Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Agustus 2015

Puncak Tertinggi, Ku Tinggalkan Dirimu


Ku langkahkan kaki menuju puncak tertinggi. Ku langkahkan kakiku untuk menapakkan hentakan-hentakan kakiku secara perlahan. Ku tatap puncak tertinggi dengan agung. Sementara itu, puncak itu mulai dipeluk awan. Setiap langkahku mengantarkan aku pada titik ini, titik yang mampu ke jejakkan sebagai hamba untuk memandang ketinggian semu kepada ketinggian agung. Dari titik tertinggi ini, aku menggelar seluruh tanda baca dan setiap kata yang ku ingat dalam lembaran-lembaran awan putih yang ku potong-potong. Tentunya, aku sudah melakukan ritual untuk permisi kepada sang pemilik awan. Ku satukan gemuruh dalam dadaku. Ku satukan setiap kesatuan pikir dalam hidupku. Ku raba titik tertinggi ini, lalu ku tatap tinggi yang ku raba dengan hatiku. Lalu, ku agungkan Sang pemilik, kemudian ku tulis mereka dengan kalam yang tiada terputus-putus.
Mentari malu-malu. Kawanan awan putih memeluknya erat. Gunung-gemunung lagi tidur-tiduran berjemur di pinggir-pinggir pantai kebiruan. Gelombang pun beradu lari laksana memperebutkan piala paling bergengsi dalam alam semesta. Sementara itu, kekuasaan berpayung dalam gedung-gedung tinggi. Menyeruak ke jalan-jalan protokol negeri ini. Kadang-kadang beriring-iring seperti melepas serdadu yang hendak pergi berperang. Setiap nafas ditahan. Jika ada yang berani bernafas, sudah pasti didor atau diseret tanpa alasan. Mungkin kamar gelap sudah tidak ada, tetapi kamar-kamar yang berlampu sudah disusupi aura kegelapan. Sehingga tak seorang pun yang bersuara dapat bebas.
Kentut. Itu juga suara. Harus diberangus. Harus dirajam. Harus disumpal sampai tak ada suara lagi. Undang-undang sudah memerintahkan perangkat peradilan untuk menutup seluruh sumber suara. Tak ada lagi suara yang boleh ngeluyur tanpa didampingi perangkat peradilan. Suara pun harus tunduk pada mereka. Jika perintah meluncur dari istana, barulah suara-suara itu boleh bebas berkeliaran untuk menikmati keindahan negeri ini. Sudah mulai pupus.
Bumi sudah lama menahan suara-suara di perutnya. Sedangkan matahari semakin liar memanaskan. Suara-suara itu memuai. Khawatir akan meledak, bumi kadang-kadang mencari selangkangan gunung-gunung untuk mengeluarkan larva. Iramanya pun berdendang ria. Gunung utara berdesis, gunung selatan batuk-batuk. Sudah tak ada lagi yang dapat menahan suara itu. Bahkan dedemit pun sudah lari terbirit-birit. Rumah-rumah mereka sekarang dipenuhi kumpulan suara tertahan. Menghimpit. Setan. Jin. Tuyul. Dan semua penghuni alam gaib sudah terdesak. Raja Iblis pun ikut-ikutan protes. Kinerja pemerintahan negeri demit sudah diusik. Raja iblis merasa ini adalah ekspansi besar-besaran. Ini eksodus. Ini perlu dikendalikan. Jika tidak Gerombolan penghuni alam gaib akan kehilangan kewenangan jati dirinya sebagai penghancur dan penggoda hati manusia. Mereka khawatir, malah mereka yang digoda oleh manusia dan dijebloskan ke surga.
“Di mana lagi aku harus bersuara, semua tempat sudah penuh. Suara kebaikan dan kentut pun sudah menyatu. Tak bisa dibiarkan. Ini harus dicari solusinya. Kalau tidak, rakyatku akan binasa.”
“Tuanku, hal ini sungguh mengkhawatirkan. Tuanku harus segera bertindak. Jika tidak, Kerajaan ini akan terancam, Tuanku.”
“Kau tidak usah bicara banyak. Aku juga memikirkan hal itu. Jangan sampai karena kau bersuara, rakyat kita kehabisan tempat untuk melepas suara mereka untuk melaksanakan tugas Maharaja Yang Dipertuan Agung, Azazil,”
“Baik, Tuanku.”
“Ya, sudah. Cari informasi untukku ke negeri para manusia.”
“Siap menjalankan perintah, Tuanku. Mohon undur diri.”
Gerah. Angin sudah enggan bertiup. Sudah selesai ditekan-tekan. Sudah selesai dihimpit-himpit. Sudahlah. Tak ada lagi yang tersisa. Semua sudah berniat untuk berkelana. Penguasa negeri ini masih dapat memaksa angin-angin buatan untuk menyegarkan tubuhnya. Sedangkan, kentut tidak diperkenankan hilir-mudik. Apalagi singgah melepas penatnya menggunakan angin-angin buatan penguasa. Itu adalah pelanggaran. Kentut dilarang beroperasi. Sebaiknya, penghasil kentut harus disumbat. Kemudian dibiarkan menyebar ke aliran darah, meresap, menguap bersama keringat ke udara. Tanpa suara.
Ayolah. Semua harus bersuara. jika tidak suara akan dipenjara. Selamanya. Pikir-pikirlah dulu. Suara harus dibebaskan. Demonstrasi perlu dilakukan kembali. Panji-panji perlu ditegakkan. Tak usah pedulikan berapa jumlah masa. Bumi ini sudah penat. Itu sudah cukup sebagai dasar pergerakan. Semangat sang api dapat kita ambil untuk meluluhlantakkan kesombongan penguasa negeri ini. Dia sudah berani-beraninya mengebiri suara sehingga menjadi tidak berdaya. Kalau kau tidak berani, biar aku yang memimpin pergerakan ini.
Aku sandarkan tubuh kaku. Ku biarkan suara tertahan dalam tubuhku, lepas melalui pori-pori dan ubun-ubunku. Hanya itu yang bisa kulakukan. Seluruh lubang tubuhku tidak bisa ku gunakan lagi. Bahkan, ujung kemaluanku terpaksa ku kunci rapat. Aku sadar, dulu ketika aku buang air, kedua lubang kemaluanku selalu berbunyi. Aku khawatir, niatku untuk membebaskan suara dapat terhalang akibat kesalahan kecil ini. Aku terpaksa menyumbatnya rapat-rapat. Lalu, ku gunakan perekat paling kuat untuk merapatkannya. Sebenarnya, aku masih ragu-ragu. Tapi ini tidak bisa ditunda lagi. cukup lelahku menahan keperihan untuk membebaskan suara-suara melalui pori-pori dan ubun-ubunku. Jika kau tidak percaya, coba saja kau lakukan. Kau pasti tidak akan mampu. Suara harus ku bebaskan segera.
Senja datang lagi. Malam pun enggan berbicara. Ada sedikit ketakutan. Malam sudah tidak mampu menutup hiruk pikuk manusia. Pikiran bertebaran. Sudah ku putuskan. Ini bukan perkara suara saja. Tetapi sudah menjadi keputusan global untuk menyelamatkan semesta dari kehancuran dan keangkaramurkaan. Malam harus dikembalikan fungsinya. Siang harus diagungkan kembali. Sudah tidak ada waktu lagi. Tetapi siapa yang peduli?
Lorong-lorong kota mulai tampak sepi di tengah keramaian. Hilir mudik penduduk lesu. Nrimo ing pandum. Entah maknanya seperti apa. Tetapi pengertian sudah diputarbalikkan. Siapa ikut penguasa, maka bebas kentut sembarangan. Kentut yang sesuai dengan keinginan tentunya. Ah, sudahlah. Ini bukan waktunya untuk berselisih pikir atau memikirkan perselisihan yang terjadi saat ini.
