawarman. Beliau bernama Drs. Rusdy Ahmad, M.Hum. Awalnya ku pikir, ini hanya hiburan bagi kami karena kami masuk kuliah di jurusan yang tidak menjadi favorit untuk banyak orang. Saat itu, usiaku delapan belas tahun. Tahun 2002, aku memulai statusku sebagai mahasiswa di Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP, Universitas Mulawarman. Begitu banyak ejekan dari orang-orang yang ku kenal. “Untuk apa masuk di jurusan bahasa Indonesia. Orang Indonesia, kok belajar bahasa Indonesia lagi. Memang nggak bisa bahasa Indonesia ya,” kata temanku di jurusan yang lain. Aku hanya diam mendengar ini. “Bahasa Indonesia itu membosankan,” temanku yang lain menuturkan. Banyak kalimat-kalimat serupa yang menganggap sebelah mata jurusan yang ku tempuh. Hampir setiap hari, aku mendengar ejekan-ejekan ini. Bahasa Indonesia adalah pilihan kedua, ketika Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Aku belum merasakan kedekatan batin dengan jurusan ini. Sampai-sampai aku punya niat untuk pindah jurusan di tahun berikutnya ke Bahasa Inggris. “Mungkin tahun ini, aku kurang beruntung,” batinku sambil terus memberi semangat kepada diriku. Bahasa Inggris adalah jurusan favorit. Aku niatkan untuk terus memperbaiki diri. Hari ini aku kuliah, Linguistik. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa. Pak Rusydi mengampu mata kuliah ini. Beliau tidak terlalu tinggi, tidak banyak bicara, namun tegas dalam penyampaian. setiap mata kuliah beliau selalu hening karena beliau tidak begitu suka dengan kegaduhan. Bagi beliau, ilmu nomor satu. Bahkan terkesan tidak menyukai mahasiswa yang hanya fokus pada kegiatan kemahasiswaan tanpa pernah peduli dengan kemampuan akademisnya. “Kalian datang kemari, dibiayai orang tua untuk kuliah bukan untuk berkegiatan, dan satu hal perlu kalian ingat, kalian tidak bisa mengikuti segala kegiatan di kampus ini tanpa pernah menjadi mahasiswa di kampus ini,” itu kata-kata beliau yang sering terlontar, jika menyikapi mahasiswa yang menghabiskan masa studinya hanya untuk berkegiatan tanpa pernah peduli dengan kuliah. Mengikuti kuliah beliau, membuat aura idealisme pada diriku yang baru menjadi mahasiswa terasah. Satu bentuk kesempurnaan dan menjadi yang terbaik perlahan-lahan tertanam dalam batin dan pikiranku. Mata kuliah ini begitu menyita perhatianku dari keinginan diriku untuk pindah jurusan. Seiring berjalan waktu, keinginan itu pun berangsur-angsur hilang. Aku mulai mencintai pilihanku meski tanpa disengaja. Ketika mendaftar, om memilihkan jurusan bahasa Inggris karena melihat peluang kerjanya. Aku harus punya dua pilihan, pilihan pertama sesuai pesanan om dan pilihan kedua daripada bingung-bingung aku memilih bahasa Indonesia karena sama-sama bahasanya. Selepas dari semester satu, akhirnya aku memiliki sebuah pilihan. Aku tetap berada di jurusan bahasa Indonesia karena aku mencintainya. Kembali terngiang kalimat yang sering diucapkan oleh Pak Rusydi setiap kali beliau memberikan kuliah di kelas kami. “Selama kita menguasai ilmu kita dimana pun kita berada kita pasti akan dipakai oleh orang lain,” ingatku sambil terus membenamkannya ke dalam lubuk hatiku. Pelajaran berikutnya yang saya pelajari, beliau adalah orang yang taat prosedur dan melakukan segala sesuatu berdasarkan ketentuan yang berlaku dengan dasar logika yang jelas. Hari ini aku datang ke kampus cukup pagi. Aku melihat sebuah pengumuman di