Jumat, 14 Agustus 2009

The Journey to Unfold the Path Inside the Yggdrassill Tree (Perjalanan Mengungkap Jalan di Pohon Yggdrassill)

Sepuluh abad setelah berdirinya pohon Yggdrassill diatas Midgard, tak ada lagi suku Elves yang tersisa. Kaum- kaum yang menyandang elemen- elemen kehidupanpun tak ada lagi yang tersisa. Kemajua perkembangan ras manusia sangat pesat hingga tersebar diseluruh Midgard. Kejadian runtuhnya tembok sihir seabad yang lalu hanya menjadi sebatas cerita penghantar tidur saja bagi segilintir orang. Manusia tak lagi percaya akan sihir yang menyebabkan punahnya ras lain selain manusia, tumbuhan, dan hewan.
Memasuki pertengahan abad ke-14, manusia menghapus logika magis menjadi sains. Berbekal ilmu pengetahuan alam manusia menggabungkan hasil ciptaan Tuhan dengan ciptaan mereka, Homonculus. Para saintis yang menggeluti bidang kimiawi disebut Alchemist, bidang biologi disebut Biochemist dan yang menggeluti ilmu sains dan magis, Creator. Pohon Yggdrassill, walau telah tenggelam kisah nyatanya dibalik genangan dongeng penghantar tidur, namun bagi para Creator, pohon ini jelas nyata.
Seorang Creator yang memiliki kemampuan intelegensi yang tinggi tampak sangat tertarik saat ia mendengar Proffesornya di Accademy of Science tentang pohon ini. Leezard Valeth, seorang pria yang amat disanjung para Proffesor yang pernah mengajarnya karena kepandaiannya dalam membaca dan menterjemahkan setiap huruf Rune kuno dalam kitab- kitab mantera kuno pada abad ke-12.
Dan, dari otak yang pandai dalam membaca aksara inilah kisah dari perjalanan ini dimulai.
Pada suatu malam saat Valeth melewati ruangan salah satu Proffesornya Laspuchin Berdoa ia mendengar percakapannya dengan Metheus Methyss yang sedang memperdebatkan tentang eksistensi dari pohon Yggdrassill.
“Tempat ini pasti ada ditanah para Viking bermukim, tanah dimana Odin menanam Jantung Ymir!” tegas Laspuchin.
“Tetapi tahukah engkau betapa mustahilnya menemukan tempat bermukim kaum barbar itu!? Begitu masuk tak akan bisa kembali!” pungkas Metheus.
“Kaum barbar? KAUM BARBAR KATAMU!? Viking adalah reinkarnasi dari para Aenferior Lenneth Valkyrie yang gugur saat Ragnarok, Book of Everlasting, buku ini adalah bukti nyata, catatan tulis tangan Belenus yang merupakan salah satu Aenferior Lenneth Valkyrie!” tegas Laspuchin bersikukuh dengan pendapatnya.
“Belenus katamu? Aku jadi mempertanyakan gelar proffesor yang kau dapat jika kau sudah tahu para Aenferior Lenneth Valkyrie adalah roh, jiwa orang mati yang aku yakin makhluk- makhuk transparan seperti itu tak akan bisa memegang benda- benda di Midgard yang keseluruhannya adalah benda- benda padat!” ketus Metheus datar.
“Kau Alchemist, hanya memikirkan antara benda padat, gas dan cair saja, senyawa atau apalah itu, pernahkah otak kimiamu itu mampu menjelaskan kejadian Ragnarok!? Adakah asam atau apa dalam pertempuran seribu tahun? Apakah Odin bertempur dengan Surt hanya memperebutkan tempat yang penuh dengan O2??” desak Laspuchin.
“Kau…”
“Maaf Proffesor saya menyela, suara anda berdua terdengar waktu saya melewati ruangan ini” sela Valeth tiba- tiba mengejutkan keduanya.
Keduanyapun terkejut dan tak menyangka kalau Valeth mendengar percakapan mereka. Valeth berjalan ketengah ruangan mendekati mereka.
“Sedari awal saya telaah dengan yang anda berdua debatkan, saya tak beranni lancang tetapi saya yakin anda berdua percaya dengan keberadaan pohon Yggdrassill” sergah Valeth.
“Oh Valeth, kau selalu diterima” sanjung Laspuchin.
Laspuchin lalu mempersilakan Valeth untuk duduk bersama mereka didalam ruangan itu.
“Nah, aku ingin kau utarakan dengan intelegensimu yang tinggi itu tentang masalah yang kami bicarakan?” desak Laspuchin.
“Sebelumnya bolehkah saya tahu apa akar masalah dari pertikaian anda berdua?” lanjut Valeth.
Laspuchin lalu menceritakan semuanya dari awal dan Valethpun menawarkan diri untuk menterjemaahkan seluruh buku dari Book of Everlasting. Keduanyapun setuju sekali dengan usul Valeth dan bersedia memberinya waktu hingga satu bulan.
Setelah lewat sebulan Valethpun mengumumkan hasil terjemaahan Book of Everlasting kepada kedua Proffesor itu. Keduanyapun puas, terutama Laspuchin yang girang sekali saat tahu bahwa lokasi pohon Yggdrassill itu benar- benar ada. Laspuchin bahkan bersedia mentanda tangani surat pengadaan ekspedisi untuk mencari tempat ini dengan dana Academy of Magic yang diminta oleh Valeth sendiri dengan alasan studi ilmiah.
Sebenarnya tak ada yang tahu dan menyangka sisi gelap Leezard Valeth. Selama ini intelegensinya yang tinggi telah membuat dirinya congkak hati, ia menganggap dirinya pastilah bukan manusia biasa. Saat membaca Book of Everlasting ia menemukan bahwa pohon Yggdrassill adalah tangga menuju Asgard dan Nifelheim. Inilah tujuan perjalanan ini, Leezard Valeth ingin membuktikan bahwa pendapatya yang menganggap dirinya adalah bagian dari dewa- dewi adalah benar.
Academy mendanainya besar sekali, hampir sama dengan dana membangun sebuah jembatan penghubung dua pulau. Ia bahkan dibekali dengan orang- orang untuk membantunya selama perjalanan karena menurut Book of Everlasting, Tanah dimana Ymir ditanam diatas Midgard dijaga oleh lisan- lisan yang tak mampu kami (manusia) pahami, suku itu sangatlah tidak dapat dimengerti baik bahasa maupun tingkah lakunya. Tentunya Valeth memerlukan bantuan untuk melewatinya.
Hari keberangkatanpun tiba, Valeth dan regu perjalanannyapun memulai petualangan yang bahkan Valeth sendiri tak tahu harus kemana. Tetapi, ia meyakini satu hal bahwa utara adalah arah dimana dunia bermula, maka ia menyarankan untuk pergi ke utara. Perjalanan yang tak mudah memang, rintangan- rintangan yang muncul dari makhluk- makhluk sihir sepanjang perjalanan semakin membuat Valeth yakin akan arah tujuannya.