Aku bersimpuh di puncak derita. Ku undang roh-roh leluhur. Ku panggil roh tujuh gunung, ku persilahkan ruh samudera-samudera. Membaca mantera untuk memberikan kekuatan semesta pada diriku yang kecil. Namun, aku tak mau bersekutu dengan Raja Iblis dan bala tentaranya. Biarkan dia juga ikut-ikutan penat. Sudah terlalu lama juga, mereka berbuat kerusakan. Merekalah yang bertanggung jawab, meskipun aku sadar mereka saat ini juga terhimpit oleh perbuatan mereka sendiri. Yang pasti, kejahatan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan manusia yang sudah tertutup hatinya dengan puing-puing keburukan. Setidaknya, mereka telah berhasil dan harusnya berpesta-pora saat ini. Namun, kenyataannya mereka pun semakin terpojok dan tersiksa. Aku tak akan melakukan transaksi dengan mereka. Karena kepercayaanku kepada mereka belum pernah terjadi. Dan itu akan tetap seperti itu. Jadi, setidaknya alam semesta ini yang ku panggil sebagai bala bantuan untuk melakukan aksi protes kepada penguasa negeri ini, tentunya dengan cara mereka.
“Hai, yang mengaku sebagai kebaikan yang tersisa. Kau tidak akan bisa lakukan tugas berat ini sendirian. Izinkan aku membantumu!”
“Pergilah! Aku tidak mengundangmu.”
“Bagaimana aku bisa pergi, sedangkan tujuan kita adalah sama.”
“Ini akibat ulah kalian. Harusnya kalian cukup senang, Mengapa kalian malah gelisah?”
“Ini di luar perhitungan kami. Kami tak mengira, kalian lebih jahat daripada kami. Raja kami khawatir, kalau ini dibiarkan tugas yang harusnya kami emban bisa-bisa akan diambil alih oleh para pendosa dari kalangan kalian.”
“Cukup sudah basa-basimu. Kau pergi saja. Aku tak percaya pada kalian. Kalau kalian mau protes, lakukan saja sendiri. Aku sudah punya rencana sendiri.”
“Kau begitu sombong.”
“Sudah pantas aku sombong kepadamu tanpa memandang rendah dirimu. Ternyata, bangsa kami lebih jahat darimu, lebih sombong darimu, lebih angkuh darimu. Apa itu tidak membuatmu berpikir, bahwa tanpa kalian goda saja kami sudah memiliki sifat penghancur. Apalagi kalian mengambil peranan dalam memengaruhi kami untuk kalian jadikan teman-teman kalian.”
“Kau benar. Aku akan sampaikan hal ini pada raja kami.”
“Terserah padamu. Tetapi segeralah pergi. Karena aku sedang bersiap-siap untuk menerima tamu-tamuku.”
Para tamu mulai berdatangan. Alam semesta mengadakan rapat. Aku berada di tengah arus dan pusaran mereka. Mantera mulai bertaburan. Satu persatu mantera alam semesta berkumandang. Halintar pun tak kalah kencang. Aku memimpin mereka untuk menyatukan alam semesta.
Irama mantera semesta bergema. Gempa menggetarkan. Tanah merobek-robek tubuhnya. Halilintar berdentum. Samudera menggulung ombak. Angin berputar menyatu dengan gelombang. Semua yang tampak diterjang. Istana pun tak ketinggalan. Semua diluluhlantakkan.
****

Kitab-kitab suci bertebaran di muka bumi. Mencoba mengingatkan setiap pemikir untuk mulai bekerja. Alangkah merdu. Namun, setiap pemikir mulai tidak lagi berpikir. Pemikiran sudah dikalahkan gelak-gelak tawa. Sedikit bertasbih dengan hentak-hentakan musik. Apakah musik dipersalahkan? Tidak. Musik tidak bernyawa. Musik hanyalah alunan. Musik sama halnya dengan semesta. Sementara, mereka yang menjadikannya gelak tawa, sehingga musik menjadi penghias pemikiran yang sudah tidak diisi dengan pemikiran. Apa jadinya? Ya, semua terlihat begitu saja. Arus semesta mengalir deras, menghantam sedikit demi sedikit peradaban. Keagungan peradaban sudah mulai dicemarkan dengan ketinggian pangkat dan nafsu kekuasaaan.
Sudah saatnya, kitab suci mulai dikedepankan. Akan tetapi, pergerakan itu banyak ditentang. Mereka bercerita tentang mereka, tetapi tidak lupa untuk berpikir untuk membenamkan yang lain dalam lumpur peradaban. Setidaknya, setiap berlian akan tetap menjadi berlian. Keyakinan itulah yang mengunci peradaban pada dinamika pasang surut peradaban. Kadang agung, kadang tanggung, malah banyak yang hancur begitu saja.
Penjarakan saja! Agar pemikiran tak pernah berpikir. Daripada menciptakan ruang bebas berpendapat, sedangkan pemikiran digiring dalam lingkaran kepentingan. Lingkaran yang menyebabkan kitab suci menjadi mainan di panggung-panggung sebagai pembuka acara agar terlihat beradab. Mungkinkah kitab suci hanyalah hiasan. Seperti bunga-bunga plastik yang dipajang di vas bunga di atas meja ruang-ruang tamu. Bunga itu indah, tapi sejatinya tak lebih dari kematian yang dihidupkan sebagai bentuk pencitraan. Setidaknya, ada muncullah, daripada tidak digunakan sama sekali.
Sementara itu, hati gegap-gempita dengan hingar-bingar pikiran-pikiran liar. Pencarian dari para petualang untuk menemukan jati diri, tak terelakkan akan menemui kegagalan. Ya, kegagalan sempurna yang tak diragukan. Semua pintu-pintu keberhasilan ditutup dan disemukan. Keberhasilan yang di-setting.
“Mungkinkah pemikiran generasiku dipenjara? Atau apakah itu sudah dilakukan sejak mereka dikandung oleh ibu-ibu mereka?”
“Sudahlah. Kau tak perlu risau. Kegalauan itu tak lagi menjadi tanggung jawabmu. Kau tahu, itu sudah dirampas oleh mereka dan harus sesuai dengan mereka.”
Senja datang dan pergi. Fajar selalu hadir menghapus kegelapan dan kepekatan sang malam. Ekspektasi bagi negeriku adalah fajar selalu datang menyapa. Kepenatan negeri ini sudah saatnya untuk dipasrahkan. Ya, kepasrahan kepada petunjuk kitab suci. Kitab suci yang diagungkan oleh semesta. Yang menjaga keseimbangan antara tiga dunia. Mungkin juga banyak dunia yang tak terbatas pada ruang-ruang pembatas. Pemikiran pun hadir sebagai sebuah keterbatasan, kecuali pemikiran yang dikehendaki.
Pergerakan rembulan tak hanya malam. Siang pun dipenuhi rembulan yang sembunyi malu-malu. Hal tersembunyi yang disembunyikan atau sekadar menyembunyikan diri dari terang-benderang. Kurang pikir kurang rasa, apa jadinya? Kesadaran akhirnya terbelenggu dengan manja. Kesadaran tak lagi kuasa. Kesadaran hanyalah rasa yang dibuai-buai, lalu perlahan ditenggelamkan dalam palung-palung terdalam nurani. Kemudian, secara perlahan demi perlahan ditutup dengan keserakahan-keserakahan yang terorganisasi. Sudah waktunya untuk sadar? Sementara hal itu sudah sukar untuk disadarkan.
Kitab suci perlu turun tangan. Kalau perlu turun kaki. Bahkan, jika diperlukan perlu turun kepala. Puncak yang dianggap sebagai sumber pemikiran. Kepala sudah mau melihat ke bumi. Apakah sudah adil atau tidak menjalankan amanat semesta atau sudah berbuat kesia-siaan belaka. Kepala memang harus turun ke dasar telapak. Agar siap diinjak-injak untuk mengetahui keperihan dan derita yang diakibatkan pola-pola liar yang dianggap strategis, tetapi telapak kaki geram juga mencekam. Sudah mejadi keharusan, kepala harus ditundukkan ke bumi untuk menghadap kitab suci. Agar keselamatan, setiap kerikil, serta kehidupan kaum kecil yang bersembunyi dari hentakan-hentakan telapak pemikiran. Setidaknya, kepala dihadapkan kepada kehidupan nyata untuk berbuat sesuka hati mereka dan menyaksikan langsung akibat dari perilakunya. Atau setidaknya, ada rasa belas kasih akibat pengetahuannya mendengar keluh kesah kaum kecil yang tidak pernah diizinkan untuk bersuara.