depan ruang dosen. Pengumuman tentang beasiswa S2. “Beasiswa S2. Syarat: Lulus S1, IPK minimal 3.50,” ku baca tulisan itu. Entah, perasaanku tiba-tiba mengarahkan untuk mengambil sebuah keyakinan bahwa suatu saat saya akan mendapatkan beasiswa S2. Aku yakinkan dalam diriku untuk menetapkan angka yang ku peroleh selama perkuliahan harus lebih dari 3.50. Selang setahun, aku tak mengingat pengumuman itu lagi. Namun efek dari keyakinan itu memberikan kekuatan bagiku untuk mendapatkan angka itu. Semester pertama IPK 3.47 dan semester kedua IPK 3.33. aku jalani terus perkuliahan. Grafik IPK dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan yang signifikan. Tiga tahun setengah aku menyelesaikan teori perkuliahan. Pengaruh lingkungan membuat diriku memilki fokus yang beragam. Diawali penundaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) karena menyibukkan diri dengan kegiatan di luar kampus. Ditambah lagi beban mengajar yang semakin padat di sebuah SMP swasta. Akibat bujukan teman untuk belajar berwirausaha, akhirnya aku tak menyerahkan berkas KKN yang telah ku susun. Dua bulan kemudian, aku Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sebuah sekolah ternama di kota ku selama empat bulan dengan hasil yang mendekati sempurna. Setelah PPL ini, teman-teman mulai menggarap skripsinya, sementara diriku sibuk menyiapkan berkas untuk mengikuti KKN yang tertunda. Aku belum bisa mengurus skripsi karena konsentrasi terpecah. Akhirnya aku memilih untuk menyelesaikan KKN terlebih dahulu. Selesai KKN, teman-temanku sudah mulai menyiapkan berkas wisuda. Mereka telah lulus. Satu kegelisahan mulai timbul dalam benakku. Benarkah aku terlalu sombong? Ku renungi diriku yang selalu menginginkan kesempurnaan. Hari ini teman-temanku telah diwisuda dan aku hanya menjadi penonton. Bahkan, aku tak hadir di acara wisuda mereka. Aku masih menganggap bahwa diriku lebih baik dari mereka, tapi faktanya mereka lebih dulu selesai dariku. Aku menyalahkan diriku. Namun, aku tak begitu menghiraukan kegelisahanku. Aku sibukkan diriku untuk mengisi kekosongan hatiku dengan mengajar. Aku berekspserimen di sana. Aku harus menjadi yang terbaik bagi mereka. Aku gelisah, ketika guru mengajar hanya sekadar mengajar, terlebih lagi mengajar hanya untuk mengejar uang. Kuliah ku lupakan. Yang ku ingat hanyalah, bagaimana membuat siswa menjadi lebih baik. Sudah lima tahun usia perkuliahanku, aku sadar jika tidak ku kerjakan ini tidak akan selesai. Kebetulan dosen pembimbingku adalah Pak Rusydi. Aku datang ke rumah beliau menceritakan persoalanku, kemudian ku tunjukkan keseriusanku untuk menggarap skripsiku. Di sela-sela mengajar, aku mulai mengetik huruf demi huruf skripsiku. Konsultasi, revisi, konsultasi lagi dan terus begitu. Hingga ada sebuah cobaan, Proposal skripsi yang sudah ku buat terkena virus. Cadangan data di beberapa teman juga terkena virus. Akhirnya, berhenti lagi untuk menulis skripsi. Setelah dua bulan, komputer di sekolah diperbaiki, aku buru-buru mencari data yang telah ku ketik. Aku lihat folder dengan bertuliskan namaku. Ku buka dan ku arahkan pointer ke arah file, ku klik dua kali. Aku melihat file ku masih ada. Ku periksa keseluruhannya, masih lengkap. Dalam hati aku bersyukur. Segera ku hubungi Pak Rusydi dengan membawa berkas proposal skripsi. Beliau bertanya mekanisme saya dalam menjalankan penelitian. Aku menjawabnya sesuai teori