Musim dingin telah mengunjungi daerah utara terlebih dahulu membuat regu Valeth sedikit kesulita dalam perjalanan menuju utara. Terkadang ada juga yang mendebat arah perjalanan mereka, tak jarang terjadi perkelahian karena masalah sepele. Dalam waktu satu bulan merekapun tampak yakin telah memasuki daerah utara, salju tebal dan badai yang tak lazim selalu saja menghalangi setiap langkah mereka. Tak sedikit orang- orang Valeth menyarankan untuk pulang saja atau menghentikan perjalanan itu, tetapi Valeth bersikeras untuk menemukan lokasi pohon itu dan menjajikan uang pembayaran yang lebih besar.
Walau begitu ada saja yang memilih pulang mereka adalah yang berfikir bahwa bayaran perjalanan ini tak sebanding dengan harga nyawa mereka. Pemberontakkan ini semakin berlanjut dari hari ke hari, semakin hari satu atau dua orang memutuskan untuk pulang dengan pesan yang sama untuk yang lain, nyawa kalian lebih berharga dari hal ini. Hingga akhirnya, regu penggiring Valethpu hanya tersisa 3 orang saja, mungkin mereka berfikir makin sedikit yang ikut, makin banyak yang akan mereka dapatkan.
Tiga hari tiga malam berusaha menembus badai aneh yang muncul tiba- tiba itu akhirnya hal ganjilpun disaksikan oleh mereka berempat. Sebuah desa kecil yang hangat, tampak damai tak terusik dan yang paling aneh desa itu tampak tak tersentuk seincipun oleh badai salju yang mereka berusaha tembus selama tiga hari ini.
Terpana oleh keadaan desa yang ditengahnya ada pilar yang luar biasa besar dan tinggi hingga tertutup embun atau awan, mereka tak menyadari beberapa makhluk bertelinga panjang sudah menodong mereka sejak tadi.
“Manusia, apa yang kalian lakukan disini!?” bentak salah satu makhluk itu.
Tersadar telah ditodong busur dan anak panah dari belakang Valeth dan regunya hanya bisa terkejut dan terpaku ditempat mereka berdiri saat itu. Tiga orang yang mengikuti Valeth memang tak mengerti dengan bahasa itu tetapi Valeth mengerti bahasa itu, bahasa rune kuno.
“Kami datang dari jauh, kami tersesat dalam badai!” kilah Valeth.
“Pembohong! Kalian manusia takkan bisa menipu kami kaum Elves! Kau yang bisa berbicara bahasa kami, kau mencari pohon Yggdrassill, mengaku saja!” desak Elves itu.
Mau tak mau Valeth mengaku dengan hanya sebuah anggukkan kecil. Kemampuan intelejensi Valeth yang sangat tinggi telah memahami tabiat asli para Elves yang diyakini telah punah selama ini, Elves bukannya punah, mereka hanya mengasingkan diri dari manusia yang sudah tak berfikir seperti manusia lagi. Saling bunuh hanya untuk kepentingan pribadi, saling bertengkar hanya untuk memenuhi nafsu duniawi, merusak alam dan mulai tak peduli pada sekitarnya.
“Pergi kalian! Apa yang kalian cari tak ada disini!” bentak salah seorang Elves yang masih menodong mereka dengan busur dan panah dari belakang.
“Kami yakin pohon itu ada disini! Badai dan makhluk- makhluk sihir yang muncul sepanjang perjalanan kemari bukanlah makhluk biasa yang kami lihat, jika bukan untuk menjaga jalur kemari lalu mengapa makhluk itu ada disana!?” kilah Valeth.
“Makhluk itu untuk menjauhkan kami dari manusia- manusia tamak sepertimu!”
“Berhenti memanggilku manusia!” bentak Valeth.
“Jika kau bukan manusia, lalu apa kau ini? Kalian makhluk ciptaan Dewi Frey tak seharusnya bersikap angkuh seperti ini!”
“Aku yakin aku salah satu penghuni Valhalla!” tegas Valeth.
“Hanya karena kau dianugerahi otak yang cerdas melebihi yang lain bukan berarti kau adalah salah satu dari penghuni Valhalla! Kau hanya manusia, ucapanmu barusan bila tak kau sadari dapat menggiringmu menuju tanah kesengsaraan Nifelheim! Pulanglah, yang kalian cari tak ada disini!”.
“Aku takkan pulang tanpa bukti yang jelas atas keyakinanku!” tegas Valeth bersikukuh dengan pendapatnya.
“Manusia angkuh, bila Lord Undien mendengar ucapanmu bisa saja ia cabut semua kepandaianmu dan kau akan menjadi seperti orang tolol yang hina!”
Valeth tampak tersinggung dengan peryataan ini, secepat yang ia bisa, ia mengeluarkan sebotol kaca penuh cairan kimia mematikan untuk dilemparkan kearah Elves dibelakangnya, tetapi para Elves lebih cepat. Sepuluh anak panah melesat menembus dada Valeth tanpa ia sempat sadari. Valeth tercegang disaat ajalnya ia melihat sisa orang- orangnya terbantai oleh para Elves dengan sangat tanpa belas kasih. Setelah itu pandangannya mulai gelap, lalu ia mulai tak dapat merasakan bagian- bagian tubuhnya, seakan ada sesuatu yang dingin sedang ditarik keluar dari ubun- ubunnya, saat rasa dingin itu sampai pada tenggorokkannya ia mendengar suara wanita yang sangat dingin, datar dan tanpa perasaan.
Kau manusia tamak dan angkuh, tempatmu adalah tanah tanpa harapan, tanah terlupakan, tanah penuh hina dan siksa, tanah yang terlupakan, Nifelheim.
“Benarkah aku manusia? Lalu siapakah engkau?”
Aku adalah Lenneth Valkyrie, satu dari tiga Dewi Norun yang menguasai takdir dan kematian setiap makhluk yag lahir dari tangan Dewi Frey dan mendapat izin hidup dari Lord Odin ayah para Dewa. Dan kau, jiwa yang mengalami kematian adalah makhluk yang lahir dari tangan Dewi Frey yang diberi satu keistimewaan yang memang dikaruniakan kepada setiap ciptaan, kau adalah murni manusia kecil yang congkak dan angkuh dengan karunia yang telah diberikan.
Saat tubuh Valeth terjerembab ketanah tak bernyawa, roh dirinya telah sampai pada sebuah tempat yang setiap orang enggan untuk memikirkan atau bahkan memimpikannya, sebuah tempat penuh kehampaan dan keputus asaan dari setiap penghuninya yang begitu tersiksa, suara itu kembali menyapanya dengan satu kalimat terakhir,
Selamat datang ditanah kehampaan dan keputus asaan, Nifelheim.
Dan, itulah akhir perjalanan Leezard Valeth yang congkak dengan kepandaian yang ia miliki, berakhir tragis dan dengan hal yang tak diinginkan.