Rembulan mulai sunyi. Bintang bertabur sepi. Akan ada pelangi. Jika hujan datang lagi. Dan sinar mentari rela diberi. Itulah pelita hati insani. Yang terbelenggu dalam wujud hakiki. Mungkin ada hati. Atau jemari mulai berlari. Dengan setia kepada para pemimpi. Bertujuan untuk wujud setiap pikir sejati. Tetapi, sudah tak ada lagi. Tetapi, sudah lama berlari. Tetapi, sudah tak ada mimpi. Tetapi sudah tak bersuara kini. Kepala harus mau mencium bumi. Agar kepala menjadi ibu dari pikir dan rasa diri.
****

Anak kecil lari-lari menuju surau di subuh hari. Panggilan bergema, sementara para tetua sedang sibuk menghias tidur mereka dengan mimpi. Anak keci lari-lari menuju surau di subuh hari. Panggilan bergema, sementara para ibu-ibu sedang asik memotong-motong sayur untuk sarapan pagi hari. Anak kecil lari-lari menuju surau di subuh hari. Panggilan bergema, sementara para kakak-kakak sedang asik bermain game dan online sampai pagi.
Ketika yang dinamakan dosa tak pernah mendekat. Alamlah pemeliharanya. Anak-anak kecil itu jenaka. Mereka tak ada rasa angkara. Kadang menangis, jika tidak dimanja. Alamlah pemeliharanya. Anak-anak itu ceria. Batu pun rela dijadikan mainan. Bahkan, ikhlas dilempar dan akhirnya ditertawakan oleh mereka. Batu pun gembira karena sudah menjadi sebab ceria. Alamlah pemeliharanya. Anak-anak kecil itu gembira. Fajar mengiring mereka kepada Sang Pencipta. Ketika, semua burung mulai bernyanyi riang. Ketika matahari menyentuhnya dengan sinar kemerahan. Ketika malam sudah berpamitan untuk pulang. Adakah pembatas bagi mereka? Jawaban sederhana untuk mereka adalah tidak. Kata sederhana yang susah diucapkan apabila godaan kekuasan melanda. Ucapan sederhana yang sulit diungkapkan apabila gemerlap semesta menyapa. Tapi, anak-anak kecil itu mampu untuk berkata, berucap, dan menjawabnya secara sederhana.
Ketika tangisan adalah wakil dari semua makna. Lembaran kehidupan masih terbentang tanpa batas. Hari berganti, lembaran itu mulai ternoda. Perlahan tanpa suara. Senyap. Ku hirup sedikit rasa yang tersisa dalam setiap desah nafas. Sesak. Ku hirup lagi. Makin sesak. Ku biarkan diriku menyatu bersama aliran udara yang masuk. Ku izinkan diriku dilalui, seperti awan yang mengizinkan dirinya dibawa oleh angin. Seperti gunung yang tidak menahan magmanya yang sudah ingin keluar. Seperti air yang mengalir mengikuti alurnya.
Sudah penuh, rasa yang ku inginkan hadir dalam dadaku. Sudah penuh, ingin yang ku inginkan hadir dalam perjalananku. Sudah penuh, ingin yang ku inginkan kembali dalam kehidupanku. Sudah penuh, ingin yang ku inginkan tercerai dari jasadku. Sudah karam pemikiranku dalam getar-getar semesta. Sudah ku taklukkan perampok-perampok dalam usiaku. Sudah ku singkirkan kotor dan duka yang mencengkeram erat dalam setiap urat nadi dan darahku. Sudah. Tapi, kesudahanku tak dapat ku akhiri atas kehendakku.
“Akankah semesta yang ku sakiti, percaya padaku?”
“Mungkin.”
“Benarkah?”
“Tidak.”
“Ah…!”
“Akankah bumi pertiwi yang ku eksploitasi, rela padaku?”
“Mungkin.”
“Benarkah?”
“Tidak.”
“Ah…!”
“Akankah langit yang ku jadikan tameng, sudi menjagaku?”
“Mungkin.”
“Benarkah?”
“Tidak.”
“Ah…!”
“Akankah saudara-saudaraku, yang ku telantarkan, sedikit diinjak kekuasaan, juga ditendang dan dipukuli panglima-panglima keserakahan yang mengabdi padaku, sudah memaafkan diriku?”
“Mungkin.”
“Benarkah?”
“Tidak.”
“Ah…!”
“Akankah Sang Pemilik, membiarkan diriku merasakan aroma ridho-Nya?”
“Aku tidak tahu”
Selimut putih semesta mulai menutupku rapat. Mataku kini buta. Hidungku disumbat. Angin sudah enggan masuk ke dalam hidungku. Sesekali mengejekku, masuk sebentar, lalu keluar dengan cepat. Aku menahan gerakan semesta yang mulai mengalir dari diriku. Darahkan memperlambat jalannya. Biasanya, aku memacunya untuk tantangan-tantangan ekstrim kegemaranku. Itu hanya untuk menunjukkan siapa aku.Tubuhku menurunkan suhunya. Aku hadir dalam keadaan sendiri. Dan ku mantapkan diriku dalam kesendirian di akhir. Meskipun, banyak yang dilepas berurai air mata. Sedangkan aku ingin dilepas dengan musik semesta. Sehingga ku asingkan diriku. Itu untuk menaruh simpati semesta untuk hadir bersamaku. Harapan kecilku, tetabuhan sunyi mengiringku dalam rangkaian persiapan perjalanan panjangku.
Ku sesali perbuatan-perbuatan nakalku. Ku tangisi hal-hal baik yang sedikit ku kerjakan. Ku harap penyatuan sempurna dengan sedikit karunia-Nya. Mungkinkah ku dapat? Aku takut. Tapi, harapku kini ku hidupkan. Ku ajak berdamai. Ku ajak bernegoisasi. Aku sadar posisiku tidak sedang dalam keadaan yang menguntungkan. Aku hanya berharap belas kasih. Negoisasi dengan penuh kerendahan untuk diriku. Kehinaan demi kehinaan ku tampakkan. Kelemahan demi kelemahan ku hadirkan. Kejelekan demi kejelekan ku hamparkan. Sementara itu, kebaikankan yang sedikit ku buang ke dasar puncak tertinggi. Menggelinding ke bumi pertiwi. Ku biarkan mengendap di bawah sana.
Sementara itu, kehinaan, kelemehan, kejelekan, dan segala hal yang memiliki hubungan darah dan kekeluargan dengan ketiga hal tersebut ku biarkan tetap di sisiku. Ku hamparkan, seperti menata menu makanan pada pesta terakhir dalam kehidupan. Ku atur jaraknya. Ku jejer sesuai kelasnya. Ku hitung-hitung mereka. Ku paksa mereka berbicara kepadaku. Dulu oleh sebab mereka, aku berjaya. Lebih tepatnya, kejayaan semu yang ku raih dengan segala kehinaanku. Semua ku hadapkan, ku mintakan pengampunan untuk setiap mili, senti, bahkan kiloan. Jika ada satuan terbesar, yang belum pernah ditemukan, keinginanku satuan itu hadir sebagai bobot dari kehinaanku.