yang ku himpun. Dengan sedikit revisi, akhirnya aku bisa maju seminar proposal. “Zal, setelah seminar proposal ini segera lakukan penelitian!” “Baik, Pak!” “Bagaimana persiapannya?” “Saat ini, saya masih mengumpulkan dana untuk biaya perjalanan dan membeli beberapa alat penelitian.” “Segera, kalau ada kesulitan hubungi bapak!” “Baik, Pak!” “Satu lagi, jangan lama-lama, setelah penelitian cepat selesaikan skripsinya.” “Baik, Pak” Setelah dana terkumpul. Alat-alat dan bahan penelitian telah ku beli. Aku pun berangkat menuju perkampungan Dayak di pedalaman Kalimantan Timur. Aku meneliti di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kaltim. Jarak tempuh dari kotaku sekitar 8 jam. Waktu ini adalah kondisi normal. Jika jalan rusak, untuk sampai ke daerah ini bisa berhari-hari terutama pada saat musim hujan. Beruntung saat ini cuaca cerah dan kondisi jalan masih mulus karena baru diperbaiki. Aku meneliti di dua desa. Desa Deaq Leway dan Desa Nehas Liah Bing. Jarak antara dua desa ini 30 menit perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Desa Deaq Leway adalah tempatku KKN, jadi aku sudah tebiasa dengan warga di sana. Aku berada di desa ini sekitar dua minggu, ketika data sudah cukup, aku pamit kepada mereka. Aku pulang ke Samarinda membawa membawa serta data-data penelitianku. Berbulan-bulan ku curahkan perhatianku untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini. timbul kejenuhan yang membuat diriku berhenti. Hingga akhirnya ditengah kebuntuan, tanpa sengaja aku ketemu dengan dosen pembimbingku. Siapa lagi kalau bukan Pak Rusydi. Ada rasa malu yang menyelinap masuk di hatiku. Beliau langsung bertanya tentang skripsiku yang sudah setahun belum terselesaikan setelah penelitian. “Saya bingung, Pak. Ada beberapa data yang belum bisa saya selesaikan,” kataku dengan perasaan was-was. “Kalau bingung tanya. Jangan diam saja. kalau diam ya, nggak selesai-selesai. Besok saya mau lihat apa yang kamu temukan. Temui saya di kampus,” kata Beliau. Akhirnya, aku pasrah. Esok harinya ku bawa data penelitianku dan menunjukkan kepada beliau. “Apa yang kamu bingungkan.” “Bagian analisis datanya, Pak. Ada beberapa data yang belum saya temukan padanannya.” “Inikan tinggal dibuat begini terus analisisnya begini,” “Wah kalau begitu saya bisa, Pak!” “Kalau bingung, ya tanya. Jangan diam saja. kalau nggak mau nanya ya nggak bisa selesai-selesai. Cepat selesaikan!” “Iya, Pak. Terima kasih.” Hari yang kutunggu, mungkin juga dinanti-nantikan oleh kebanyakan mahasiswa tiba. Hari ini aku disahkan sebagai sarjana. Aku harus rela menanggalkan status mahasiswaku untuk bertempur di dunia nyata. Ku ucapkan syukur. Namun, hari bahagiaku tak sempurna karena bapakku tak bisa hadir. Beliau sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sedih. Aku harus tetap tersenyum. Mungkinkah, Bapak kecewa padaku karena harus lulus dalam waktu 6 tahun. Cepat-cepat ku lupakan. Mungkin bapak hanya sibuk. Aku laki-laki, harus bisa tegar dihadapan beliau, apalagi Mama mendampingiku. Ibuku punya sebuah cita-cita. Anaknya jadi pegawai. Sekarang aku sudah mengajar di SMA Negeri di kotaku dengan status Pegawai Negeri Sipil. Secara lahir, saya sudah mewujudkan keinginan ibuku. Namun, diriku masih bergejolak. Hasratku untuk terus belajar tak pernah padam. Sering ku tuliskan dalam setiap soal-soal yang ku berikan kepada murid-muridku. “Prof.Dr. H. Rizal