e-mail: replicka_only@yahoo.com
nama; patria yusmirza pratama
My Student in SMKTI Airlangga

Kamis, 09 Juli 2009

Imajinasi Hati

Penjara kata melilit lidahku
merajam terbenam dalam kursi listrik kaku
terbersit angan, ringan melayang
juga sepi tanpa hujatan.
bergerak perahu kata mendobrak dermaga angkuh
tak bertepi menenggelamkan samudera ke celah bebatuan.
bibir terpesona, tapi tak mampu membuka
mata melihat nanar penuh air mata
tebing curam di tengah dua aliran sungai wajah kelu
berkelakar dalam tawa-tawa yang tak terdengar semesta
hanya hati lirih berseri sendiri
lalu, memeluk kemalangan tiada henti
berpangku tertelungkup membatu
tak bergerak.

Minggu, 21 Juni 2009

Sinar mentari yang hilang

Mentari berlomba dengan bulan
memperebutkan cahaya yang terlanjur sirna
akankah bintang peduli?
bersatu dalam gerak maya rotasi semesta

Minggu, 15 Maret 2009

Air

Air seperti emas
Bermanfaat jika digunakan
Bijak tanpa dilumuri keserakahan

Air seperti roda
Terus mengalir mengikuti arusnya
Menerjang dinding-dinding terjal
Menghancurkan batu-batu besar

Air seperti pedang bermata dua
Satu sisi memberikan manfaat
Sisi lain menghancurkan

Kamis, 12 Maret 2009

Korupsi

Korupsi…
Sebuah kata kontroversi bergeliat liar membelah keimanan
Apa yang kamu tahu.
Berhimpitan ego
Perut-perut berteriak
Lapar.....

Korupsi karena apa?
Tanda tangan menjarah laci-laci
Tertawa lalu terdiam sejenak
Tertawa lagi...terdiam
Akhirnya menangis.

Menangis di balik bui, atau
Mengais-ngais menangis
Ketakutan cemas luluh tak berani
Menatap dunia