Ku pasrahkan diriku. Lebur bersama semesta. Aku pinta semesta untuk lenyap dariku satu persatu. Ku harapkan setiap pelepasan itu diiringi karunia, sehingga mengantarku kepada pelepasan diri. Ku hirup nafas yang mulai tersendat. Kali ini, aku meminta kepada angin untuk membantuku lepas darinya secara perlahan. Tubuhku semakin kaku. Mati rasa sudah terlewatkan. Kini tubuhku, tercabik-cabik. Ku nikmati saja. Ku pasrahkan diriku. Persendianku tak mampu bertahan, lolos begitu saja. Kakimu ku lihat berhenti bergerak. Semakin mengeras dan membatu. Semakin lama, pinggangku mulai tersayat. Ku nikmati saja. Ku pasrahkan diriku. Tubuhku lunglai. Aku terjatuh, terbaring di puncak tertinggi. Dadaku semakin sesak.
Ku pasrahkan diriku. Ku balikkan tubuhku dengan kepayahan. Ku tatap puncak tertinggi yang tak bisa ku jejak. Karunia-Nya mengizinkan diriku untuk menatapnya. Ku lantunkan penyesalanku. Ku lantunkan harapku. Lantunan yang tak kunjung keluar dari mulut kakuku. Hatiku belum kaku. Sedangkan tanganku sudah mulai tak menentu. Tanganku mulai ikut-ikutan mematung. Ku sandarkan tubuhku pada puncak tertinggi yang mampu ku pijak, sedangkan pandanganku mengarah pada puncak tertinggi yang ingin ku capai dalam perjalananku berikutnya.
Ku pasrahkan diriku. Aku terkejut. Tapi, karunia-Nya terus ku harap. Aku ingin menuju pintu-Nya dari puncak tertinggi. Pengiringku sudah datang. Ku tatap dengan senyum. Dia masih garang. Karunia-Nya ku harap. Aku dituntun. Ku nikmati saja. Segala kepayahanku semakin bersatu. Berontak. Menguasai setiap pertempuran. Tubuh kakuku kalah. Ku biarkan kalah. Ku pasrahkan diriku dengan nama-Nya. Puncak tertinggi memangilku. Ku pasrahkan diriku. Puncak tertinggi, menatapku. Aku tertunduk malu, tapi hatiku berharap karunia-Nya. Lalu, aku kaku, di puncak tertinggi. Semesta sudah ku tinggalkan. Puncak tertinggi memanggilku. Ku pasrahkan diriku kepada puncak tertinggi yang ku pandangi dari puncak tertinggi yang mampu ku pijak.

Samarinda, 7 Agustus 2015
Didedikasikan kepada para pencari Puncak Tertinggi.
Dan sebagai persembahan untuk adik-adikku pada komunitas Teater Bastra, Samarinda berupa Antologi Cerpen sebagai kado ulang tahun pada 21 Januari 2016.



Sabtu, 17 Desember 2011

Guruku, Sekarang Aku Guru

Langit hari ini harus menangis. Sudah beberapa hari debu jalanan di kota ini tak pernah dibersihkan. Mungkin mereka lupa caranya membersihkan. Awan sudah gerah melindungi kota ini dari matahari. Sebenarnya, langit pun protes karena harus selalu menangis, tetapi langit tidak tega melihat bumi harus sesak nafas akibat debu-debu yang berserakan. Langit menangis sejak jam dua siang. Padahal langit tak ingin menangis, tapi kenapa tangisannya begitu memilukan sehingga tangisannya tak berhenti hingga sekarang. Ketika tangisannya mulai sesenggukan, aku mulai melangkahkan kakiku dari kampus tempatku belajar. Aku tiba di kota ini sekitar dua minggu yang lalu. Aku berasal dari Samarinda. Kota kecil di mana aku belajar banyak hal. Kota ini pun merupakan ibukota provinsi yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya. Ya, apalagi kalau bukan Kalimantan Timur. Aku bisa sampai ke kota ini itu pun karena bantuan dari pemerintah provinsi ini. Aku diberi bantuan Pemerintah Kalimantan Timur untuk melanjutkan sekolah. Kota ini terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan. Surabaya. Aku belajar di Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Surabaya. Dalam dua minggu ini, tugas-tugas kuliah mulai memburu diriku. Beberapa tugas tak bisa tahan mengantre. Mungkin tugas-tugas ini juga menonton televisi, ketika orang-orang kaya ini membagikan rezeki mereka di tempat umum. Masyarakat berjubel berebut sembako. Tak tahan untuk mengantre karena takut tak dapat bagian. Ya, aku pun harus membiarkan tugas mana saja yang tak sabar. Ada yang minta didahulukan karena waktunya udah mendesak. Ada yang hanya pasrah karena aku singkirkan sementara dari otakku. Siapa suruh jadi tugas kok memahaminya harus baca berkali-kali. Itu pun tidak mengerti juga. Aku harus segera sampai di kos. Meski kepala agak pusing terkena tetesan hujan, aku tetap melangkah. Aku singgah di toko fotocopi, membeli beberapa lembar kertas cover dan lakban hitam. Aku sedikit terhibur. Di sebelahku, berdiri seorang wanita. Dia mahasiswa juga meski jenjangnya setingkat di bawahku. Aku bertanya sekilas di jurusan apa dia kuliah. “Fakultas Ilmu Sosial, Jurusan Administrasi Niaga,” katanya. Setelah itu, aku hanya menatap wajahnya tanpa pernah tahu namanya, sambil menunggu uang kembalian. Setelah mendapatkan uang kembalian. Aku segera melangkahkan kakiku. Aku berada beberapa langkah di belakang wanita itu. Tanpa saling menyapa, kami berpisah di depan gang di samping warung bakso. Sebuah rel kereta api terbentang. Lampu berwarna merah. Jalan dihadang dengan portal belang-belang berwarna merah dan putih. Tak lama kemudian, sebuah kereta api meluncur dengan kecepatan tinggi. aku hanya menatapnya. Tak ada orang di depan pintu, mungkin karena hujan. Jadi, tidak ada seorang penumpang pun yang rela dirinya ditusuk-tusuk hawa dingin. Mungkin lebih enak tidur kali. Tak lama kemudian, aku sampai di kos. Kos-kosan ini adalah rumah bertingkat tiga. Lantai dasar ada sebuah toko bangunan milik bapak kos. Di lantai dua, terdapat tujuh buah kamar. Aku tinggal di kamar pertama sebelah kanan bersama Pak Arif, seorang guru senior di kotaku. Kami sama-sama menerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Lantai tiga, terdiri dari tujuh kamar juga yang belum jadi dan tentunya tidak berpenghuni. “Pak Arif belum pulang,” batinku. Aku mengeluarkan anak kunci dan memasukkannya di lubangnya, memutarnya sekali, memegang gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Kamar gelap. Jendela masih tertutup. Ku tekan saklar yang ada di dinding, lampu pun menyala. Udara kamar pengap, meski cuaca di luar ruangan dingin. Ku buka jendela. Udara dingin dari luar mulai menggeliat masuk ke dalam ruangan ini. ruangan yang berukuran sekitar 3x3 meter. Ku letakkan tas, ku buka jaket, dan angin segera menyusup ke celah bajuku. Ku rebahkan sejenak badanku. Aku teringat sesuatu. “Selama kita menguasai ilmu kita, di mana pun kita berada kita akan selalu di pakai orang,” kata dosenku ketika aku kuliah di Universitas Mulawarman. Beliau bernama Drs. Rusdy Ahmad, M.Hum. Awalnya ku pikir, ini hanya hiburan bagi kami karena kami masuk kuliah di jurusan yang tidak menjadi favorit untuk banyak orang. Saat itu, usiaku delapan belas tahun. Tahun 2002, aku memulai statusku sebagai mahasiswa di Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP, Universitas Mulawarman. Begitu banyak ejekan dari orang-orang yang ku kenal. “Untuk apa masuk di jurusan bahasa Indonesia. Orang Indonesia, kok belajar bahasa Indonesia lagi. Memang nggak bisa bahasa Indonesia ya,” kata temanku di jurusan yang lain. Aku hanya diam mendengar ini. “Bahasa Indonesia itu membosankan,” temanku yang lain menuturkan. Banyak kalimat-kalimat serupa yang menganggap sebelah mata jurusan yang ku tempuh. Hampir setiap hari, aku mendengar ejekan-ejekan ini. Bahasa Indonesia adalah pilihan kedua, ketika Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Aku belum merasakan kedekatan batin dengan jurusan ini. Sampai-sampai aku punya niat untuk pindah jurusan di tahun berikutnya ke Bahasa Inggris. “Mungkin tahun ini, aku kurang beruntung,” batinku sambil terus memberi semangat kepada diriku. Bahasa Inggris adalah jurusan favorit. Aku niatkan untuk terus memperbaiki diri. Hari ini aku kuliah, Linguistik. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa. Pak Rusydi mengampu mata kuliah ini. Beliau tidak terlalu tinggi, tidak banyak bicara, namun tegas dalam penyampaian. setiap mata kuliah beliau selalu hening karena beliau tidak begitu suka dengan kegaduhan. Bagi beliau, ilmu nomor satu. Bahkan terkesan tidak menyukai mahasiswa yang hanya fokus pada kegiatan kemahasiswaan tanpa pernah peduli dengan kemampuan akademisnya. “Kalian datang kemari, dibiayai orang tua untuk kuliah bukan untuk berkegiatan, dan satu hal perlu kalian ingat, kalian tidak bisa mengikuti segala kegiatan di kampus ini tanpa pernah menjadi mahasiswa di kampus ini,” itu kata-kata beliau yang sering terlontar, jika menyikapi mahasiswa yang menghabiskan masa studinya hanya untuk berkegiatan tanpa pernah peduli dengan kuliah. Mengikuti kuliah beliau, membuat aura idealisme pada diriku yang baru menjadi mahasiswa terasah. Satu bentuk kesempurnaan dan menjadi yang terbaik perlahan-lahan tertanam dalam batin dan pikiranku. Mata kuliah ini begitu menyita perhatianku dari keinginan diriku untuk pindah jurusan. Seiring berjalan waktu, keinginan itu pun berangsur-angsur hilang. Aku mulai mencintai pilihanku meski tanpa disengaja. Ketika mendaftar, om memilihkan jurusan bahasa Inggris karena melihat peluang kerjanya. Aku harus punya dua pilihan, pilihan pertama sesuai pesanan om dan pilihan kedua daripada bingung-bingung aku memilih bahasa Indonesia karena sama-sama bahasanya. Selepas dari semester satu, akhirnya aku memiliki sebuah pilihan. Aku tetap berada di jurusan bahasa Indonesia karena aku mencintainya. Kembali terngiang kalimat yang sering diucapkan oleh Pak Rusydi setiap kali beliau memberikan kuliah di kelas kami. “Selama kita menguasai ilmu kita dimana pun kita berada kita pasti akan dipakai oleh orang lain,” ingatku sambil terus membenamkannya ke dalam lubuk hatiku. Pelajaran berikutnya yang saya pelajari, beliau adalah orang yang taat prosedur dan melakukan segala sesuatu berdasarkan ketentuan yang berlaku dengan dasar logika yang jelas. Hari ini aku datang ke kampus cukup pagi. Aku melihat sebuah pengumuman di depan ruang dosen. Pengumuman tentang beasiswa S2. “Beasiswa S2. Syarat: Lulus S1, IPK minimal 3.50,” ku baca tulisan itu. Entah, perasaanku tiba-tiba mengarahkan untuk mengambil sebuah keyakinan bahwa suatu saat saya akan mendapatkan beasiswa S2. Aku yakinkan dalam diriku untuk menetapkan angka yang ku peroleh selama perkuliahan harus lebih dari 3.50. Selang setahun, aku tak mengingat pengumuman itu lagi. Namun efek dari keyakinan itu memberikan kekuatan bagiku untuk mendapatkan angka itu. Semester pertama IPK 3.47 dan semester kedua IPK 3.33. aku jalani terus perkuliahan. Grafik IPK dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan yang signifikan. Tiga tahun setengah aku menyelesaikan teori perkuliahan. Pengaruh lingkungan membuat diriku memilki fokus yang beragam. Diawali penundaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) karena menyibukkan diri dengan kegiatan di luar kampus. Ditambah lagi beban mengajar yang semakin padat di sebuah SMP swasta. Akibat bujukan teman untuk belajar berwirausaha, akhirnya aku tak menyerahkan berkas KKN yang telah ku susun. Dua bulan kemudian, aku Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sebuah sekolah ternama di kota ku selama empat bulan dengan hasil yang mendekati sempurna. Setelah PPL ini, teman-teman mulai menggarap skripsinya, sementara diriku sibuk menyiapkan berkas untuk mengikuti KKN yang tertunda. Aku belum bisa mengurus skripsi karena konsentrasi terpecah. Akhirnya aku memilih untuk menyelesaikan KKN terlebih dahulu. Selesai KKN, teman-temanku sudah mulai menyiapkan berkas wisuda. Mereka telah lulus. Satu kegelisahan mulai timbul dalam benakku. Benarkah aku terlalu sombong? Ku renungi diriku yang selalu menginginkan kesempurnaan. Hari ini teman-temanku telah diwisuda dan aku hanya menjadi penonton. Bahkan, aku tak hadir di acara wisuda mereka. Aku masih menganggap bahwa diriku lebih baik dari mereka, tapi faktanya mereka lebih dulu selesai dariku. Aku menyalahkan diriku. Namun, aku tak begitu menghiraukan kegelisahanku. Aku sibukkan diriku untuk mengisi kekosongan hatiku dengan mengajar. Aku berekspserimen di sana. Aku harus menjadi yang terbaik bagi mereka. Aku gelisah, ketika guru mengajar hanya sekadar mengajar, terlebih lagi mengajar hanya untuk mengejar uang. Kuliah ku lupakan. Yang ku ingat hanyalah, bagaimana membuat siswa menjadi lebih baik. Sudah lima tahun usia perkuliahanku, aku sadar jika tidak ku kerjakan ini tidak akan selesai. Kebetulan dosen pembimbingku adalah Pak Rusydi. Aku datang ke rumah beliau menceritakan persoalanku, kemudian ku tunjukkan keseriusanku untuk menggarap skripsiku. Di sela-sela mengajar, aku mulai mengetik huruf demi huruf skripsiku. Konsultasi, revisi, konsultasi lagi dan terus begitu. Hingga ada sebuah cobaan, Proposal skripsi yang sudah ku buat terkena virus. Cadangan data di beberapa teman juga terkena virus. Akhirnya, berhenti lagi untuk menulis skripsi. Setelah dua bulan, komputer di sekolah diperbaiki, aku buru-buru mencari data yang telah ku ketik. Aku lihat folder dengan bertuliskan namaku. Ku buka dan ku arahkan pointer ke arah file, ku klik dua kali. Aku melihat file ku masih ada. Ku periksa keseluruhannya, masih lengkap. Dalam hati aku bersyukur. Segera ku hubungi Pak Rusydi dengan membawa berkas proposal skripsi. Beliau bertanya mekanisme saya dalam menjalankan penelitian. Aku menjawabnya sesuai teori yang ku himpun. Dengan sedikit revisi, akhirnya aku bisa maju seminar proposal. “Zal, setelah seminar proposal ini segera lakukan