Effendy Panga, S.Pd. M.Pd.” Inilah yang jadi hasratku untuk terus belajar. Satu gelar telah ku dapatkan. Berita itu datang mengejutkan. Informasi yang sudah lama ku nantikan. Informasi beasiswa S2 dari pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Aku mendengar dari rekanku di kantor. Hari itu juga ku telusuri kebenaran informasi itu. Aku tak bertemu dengan pejabat yang berwenang menangani informasi ini. ketika, aku bersantai di rumah. Adik mamaku datang membawa satu berkas surat berisi informasi yang sedang ku cari. Aku membacanya. Jurusanku, dicari 15 orang untuk menerima beasiswa ini. Ku persiapkan mentalku. Ku persiapkan segalanya. Mulai dari perizinan kepada kepala sekolah, instansi terkait. Hingga akhirnya aku bisa mengumpulkan berkas beasiswa ini di dinas pendidikan kotaku. Aku pun menjalani serangkaian tes. Impian tak pernah meninggalkan orang yang mencari dan berusaha meraihnya. Sore itu, dering telepon selulerku membawa sebuah pintu ke arah mimpiku. “Zal, informasinya udah ada tuh, coba dicek namamu ada atau nggak?” kata kawanku di seberang sana. “Iya, Kang Mas. Terima kasih,” Aku pun bergegas membuka laptop dan mencari informasi yang ku nantikan. Setelah klik sana-sini. Ku temukan seberkas surat keputusan penerima beasiswa yang di surat itu tertera nama ‘Rizal Effendy Panga’ di urutan nomor 2. Aku bersyukur. Ku kabarkan pada orang tuaku. Ku kabarkan pada dunia. Aku menemui guruku. Beliau senang. Beliau memberikan semangat baru kepadaku untuk terus belajar. “Belajarlah, nanti kamu akan lihat bedanya. Gali ilmunya,” kata beliau. Aku hanya mengangguk. Aku mohon doa kepada beliau agar studiku juga bisa berhasil. “Tok…tok…tok….” “Zal, buka pintu!” Aku terhenti dari lamunanku. Pak Arif sudah datang rupanya. Cepat ku buka pintu kamar kosku. Setelah itu, aku pun bergegas mandi. Kota ini cukup panas, sehingga tubuhku pun harus menyesuaikannya. Banyak hal yang harus ku pelajari disini. Salah satunya, aku bertemu lagi dengan seorang guru yang mengajarkan kepadaku hal baru lagi. Pak Budi namanya. “Jadi orang pintar itu harus tahu tata krama. Harus banyak belajar. Master itu seperti empu. Jadi ya, mesti belajar. Belajar untuk berani berbeda dengan orang lain. Berbeda yang berazas.” kata Pak Budi. Guruku sekarang aku guru. Aku harus belajar untuk menjadi Mahaguru. Sekarang aku mulai tahu, bahwa aku banyak tidak tahu. Semakin ku gali. Semakin ku tambah kepandaianku. Semakin aku tak mampu mengatakan bahwa diriku adalah orang pintar. Semakin malu aku mengumbar pengetahuanku yang sedikit, sementara begitu banyak pengetahuan yang terselubung yang belum mau menampakkan dirinya padaku. Guruku sekarang aku guru. Namun, pantaskah diriku disebut guru, ketika seorang muridku bertanya aku tidak melayaninya dengan ikhlas. Aku harus berkenalan lagi dengan pengetahuan yang masih sungkan untuk menyapaku. Mungkin karena aku lupa kepada mereka selama ini atau mungkin karena aku terlalu bangga pada milikku yang sedikit. Guruku, sekarang aku guru yang terus belajar untuk menjadi Mahaguru, bukan hanya demi diriku tetapi karena banyak produk pendidikan yang salah jalan. Banyak produk pendidikan yang korupsi. Banyak produk pendidikan yang tidak bertanggung jawab. Banyak produk pendidikan yang hanya mementingkan dirinya. Aku yang salah karena aku guru, meski aku tak pernah mengajari mereka.
silahkan tempatkan kode iklan, banner atau teks disini