Santri Malam

“Huh....dingin banget malam ini." gerutuku. Hujan gerimis dan hembusan angin membuat tubuhku menggigil. Jalan terlihat lengang. Jam tanganku menunjukkan angka 8. Meskipun dingin, hal ini tak menurunkan semangatku dan Sigit. Ia temanku sejak SMA. Aku memacu sepeda motor yang selalu setia menemaniku, menembus gelapnya malam. Bibirku mulai bergoyang menahan dinginnya malam ini. Tangan nyeri, tapi aku tak peduli. Aku terus memacu kendaraan ini lebih kencang. Aku ingin segera sampai di tujuan.
Setiap malam rabu, Aku punya kegiatan rutin. Seperti malam ini, aku dan Sigit berkunjung ke Pondok Pesantren untuk mengaji. Pondok Pesantren Nahjatul Ula. Pondok ini agak jauh dari pusat kota. Letaknya sekitar 10 kilometer dari rumahku. Sepi, tenang, damai menyelimuti hatiku, ketika aku berada di pondok ini. Sehari saja, Aku melewatkannya, pasti kegelisahan berdemo tanpa kendali mengisi ruang imajinasiku yang kosong. Aku mencintai tempat ini. Aku menangis, merenungi kesalahan-kesalahan, dan menenangkan gairah mudaku yang liar.
Tak hanya kami yang belajar di pondok ini. Anak-anak sampai usia sepuh pun belajar di pondok ini. Memahami agama bagiku, layaknya memahami kehidupan. Hari-hariku yang penuh liku-liku, terkadang menghancurkan benteng-benteng imanku yang rapuh. Banyak persoalan kehidupan yang harus segera ku selesaikan, sementara persoalan-persoalan lain siap menghadang jalanku.
Kadang-kadang aku tak kuat menghadapi beban hidup ini. Hanya tangisan yang bisa ku lakukan. Menangis dan terus menangis. Meluapkan semua beban yang berada dalam pikiranku. Ketakutan-ketakutan selalu menghantuiku. Memberikan rasa gelisah yang kian bertambah. Aku ingin berteriak, tapi lidahku terasa kelu. Tak punya daya, tak punya kekuatan untuk katakan kepahitan yang terjadi. Aku tak cukup berani, untuk menjadi orang yang terkenal. Yah...terkenal dengan banyaknya masalah.
Aku terkadang cuek, tak peduli lingkungan sekitarku. Hal ini ku lakukan hanya untuk menutupi derita hatiku yang berkepanjangan. Aku hanya ingin dunia memperhatikanku, namun satu centimeter pun dunia enggan melihatku. Bahkan, dunia hanya melempar senyum sinisnya, kemudian berlalu dari hadapanku begitu saja. Membiarkan diriku terkulai lemas tanpa daya, menari bersama berbagai persoalan yang telah memenuhi ruang imajinasiku. Semakin ku pikirkan, kepalaku semakin bertambah pusing. Seakan-akan sejuta jarum menusuk-nusuk kepala mungilku.
Seberkas cahaya menyilaukan mataku diiringi bunyi yang cukup membuat telingaku pekak. “Awas, ada mobil!” pekik Sigit. Aku tersentak dan langsung menghindari mobil yang tak jauh dari hadapanku. Dadaku berdegup kencang. Aku memperlambat laju kendaraanku. Sigit mengoceh semaunya, tapi tak satu pun kata-katanya yang mampu menembus gendang telingaku. Aku tak menghiraukan ocehannya, ku lanjutkan pengembaraan menuju ruang-ruang imajinasiku yang sempat terputus.
Masalah demi masalah selalu menghantuiku. Masalah itu seakan-akan berkata mengejekku, “Hei, pecundang! Tetaplah seperti itu, merana putus harapan. Kami akan selalu menemanimu dan membuatmu semakin resah. Ha.ha.ha.ha.ha.ha.ha.ha. tetaplah jadi budakku, budak kegelisahan.” Hatiku gemetar, takut, cemas. Imajinasiku semakin liar, mengetuk berjuta-juta pintu membawaku melintasi cakrawala pikiran yang tak terkendali.
Aliran darahku bergejolak, memenuhi setiap pembuluh darah di otakku. Pintu-pintu itu terbuka satu persatu. Pintu itu menarik minatku untuk segera menjelajah ke dalam ruang-ruang labirinnya. Langkahku semakin cepat memburunya, bagaikan anak panah yang terlepas dari busur. Mencari, mencari, dan mencari. Seolah-olah ada sesuatu yang hilang dariku.
Ku telusuri semua keresahan yang menemani hari-hariku. Berkelana mencari pusat magma keresahan itu. Aku melangkah lebih jauh memasuki pintu demi pintu. Gelap dan semakin gelap. Mataku tak melihat apapun. Aura keresahan semakin membakar tubuhku. Aku menggeliat, meraung tanpa suara. Ku biarkan, imajinasiku membelai setiap lekuk-lekuk hatiku. Terdiam lalu terpaku.
Ketegangan demi ketegangan menghampiriku, menyapaku sinis. Semakin dalam ku telusuri ruang-ruang hatiku. Semakin dalam pula jalan yang terbentang di hadapanku. Jalan ini seperti tak memiliki ujung. Kakiku lelah. Namun, ada sesuatu yang terus memberikan semangat untuk terus melangkah. Aku tak tahu apa yang ku cari, tetapi aku bersemangat untuk mendaki tebing-tebing terjal dan curam imajinasiku. Aku merasa ada ketenangan, ketika aku melangkah dan terus melangkah.
Ketenangan yang selama ini ku dambakan. Ketenangan yang menjadi penghibur, ketika tak satu pun lagu dapat menghiburku. Ketenangan yang sangat ku nantikan untuk menemani hari-hariku berkelana di dunia fana ini. Aku merindukannya. Langkah-langkah kecilku bergerak lebih cepat berlomba dengan sang waktu. Pintu demi pintu ku buka. Ku jelajahi jalan-jalan panjang. Ketemu pintu lagi, ku buka lagi, lalu ku jelajahi lagi. Aku terus melangkah berkelana tanpa ada garis finish.
Perjalanan ini, membuatku merasakan semua pernak-pernik kehidupan. Perkelahian dua hal yang bertentangan tampak jelas melintas begitu saja tanpa permisi. Sisi gelap dan terang mulai merayuku. Kadang-kadang aku tertarik dengan bujuk rayu kegelapan yang penuh misteri. Kadang-kadang aku tersadar bahwa gelap tak bisa memberiku sebuah kepastian, bahkan membawaku semakin tersesat jauh dari tujuanku.