penelitian!” “Baik, Pak!” “Bagaimana persiapannya?” “Saat ini, saya masih mengumpulkan dana untuk biaya perjalanan dan membeli beberapa alat penelitian.” “Segera, kalau ada kesulitan hubungi bapak!” “Baik, Pak!” “Satu lagi, jangan lama-lama, setelah penelitian cepat selesaikan skripsinya.” “Baik, Pak” Setelah dana terkumpul. Alat-alat dan bahan penelitian telah ku beli. Aku pun berangkat menuju perkampungan Dayak di pedalaman Kalimantan Timur. Aku meneliti di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kaltim. Jarak tempuh dari kotaku sekitar 8 jam. Waktu ini adalah kondisi normal. Jika jalan rusak, untuk sampai ke daerah ini bisa berhari-hari terutama pada saat musim hujan. Beruntung saat ini cuaca cerah dan kondisi jalan masih mulus karena baru diperbaiki. Aku meneliti di dua desa. Desa Deaq Leway dan Desa Nehas Liah Bing. Jarak antara dua desa ini 30 menit perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Desa Deaq Leway adalah tempatku KKN, jadi aku sudah tebiasa dengan warga di sana. Aku berada di desa ini sekitar dua minggu, ketika data sudah cukup, aku pamit kepada mereka. Aku pulang ke Samarinda membawa membawa serta data-data penelitianku. Berbulan-bulan ku curahkan perhatianku untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini. timbul kejenuhan yang membuat diriku berhenti. Hingga akhirnya ditengah kebuntuan, tanpa sengaja aku ketemu dengan dosen pembimbingku. Siapa lagi kalau bukan Pak Rusydi. Ada rasa malu yang menyelinap masuk di hatiku. Beliau langsung bertanya tentang skripsiku yang sudah setahun belum terselesaikan setelah penelitian. “Saya bingung, Pak. Ada beberapa data yang belum bisa saya selesaikan,” kataku dengan perasaan was-was. “Kalau bingung tanya. Jangan diam saja. kalau diam ya, nggak selesai-selesai. Besok saya mau lihat apa yang kamu temukan. Temui saya di kampus,” kata Beliau. Akhirnya, aku pasrah. Esok harinya ku bawa data penelitianku dan menunjukkan kepada beliau. “Apa yang kamu bingungkan.” “Bagian analisis datanya, Pak. Ada beberapa data yang belum saya temukan padanannya.” “Inikan tinggal dibuat begini terus analisisnya begini,” “Wah kalau begitu saya bisa, Pak!” “Kalau bingung, ya tanya. Jangan diam saja. kalau nggak mau nanya ya nggak bisa selesai-selesai. Cepat selesaikan!” “Iya, Pak. Terima kasih.” Hari yang kutunggu, mungkin juga dinanti-nantikan oleh kebanyakan mahasiswa tiba. Hari ini aku disahkan sebagai sarjana. Aku harus rela menanggalkan status mahasiswaku untuk bertempur di dunia nyata. Ku ucapkan syukur. Namun, hari bahagiaku tak sempurna karena bapakku tak bisa hadir. Beliau sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sedih. Aku harus tetap tersenyum. Mungkinkah, Bapak kecewa padaku karena harus lulus dalam waktu 6 tahun. Cepat-cepat ku lupakan. Mungkin bapak hanya sibuk. Aku laki-laki, harus bisa tegar dihadapan beliau, apalagi Mama mendampingiku. Ibuku punya sebuah cita-cita. Anaknya jadi pegawai. Sekarang aku sudah mengajar di SMA Negeri di kotaku dengan status Pegawai Negeri Sipil. Secara lahir, saya sudah mewujudkan keinginan ibuku. Namun, diriku masih bergejolak. Hasratku untuk terus belajar tak pernah padam. Sering ku tuliskan dalam setiap soal-soal yang ku berikan kepada murid-muridku. “Prof.Dr. H. Rizal Effendy Panga, S.Pd. M.Pd.” Inilah yang jadi hasratku untuk terus belajar. Satu gelar telah ku dapatkan. Berita itu datang mengejutkan. Informasi yang sudah lama ku nantikan. Informasi beasiswa S2 dari pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Aku mendengar dari rekanku di kantor. Hari itu juga ku telusuri kebenaran informasi itu. Aku tak bertemu dengan pejabat yang berwenang menangani informasi ini. ketika, aku bersantai di rumah. Adik mamaku datang membawa satu berkas surat berisi informasi yang sedang ku cari. Aku membacanya. Jurusanku, dicari 15 orang untuk menerima beasiswa ini. Ku persiapkan mentalku. Ku persiapkan segalanya. Mulai dari perizinan kepada kepala sekolah, instansi terkait. Hingga akhirnya aku bisa mengumpulkan berkas beasiswa ini di dinas pendidikan kotaku. Aku pun menjalani serangkaian tes. Impian tak pernah meninggalkan orang yang mencari dan berusaha meraihnya. Sore itu, dering telepon selulerku membawa sebuah pintu ke arah mimpiku. “Zal, informasinya udah ada tuh, coba dicek namamu ada atau nggak?” kata kawanku di seberang sana. “Iya, Kang Mas. Terima kasih,” Aku pun bergegas membuka laptop dan mencari informasi yang ku nantikan. Setelah klik sana-sini. Ku temukan seberkas surat keputusan penerima beasiswa yang di surat itu tertera nama ‘Rizal Effendy Panga’ di urutan nomor 2. Aku bersyukur. Ku kabarkan pada orang tuaku. Ku kabarkan pada dunia. Aku menemui guruku. Beliau senang. Beliau memberikan semangat baru kepadaku untuk terus belajar. “Belajarlah, nanti kamu akan lihat bedanya. Gali ilmunya,” kata beliau. Aku hanya mengangguk. Aku mohon doa kepada beliau agar studiku juga bisa berhasil. “Tok…tok…tok….” “Zal, buka pintu!” Aku terhenti dari lamunanku. Pak Arif sudah datang rupanya. Cepat ku buka pintu kamar kosku. Setelah itu, aku pun bergegas mandi. Kota ini cukup panas, sehingga tubuhku pun harus menyesuaikannya. Banyak hal yang harus ku pelajari disini. Salah satunya, aku bertemu lagi dengan seorang guru yang mengajarkan kepadaku hal baru lagi. Pak Budi namanya. “Jadi orang pintar itu harus tahu tata krama. Harus banyak belajar. Master itu seperti empu. Jadi ya, mesti belajar. Belajar untuk berani berbeda dengan orang lain. Berbeda yang berazas.” kata Pak Budi. Guruku sekarang aku guru. Aku harus belajar untuk menjadi Mahaguru. Sekarang aku mulai tahu, bahwa aku banyak tidak tahu. Semakin ku gali. Semakin ku tambah kepandaianku. Semakin aku tak mampu mengatakan bahwa diriku adalah orang pintar. Semakin malu aku mengumbar pengetahuanku yang sedikit, sementara begitu banyak pengetahuan yang terselubung yang belum mau menampakkan dirinya padaku. Guruku sekarang aku guru. Namun, pantaskah diriku disebut guru, ketika seorang muridku bertanya aku tidak melayaninya dengan ikhlas. Aku harus berkenalan lagi dengan pengetahuan yang masih sungkan untuk menyapaku. Mungkin karena aku lupa kepada mereka selama ini atau mungkin karena aku terlalu bangga pada milikku yang sedikit. Guruku, sekarang aku guru yang terus belajar untuk menjadi Mahaguru, bukan hanya demi diriku tetapi karena banyak produk pendidikan yang salah jalan. Banyak produk pendidikan yang korupsi. Banyak produk pendidikan yang tidak bertanggung jawab. Banyak produk pendidikan yang hanya mementingkan dirinya. Aku yang salah karena aku guru, meski aku tak pernah mengajari mereka.