Cahaya redup selalu membuatku terpana, saat ia sepintas menyapaku dengan keramahannya. Hatiku damai. Aliran sungai ketenangan menghampiriku perlahan-lahan menyatu dengan aliran darah di sekujur tubuhku. Gerakan lembutnya membuatku terbang melayang melintasi cakrawala dunia yang tak mampu ditembus. Cahaya itu menerangi hatiku yang gelap. Walau saat ini, cahaya itu redup. Ia mampu membantuku untuk melihat ukiran-ukiran relief di dinding hatiku. Aku terpana melihatnya.
Dinding-dinding itu, seolah membentuk jalinan kisah kehidupanku sejak aku diciptakan. Aku pandangi satu persatu ukiran-ukiran itu. Aku gembira, aku melihat wajah ibuku yang cantik terukir sangat besar membelai rambut tipisku. Aku melihat senyumnya. Senyum kemenangan, yang selalu menemaniku. Guratan kebahagian karena telah melahirkan sosok mungil ini. Aliran darahku berhenti, tubuhku bergetar. Ku pandangi wajahnya. Ku lihat ia meneteskan air kemilau dari kedua matanya. Harapan-harapannya menghampiriku. Aku tak sanggup melihat buliran-buliran air matanya. Aku mengambil sebuah guci, ku letakkan di bawahnya. Ku lihat tetes air itu, masuk perlahan kedalam guci itu. Ku ingin berlalu, tapi hatiku tak mau beranjak pergi. Aku ambil tetes-tetes air itu, ku basuh setiap bagian anggota tubuhku.
Tetesan air itu semakin deras, aku hanya duduk bersimpuh dihadapannya. Tak kuat berdiri dan melangkah lagi. Ku pandangi lekat kerutan-kerutan di wajahnya. Seolah-olah berharap, anak di pangkuannya menjadi anak yang memberikan kebahagian kepada dirinya dan semua penduduk dunia, cinta padanya. Sungai di mataku meluap, menumpahkan airnya melalui ujung mataku, mengalir deras membentuk aliran sungai kecil di pipiku.
Perlahan-lahan ku kumpulkan kekuatan di kaki ku, agar dapat melangkah pergi. Aku berdiri, ku pandangi sekali lagi wajah itu dengan membawa semua harapannya bersamaku. Dalam hatiku, aku berjanji untuk mewujudkan semua harapan yang melintas dan menyapa pikiranku. Kakiku perlahan-lahan berlalu meninggalkan lukisan itu, melangkah dan terus melangkah. Aku pandangi setiap jengkal lukisan-lukisan di sepanjang jalan yang ku lalui.
Lukisan-lukisan itu memberikan semangat baru untukku untuk terus bersemangat menjalani kehidupanku. Ruang hatiku yang gelap perlahan-lahan mulai terang. Bersama itu mengalir ketenangan yang selama ini ku nantikan. Bebanku lenyap seketika, terbang entah ke mana. Ruang itu memberikan kedamaian ke dalam hatiku. Aku ingin berlama-lama di ruangan ini.
“Hei, jangan melamun terus!” tegur Sigit. Aku tersentak. Aku hanya diam menaggapi teguran sahabatku ini. Imajinasiku langsung pergi meninggalkan diriku. Namun, hatiku damai. Tampak dari kejauhan sebuah plang nama dengan warna hijau bertuliskan ‘Pondok Pesantren Nahjatul Ula’. Semakin dekat, tulisan itu semakin jelas terlihat olehku.
Ketika sampai di dekat plang nama tersebut, sepeda motorku ku belokkan ke arah kiri memasuki ruas jalan yang lebarnya sekitar 1,5 meter. Ku pacu kendaraan dengan perlahan. Jarak yang harus ku tempuh masih sekitar 2 km lagi. Dinginnya malam sudah tidak ku rasakan lagi. Di kiri dan kanan jalan tampak beberapa rumah yang jaraknya cukup jauh antara rumah yang satu dengan yang lainnya.
Sepinya jalan tampak jelas di sepanjang jalan kecil ini. Tak ada seorang pun, cahaya lampu pun jarang. Meskipun ada, cahayanya redup. Angin menyentuh kulitku, membuat bulu kudukku berdiri. Di kejauhan terdengar sayup-sayup suara zikir. Zikir itu menembus jiwaku, jiwa pendosa. Aku semakin memperlambat laju kendaraan beroda dua ini. Semakin lama suara itu semakin keras terdengar.
Aku menghentikan kendaraanku, dan mematikan mesinnya di antara kendaraan-kendaraan yang lain. Puluhan kendaraan berjejer rapi di halaman pondok itu. Aku dan Sigit bergegas menuju sebuah ruangan yang telah dipadati oleh santri-santri yang lain. Aku duduk berdampingan dengan Sigit, namun kami tidak saling bertegur sapa. Kami hanyut dalam keheningan masing-masing. Menenggelamkan diri kami dalam lautan zikir yang membelai lembut hati kami.
Sungai-sungai di mataku meluap, membayangkan perbuatan-perbuatan dosa yang telah ku perbuat. Ku resapi semua penyesalanku, ku resapi semua tindakan-tindakanku yang merugikan orang lain. Aku tak tahu, apakah orang-orang yang pernah ku zalimi mau memaafkan diriku yang hina ini. Aku berharap mereka mau memaafkan diriku. Aku menyesal.
Bayangan ibuku kembali terlintas dalam benakku. Selama ini, belum ada satupun yang ku lakukan dapat membuatnya tersenyum bahagia. Bahkan, terkadang hanya rasa sakit yang ku berikan kepadanya. Walaupun tidak ada niat di dalam hatiku untuk menyakitinya. Aku ingin berbakti kepadanya. Namun, aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan. Setiap hal yang ku lakukan, hanya membuatnya semakin sakit.
Aku resapi lebih dalam penyesalanku, penyesalan yang tak bisa memberikan seberkas senyum, walau hanya sedetik. Sungai-sungai di mataku meluap membentuk dua buah aliran kecil yang dipisahkan tebing di wajahku. Alirannya makin lama makin deras, hingga suara isak tangis mengiringi lantunan zikirku di malam yang dingin.

Senin, 02 Maret 2009

Sentuhan Cahaya Pelangi

Pagi hujan lebat . Mentari malu-malu menatap pagi. Tetes hujan berkejar-kejaran membasahi bumi yang sudah usang. Manusia berselimut tebal, malas untuk bangun. Aku pun mengalami peristiwa yang sama. Aku bermalas-malasan di kamarku. Di depan Laptop baruku, aku bercerita. Nidji menemaniku lewat tembangnya Jangan pernah lupakan’. Aku mengalirkan angan-angan lewat tarian jemariku. Angan-anganku melayang pada pertemuanku dengan gadis berkerudung coklat, berbaju gamis panjang warna kuning. Wajah yang berseri dihiasi senyum. Kulit putih mulus kemerahan. Perangai sopan penuh canda. Perawakannya sangat ideal. Gadis yang telah lama tidak ku lihat. Sudah setahun lebih, aku tidak melihat senyumnya.

Pertemuan indah itu terjadi, saat aku masih aktif kuliah. Pagi itu, aku ingin berangkat ke kampus secepat mungkin. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Biasanya aku hanya malas-malasan saja. Aku berangkat ke kampus, setengah jam sebelum kuliah dimulai. Aku melangkah dengan iringan kabut putih. Langkah kakiku begitu ringan. Bersemangat. “Sepertinya, aku gembira sekali hari ini” gumamku lirih. Aku terus melangkah. Aku berjalan semakin cepat tak lama kemudian aku sampai di depan kampus. Dari arah yang berlawanan, sesosok gadis berkerudung melangkah malu-malu menuju ke arah yang sama denganku. Kampus.

Aku melangkah dengan semangat yang sama. Di depan pintu gerbang, tanpa sengaja kami saling menatap. Ia tersenyum. Senyum yang paling manis. Senyum yang mengisi semangatku mencapai puncaknya. Senyum gembira. Aku pun tersenyum. Ia hanya tersenyum tanpa terucap kata. Aku membalas senyumnya dengan senyum yang paling manis. Senyum ini belum pernah ku berikan pada siapa pun. Adrenalinku seolah terguncang dan semakin memuncak. Aku semakin bingung dengan keadaanku pagi ini. Aku hanya terdiam menatap kepergiannya.

Aku melangkah ke dalam kelas. Menjalani rutinitas kampus yang melelahkan. Tapi hari ini, kuliah terasa menyenangkan buatku, meskipun aku gelisah. Aku ingin kuliah ini cepat selesai. Aku ingin melihat gadis berkerudung tadi. Aku ingin berkenalan dengannya. Aku ingin menatapnya.

“teeeeet……..teeeeet…..teeeeet”.

“Horeee….” Pekik ku.

Seisi kelas melirik ke arahku. Dosenku pun melihatku penuh dengan tanda tanya. Agus menepuk pundakku, “Hei…ada apa denganmu?”. Aku hanya tersenyum padanya lalu kabur ke luar ruangan. Aku mencari gadis yang aku temui tadi pagi. Lama ku cari, tapi tak ku temui dirinya. Lelah mencari, aku pulang dengan langkah gontai. Perutku sudah bernyanyi, “Krooooook….krooooook…krooooook”. Aku pun mempercepat langkahku menuju ke rumahku. Siang ini, panasnya terasa lebih panas. Padahal suhunya sama dengan hari yang lalu. Aku gundah. Aku sedih. Aku terus melangkah dan terus melangkah.

Setelah sampai di rumah, aku merebahkan diriku di atas kasur kesayanganku. “Sudah pulang, Nak?” tegur ibuku. Aku tidak menjawab. Mukaku terasa dilipat-lipat oleh kerutan-kerutan kelelahan.

“kelihatannya kau sedang murung. Ada apa, Sakit ya?” tanya Ibuku beruntun mencari tahu.

“Tidak bu, hanya kelelahan saja,” kataku lirih.

“Oh….capek ya. Ya sudah, sekarang istirahat dulu terus makan. Ibu masak makanan kesukaanmu,” kata Ibu terus pergi dari kamarku.

Pikiranku melayang pada senyum gadis berkerudung itu. Tanpa ku sadari aku terlelap dalam lamunan panjang gadis berkerudung.

Aku tersentak. Kaget. Alarm jam beker tua pemberian kakekku berbunyi, “Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiing.” Jam beker tua itu menunjukkan pukul 16.00 Wita.

Aku bangun terus menggeloyor pergi ke kamar mandi. Ku ambil segayung air di dalam bak, lalu ku siram kepalaku. Kesegaran mengalir dari kepalaku bersama dengan aliran air itu. Melepas penatnya tubuh. Melepas penatnya pikiran. Melepas lamunan panjangku. Tapi aku tak kuasa melepas lamunan itu. Lamunan itu terus membayangiku.

Tanpa ku sadari hari ini, pikiranku dipenuhi oleh rupa gadis pujaanku. Aku bertanya dalam hatiku, “Siapa gadis ini? Siapa namanya? Di mana rumahnya?.........”. pertanyaan tadi saling menyusul seperti balapan motor GP. Aku tak bisa tidur. Hatiku gelisah. Semakin gelisah. Malam ini, aku terjaga sampai pagi ditemani bayang-bayang gadis itu. Setelah sholat subuh, aku mandi. Aku buru-buru sarapan. Makan pun dengan tergesa-gesa. Semua isi rumah menatapku heran. Adikku iseng bertanya, “Kakak kesurupan di mana?. “Husss….ndak boleh ngomong begitu,” kata Ibuku.

Aku tidak peduli omongan mereka. Aku tetap melahap makanan yang ada di depan ku. Setelah makan aku berpamitan kepada mereka. Mereka menatap kepergianku dengan penuh tanda tanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, padahal aku tidak tidur semalaman. Biasanya kalau sudah bergadang. Aku pasti bangun kesiangan. Orang tuaku pasti teriak-teriak membangunkanku.

Hari ini, ada semangat yang menyelimuti hatiku. Aku ingin segera ke kampus. aku hanya ingin melihat senyumnya. Senyum yang membuatku tak bisa tidur. Senyum yang membuatku bermain dengan angan-anganku sampai pagi. Senyum yang membuatku gelisah. Perasaan tidak karuan ini, terus mengganggu pikiranku.

Aku melangkah menuju ke kampus dengan tergesa-gesa. Meskipun keringat bercucuran dari tubuhku, namun kelelahan tak ku rasakan. Tanpa ku sadari, inilah hari tercepat aku ke kampus. Jam tanganku menunjukkan pukul 06.00 pagi. Lima belas menit kemudian aku sudah berada di gerbang kampus. aku berharap hari ini aku melihatnya lagi. Hari ini aku berharap melihat senyumnya. Hari ini aku berharap ia menyapaku.

Aku duduk di pos satpam. Menunggu gadis berkerudung. Aku datang paling pertama. Tidak ada seorang pun di kampus, bahkan pak satpam pun belum datang. aku termenung. Waktu terasa berjalan lambat. Tak lama kemudian, mahasiswa berdatangan. Dadaku berdegup. Semakin banyak mahasiswa yang datang, dadaku berdegup lebih kencang.

Pukul 07.05 pagi, di kejauhan aku melihat gadis itu. Gadis yang membuatku tak bisa tidur. Gadis yang memenuhi lamunanku. Dadaku semakin berdegup. Semakin mendekat, makin kencang degupan dadaku.

Kira-kira tinggal 4 meter lagi, ia berada di depanku. Ia melihat ke arahku. Aku menatapnya. Ia terus melangkah. Tepat dihadapanku, ia melempar senyum manisnya ke arahku. Ku tangkap lemparan senyumnya dengan hatiku. Ia menundukkan wajahnya dan pergi menuju kelasnya. Aku terpaku. Mematung. Tak berkedip. Tersisa senyum di ujung bibirku. Senyum balasanku untuknya. Hatiku semakin gelisah, bercampur bahagia. Aku senang bisa melihatnya pagi ini. Aku senang mendapat senyumnya. Walau hanya sekali.

Teman-temanku lewat di depanku. “Hei, melamun kok pagi-pagi,” kata Ani. “Pasti melamun jorok ya…” seru Fendy mengejekku. “Ayo, kita ke kelas” ajak mereka. Aku pun ikut dengan mereka. Tanpa menjawab satu pun pertanyaan mereka.

Bayanganku hanya terisi gadis itu. Suara dosenku tidak sampai ke telingaku. Aku hanya melihat dosenku sedang berbisik di depan kami semua. Konsentrasiku hanya pada gadis itu. Aku terbuai. Terkadang senyum-senyum sendiri. Terkadang gelisah penuh tanya. Tiba-tiba telingaku dipekakkan oleh suara dosenku. Suara berbisik tadi, kini jadi petir di telingaku. Siap menyambar dan membakarku dengan kemarahannya. “Hei..kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” kata dosenku. Aku tergagap. Tak bisa menjawab. Aku hanya diam. Senyumku hilang. Berganti perasaan malu. Wajahku merah. Teman-teman kelasku tertawa semua. Aku semakin malu. Ku coba hilangkan sejenak lamunanku tentang gadis itu. Tetap tidak bisa. Ku paksakan diriku untuk mendengarkan ceramah dosenku. Aku bersyukur akhirnya suara dosenku dapat terdengar. Walau samara-samar. Aku mengikuti perkuliahan ditemani lamunanku tentang gadis itu.

Setelah perkuliahan selesai, aku langsung keluar menuju kelas gadis itu. Tapi tak ku temukan dia. Hatiku semakin galau. Aku pasrah. Aku beranjak pergi. Aku berjalan menuju kursi di depan mushola di kampusku. Aku duduk bersandar. Melepas kepenatan yang mengusik batinku. Aku pasrah. Lunglai. Lemas. Letih dengan semua pikiran baru yang mengusik hari-hariku.

Aku memejamkan mataku. Lamunan itu muncul silih berganti. Senyumnya. Cara berjalannya. Cara menundukkan wajah manisnya. Semua lamunan itu saling berkejaran dalam ruang imajinasiku. Ingin ku balut lamunan itu dengan jaring agar tidak pergi dari ingatanku. Aku senang dengan lamunan ini, tetapi aku juga sedih.

Aku terus bermain dengan imajinasiku. Aku melihatnya berlari-lari kecil. Matanya yang memberikan seberkas cahaya yang menyibak galaunya hatiku. Aku benar-benar terjebak dengan perasaan ini. Tidak ada yang tahu. Hanya aku sendiri.

Lamunanku pecah oleh sebuah suara lembut. “Assalamualaikum.” Suara itu lembut di telingaku. Perlahan aku tolehkan wajahku ke arah datangnya suara itu. Ketika ku tatap siapa pemilik suara itu. Aku semakin terkejut. Aku gagap. Aku membalas salam itu dalam keadaan bingung. Kaku. Gagap. Mematung. Serasa seluruh darahku berhenti berjalan. Dadaku berdegup sangat kencang.

Suara lembut itu. Suara yang lama ingin kudengar. Suara gadis berkerudung itu. Aku menatapnya tanpa berkedip. Ia menatapku lalu tersenyum dan berlalu dari hadapanku. Aku tetap terpaku. Tubuhku terasa berat tak bisa melangkah. Telingaku tak bisa mendengar. Hanya denging ucapannya yang terdengar. Aku manatap kepergiannya. Ingin sekali aku memanggilnya. Tapi lidahku tak mampu mengucap kata.

Walau bahagia bercampur sedih. Aku melalui peristiwa ini selama tiga bulan. Setiap hari aku selalu menunggunya di pintu gerbang kampus. Tak pernah terucap kata lagi, selain salam yang ia ucapkan di depan musholla. Aku tak berani menyapanya. Setiap melihatnya dadaku berdegup kencang. Lidahku kelu. Aku hanya bisa tersenyum. Senyum yang paling manis. Ku persembahkan hanya untuknya. Ia hanya tersenyum. Lalu menunduk. Melangkah pergi meninggalkan diriku. Imajinasiku terus bermain menari gembira di kepala ku.

“Ayo bangun! Cepat mandi, katanya mau ke kampus.” perintah Ibuku. Angan-angan ku berhenti. Hujan sudah reda. Hari ini aku harus ke kampus. Sudah lama aku tidak ke kampus. Aku harus menemui dosenku. Aku ada janji konsultasi skripsi dengan dosen.

Aku beranjak dari tempat tidurku, lalu mengambil handuk. Aku menuju ke kamar mandi. Ku buka pintunya, lalu ku tutup kembali. Aku mengambil gayung. Mengambil air lalu ku tuangkan perlahan dari atas kepala ku. Airnya sangat dingin. Bulu kuduk ku berdiri. Ubun-ubunku mengeluarkan asap. Aku menuangkan air itu kembali. Air itu melepas ketegangan dan kepenatan yang ku alami. Penat dari lamunan-lamunanku terasa berkurang. Aku mempercepat mandiku. Adikku sudah berteriak dari luar kamar mandi. “Kak, mandinya cepat dong,” kata adikku ketus. Tak lama kemudian aku keluar. Adikku langsung mencubitku. Aku mengaduh dan berlari menuju ke kamarku. Ku tinggalkan adikku yang jengkel. Aku mengenakan bajuku yang paling bagus. Aku berpamitan kepada orang tuaku.

“Bu, saya ke kampus dulu.”

“Hati-hati, tidak usah ngebut!” nasehat ibuku.

Setelah mencium tangannya. Aku mengambil kendaraan roda dua milikku. Menghidupkan mesinnya. “Bismillahirrahmanirrahim,” ucapku lirih. Aku menuju ke kampus. hawa pagi ini dingin. Tulang-tulangku ngilu semua. Ku pacu sepeda motorku. Aku ingin segera tiba di kampus. aku tak ingin membuat dosenku menunggu.

Tak lama kemudian, aku sampai di kampus. Suasana kampus sepi. Maklum hari hujan. Mahasiswa banyak yang malas kuliah, kalau hujan begini. Aku memarkir sepeda motorku. Aku berjalan perlahan menuju ruang program studi. Ku buka pintunya. Dosenku sudah menungguku. “Maaf Pak, saya terlambat,” kataku menyesal. “Tidak apa-apa,” kata dosenku bijaksana. Aku lalu bertanya kepada beliau tentang permasalahan tugas akhirku. Setelah beliau memberikan pengarahan. Aku minta izin pulang. Aku pun keluar dari ruangan itu. Dan beranjak menuju tempat parkir. Ku hidupkan mesin motorku.

Di depan pintu gerbang, aku terperanjat. Sosok gadis yang mengisi lamunanku pagi ini, hadir di hadapanku. Gadis yang sudah lama tidak pernah ku temui. Gadis yang selalu ku rindukan. Gadis yang tidak pernah berbicara padaku. Hanya salam saja yang pernah ku dengar darinya. Gadis yang memberikan senyumnya padaku selama tiga bulan. Gadis yang membuatku selalu susah untuk tidur.

Ia hanya tersenyum. Seperti biasanya. Ia lalu menunduk dengan wajah malu kemerahan. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Ia tidak jalan kaki lagi. Saat ini, ia menggunakan sepeda motor sama sepertiku. Perubahan ini membuatku semakin lemah. Patah semangat. Lunglai. Di dekatnya ku lihat sosok laki-laki. Ia terlihat mesra. Aku bertanya dalam hati, “Siapakah dia?”.

silahkan tempatkan kode iklan, banner atau teks disini