Senin, 28 November 2011

Gerobak Dorong Pasar Pagi

Langit mulai menangis lagi, tapi kali ini bumi bahagia karena tangisan langit bisa menghilangkan debu-debu jalanan yang menyesakkan penghuni rahimnya. Langit masih tampak murung, tapi bukan bersedih. Langit hanya ingin bercerita pada sang surya agar segera bangun dari peraduannya. Langit ingin agar sang matahari mulai memanaskan bumi agar penghuni rahimnya bisa segera melakukan aktivitasnya lagi tanpa pernah merasa terganggu dengan tangisan langit. Samarinda. Ya, samarinda ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Itulah kota itu. Sudah lama samarinda tidak hujan. Pagi ini hujan cukup deras, namun matahari perlahan mulai memanaskan air-air yang menggenang. Jalanan pun sudah tak becek lagi. Semua orang bergegas pada pekerjaannya masing-masing, meninggalkan peristirahatan untuk berkelana mencari rezeki Sang Ilahi. Begitu juga nanang, seorang pendorong becak angkut di pasar pagi. Rumahnya cukup jauh dari pasar pagi. Ia tinggal di sungai dama, rumahnya agak ke puncak berada di gunung mangga. Gunung mangga ini sebenarnya bukan gunung tapi merupakan nama jalan menanjak yang cukup tinggi. Memang jika kita jalan kaki dari bagian bawah hingga ke puncak memerlukan tenaga yang cukup. Jika tidak, pasti akan manggah nafas kita, lebih tepatnya nafas yang ngos-ngosan. Namun, berbeda dengan nanang yang sudah terbiasa setiap hari ia berangkat dan pulang melalui jalan ini. Tubuhnya tidak pernah protes kepada pemiliknya. Pagi ini nanang harus ke pasar pagi, meski tubuh ringkihnya sedikit terbatuk-batuk. Nanang alergi terhadap dingin, tapi itu tak menyurutkan langkahnya. Hari ini hari minggu. Pasti banyak orang yang berbelanja ke pasar pagi. Nanang berharap hari ini dia mendapatkan rezeki yang lebih banyak dari hari biasanya. Hari ini ulang tahun pernikahannya yang ke-10. Ia berharap di hari istimewa ini, ia bisa pulang membawa hadiah kecil untuk istrinya tercinta. Ia juga berharap kepada Sang Pemurah, agar mau memberinya rezeki dan mendukung niatnya. Ia ingin memasak makanan yang lezat dan menyajikan untuk istrinya. Ia harus segera bergegas. Jam tangan lusuhnya menunjukkan pukul 07.00 pagi. Setelah berpamitan dengan istrinya sembari mencium keningnya, ia mengambil sepeda ontel miliknya. Nanang mengayuh sepedanya dengan perasaan gembira. Ia yakin, alam akan mendukung niatan sucinya untuk membahagiakan istrinya. Semua hal dia lakukan untuk istrinya. Perlu waktu lima belas menit untuk sampai ke pasar pagi. Sesampainya di sana, ia mengambil gerobak yang ia sewa sehari dua puluh lima ribu rupiah dari juragan gerobak. Sebenarnya, ia ingin memiliki gerobak sendiri. Tapi untuk membeli sebuah gerobak ia harus mengumpulkan bertahun-tahun. Ia sudah menabung, tapi belum cukup untuk membeli sebuah gerobak. Ia mengambil gerobak yang selalu menemaninya mengais rezeki. Nanang mencari pelanggan sendiri. Kadang-kadang seharian ia tidak mendapatkan pelanggan, sementara sewa gerobak tetap harus dibayar. “Nanang, apa kabar hari ini, kelihatannya senang betul,” sapa Rudi, teman seperjuangan mendorong gerobak. “Baik, Rud. Nggak ada apa-apa. Bagaimana kabarmu, dua hari kamu nggak muncul,” Nanang membalas sapaan kawannya. “Biasa, demam lagi badanku, sampai nanti, saya mau narik dulu,” berlalu begitu saja di depan Nanang. Nanang hanya duduk di atas gerobaknya menunggu pelanggannya atau orang yang memerlukan jasanya. Sekali narik gerobak, Nanang diberi ongkos lima sampai sepuluh ribu rupiah. Setelah menunggu satu jam baru ia mendapatkan pelanggan pertamanya. Seorang ibu memanggilnya untuk mengangkat barang-barangnya. Barang ibu ini cukup banyak. Nanang meletakkan satu persatu barang ibu itu. Dua menit Nanang sudah bolak-balik, akhirnya ia berhasil meletakkan semua barang ibu itu. Nanang menarik nafas dalam, mempersiapkan tenaganya untuk mendorong barang ibu itu yang menggunung di gerobaknya. Roda gerobak mulai bergerak seiring dengan dorongan tenaga dari tubuhnya. Nanang mengantar barang-barang ibu itu ke mobilnya yang berada di luar gerbang pasar pagi di Jalan Jenderal Sudirman. Tak berapa lama, ia pun sampai di mobil itu. Ibu itu membuka bagian belakang mobilnya. Nanang pun bergegas memasukkan barang-barang tersebut. “Berapa ongkosnya, Bang?” sapa ibu itu. “Sepuluh ribu.” jawab Nanang singkat. Ibu itu memberikan satu lembar uang sepuluh ribu dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Sampai tengah hari, Nanang sudah mendapatkan uang sebesar enam puluh lima ribu rupiah. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 Wita. Nanang bergegas menuju ke Masjid Raya Darussalam. Masjid ini terletak di sebelah timur Pasar Pagi Samarinda. Di sebelah kiri masjid, membentang sungai terpanjang di Kalimantan Timur, Sungai Mahakam. Sungai tempat Pesut, ikan langka yang terancam punah. Ia menuruni tangga yang bermuara pada sebuah tempat wudhu di bawah tanah. Nanang bersyukur hari ini, Allah menyanginya, memberikan kesehatan, kekuatan. Setelah berwudhu, ia pun beranjak menuju masjid dan melaksanakan kewajibannya sebagai rasa syukur atas anugerah Allah SWT kepada diri dan keluarganya. Setelah selesai bermunajat, ia duduk di masjid bagian belakang dan membuka bungkusan yang dibawanya dari rumah. Bungkusan yang berisi menu makan siang yang dibuatkan istrinya tadi pagi. Menu siang ini, Nasi dan telur dadar goreng. Istrinya pun membawakan sebotol minuman. Cukup sederhana, namun Nanang menyukuri karunia Ilahi yang membuatnya tetap sehat. Ia sudah mengantongi uang senilai empat puluh ribu dan uang sewa senilai dua puluh lima ribu sudah ia bayarkan kepada pemilik gerobak. Setelah melepas lelah dan mengisi perutnya, Nanang menjadi semakin bertenaga. Namun tenaga ini tak sepenuhnya dari makanan, tetapi karena ia ingin segera pulang dan memberikan kejutan untuk istrinya. Ia harus bersemangat, masih ada waktu baginya untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menambah rupiah yang telah ia dapatkan. Nanang kembali mangkal di gerobaknya. Menunggu. Mengangkut. Berlari. Mendorong. Semangatnya hari ini jauh lebih kuat dari hari-hari sebelumnya. Pukul 3 sore, pasar mulai sepi. Sebagian kawan-kawannya sudah pulang. Nanang sudah mendapatkan uang sebesar 120 ribu rupiah. Ia pun segera menuju kamar kecil untuk mengganti pakaiannya. Di kamar mandi, Ia melihat seorang laki-laki berkacamata, berjaket kulit. Nanang hanya melihat sepintas, lalu masuk ke toilet. Tak lama kemudian, Nanang keluar dari WC. Ketika melintas di depan laki-laki itu, Laki-laki tadi memegang pundak Nanang dari belakang, menegurnya, mengajaknya berbicara. Nanang seakan-akan lupa niatnya untuk segera pulang. Laki-laki tadi semakin asik mengajaknya mengobrol seputar kerjaannya dan bertanya berapa penghasilannya hari ini. Nanang pun seperti tersihir, Nanang melakukan apa pun yang dikatakan laki-laki itu. Hingga tanpa sadar, Nanang mengeluarkan uang jerih payahnya mendorong gerobak hari ini. Laki-laki tadi menerima dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Nanang hanya mengangguk. Laki-laki tadi berlalu dari hadapan Nanang. Setelah sepuluh menit, Nanang baru tersadar. Kenapa ia masih berada di sini? Apa yang terjadi? Ia coba mengingat-ingat kejadian. Ia terkejut dan segera memeriksa kantong celananya. Nanang lemas. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya kehilangan tenaga. Ia mencoba berlari mengejar laki-laki berkacamata tadi dengan sisa-sisa kekuatannya, namun tak juga ketemu. Ia melangkah dengan gontai. Semua lamunannya perlahan mulai masuk ke pikirannya. Harapan indah, ingin memberikan hadiah kecil untuk istrinya sebagai hadiah ulang tahun perkawainannya pupus. Ia tak mampu bersuara, apalagi berkata-kata. Beberapa pedagang yang mengenalnya menegurnya. Ia tak menoleh, apalagi menjawab pertanyaan tersebut. Pikirannya kini diliputi kekecewaan karena dirinya teledor sehingga ia tidak bisa membelikan sesuatu untuk istrinya. Nanang tak ingin berlama-lama berada di pasar. Ia ingin segera pulang. Terbayang wajah sedih istrinya, seharian bekerja namun tak membawa hasil apa-apa. Ia ambil sepedanya. Ia kayuh dengan malas. Bayang-bayang kekecewaan terus mendera alam pikirannya. Tak terasa, air matanya mengalir. Sungguh hari ini, ia ingin memberikan sedikit senyum kepada istrinya. Sudah sepuluh tahun berumah tangga, namun tak banyak yang ia bisa berikan kepada istrinya. Pikirannya semakin menerawang. Ketika hendak berbelok, Nanang tak melihat mobil yang keluar dari kanan jalan. Mobil itu melaju cukup kencang. Nanang terpental. Ia pingsan. Orang ramai berkerumun. Tubuh Nanang diangkut ke dalam mobil yang menabraknya. Membawa ke Rumah Sakit Islam Samarinda. Perawat langsung mengecek kondisi Nanang. Secara fisik Nanang tidak terlalu parah, hanya beberapa bagian tubuhnya lecet karena bergesekan dengan aspal. Namun, Nanang harus dirawat inap karena kondisi tubuhnya lemah. Nanang pingsan selama satu jam. Ketika ia terbangun, di sebelah kanannya istrinya tersenyum. Nanang berusah bangkit, tetapi segera dicegah oleh istrinya. “Istirahatlah, abang perlu istirahat. Nanti kalau sudah kuat, baru deh abang boleh duduk.” Kepala Nanang dielus dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang tangan kiri nanang yang terbujur lemas di ranjang rumah sakit. “Maafkan abang karena tidak bisa memberikan hadiah terbaik untuk ulang tahun pernikahan kita.” Nanang berkata lirih. “Abang sehat dan selalu tersenyum setiap saat sudah cukup menjadi kado pernikahan kita. Jadi, abang cepat sembuh ya.” ****

Jumat, 11 Februari 2011

Durian Jatuh Bukan Karena Angin

“Lariiiiiiiiiiiiiiiiiii!”
Beberapa anak berlari dari kebun durian. Laki-laki separuh baya berteriak sambil mengacungkan parangnya ke arah gerombolan anak tadi. Ekspresi kelelahan tampak di wajahnya. Emosinya mengalir dari darah-darahnya menuju ke kepalanya. Wajahnya memerah. Keringatnya membasahi wajahnya yang mulai berkerut.
“Dasar pencuri nakal kalian, kalau dapat rasakan nanti,” gerutu Pak Jamil.
Ia pun melanjutkan pekerjaannya menunggu durian yang jatuh. Namun, tak jauh dari tempat itu. anak-anak itu masih bersembunyi di balik semak-semak. Berhati-hati mengintip, kalau-kalau mereka masih dikejar. Nafas mereka masih turun naik tak beraturan. Setelah memastikan sudah tidak ada yang mengejar, anak-anak itu pun berbaring di atas tanah dengan formasi yang semerawut. Bajunya basah oleh keringat. Sesekali helaan nafas lega dengan tarikan nafas yang dalam terdengar.
“Hampir saja ketahuan,” kata Andra
“Kalau tertangkap bisa gawat urusannya,” jawab Andri menimpali perkataan saudara tuanya.
“Untung saja kita tadi cepat berlari. Parang Pak Jamil yang putih mengkilat itu menyeramkan banget,” Andru pun tak mau kalah berkomentar.
“Iya. Padahal kita sudah mengumpulkan durian cukup banyak. Eh, sekarang kita harus merelakannya dibawa pulang Pak Jamil,” Andre menggerutu.
“Durian itu memang milik Pak Jamil. Kita yang salah Kak,” ujar Androida.
“Hussss! Kamu diam saja,” Jawab mereka berempat serempak.
Anak-anak ini adalah lima bersaudara kembar. Andra kakak tertua disusul Andri, Andru, Andre, dan Androida. Dari kelima bersaudara ini, hanya Androida yang perempuan. Kemana pun mereka pergi, Androida selalu dibawa. Usia mereka 11 tahun. Mereka duduk di kelas lima sekolah dasar. Sejak jam enam pagi kelima bersaudara ini sudah berangkat ke hutan di belakang rumah. Tepatnya berangkat menuju ke kebun durian Pak Jamil. Setiap musim durian, kebun Pak Jamil memang selalu menjadi incaran anak-anak di kampung ini. Durian di kebun Pak Jamil memang terkenal enak. Daging buahnya tebal. Wangi buahnya selalu mengundang selera untuk menyantapnya. Di mata anak-anak, Pak Jamil terkenal dengan kegalakannya. Apalagi kalau ada yang berani-berani mencuri buah duriannya. Pak Jamil akan mengejar dengan parangnya yang mengkilat. Melihat kilatannya saja, sudah membuat sendi-sendi yang melihatnya gemetaran.
Biasanya lima bersaudara ini, selalu bernasib bagus. Durian-durian yang enak tersebut selalu bisa disantap. Meskipun setiap hasil yang diperoleh tak pernah dibawa pulang ke rumah. Mereka sangat takut pada ayah. Ayah terkenal galak, jika anak-anaknya melakukan kesalahan. Apalagi melakukan kesalahan yang merugikan orang lain.
Ayah ingin anak-anaknya menjadi orang-orang yang bertanggung jawab. Walaupun galak, ayah terkenal dengan orang tua yang bijak. Kami berlima tak luput dari pengawasannya. Untuk hari ini saja, kami berlima harus meminta izin berjam-jam agar diizinkan bermain minggu pagi ini. Kami tidak mungkin mengatakan kepada beliau bahwa kami akan pergi ke kebun durian Pak Jamil untuk mencuri buah duriannya. Ayah bisa marah besar, jika beliau tahu. Oleh karena itu, kami selalu menggunakan adik kami sebagai alasan untuk pergi.
Ayah sangat menyayangi Androida. Segala keinginan dari putri semata wayangnya ini, pasti dikabulkan. Androida sebenarnya tidak ingin pergi bersama kami. Dia sudah ada janji dengan Sinta. Dia mau mengerjakan PR di rumah Sinta, teman sebangkunya di sekolah. Kami memaksanya. Terutama kakak pertama kami si Andra. Kak Andra yang mengusulkan kalau kami berlima besok harus mencari durian. Kalau hanya kami berempat pasti tidak akan mudah mendapatkan izin, jadi kami mengajak Androida agar kami dapat izin.
Namun, keberuntungan belum berpihak kepada kami. Sepuluh buah durian sudah kami kumpulkan di bawah pohon. Lagi asik menunggu dari jauh Pak Jamil sudah berteriak-teriak. Kontan saja, kami langsung berlari berhamburan. Untung saja kami, tidak tertangkap. Dari cerita teman-teman yang pernah mengambil buah durian di kebun Pak Jamil. Khususnya mereka yang tertangkap, pasti diikat dibawah pondoknya. Kemudian dibiarkan sampai sore ditinggal sendirian di hutan. Hukuman ini rata-rata membuat teman-teman kami jera. Apalagi ada cerita bahwa kebun Pak Jamil terkenal Angker.
Bayu, teman sekelas kami pernah tertangkap Pak Jamil. Bayu merengek-rengek, bahkan sampai kencing di celana agar dibuka ikatannya. Dia bercerita ada penunggunya di kebun tersebut. Awalnya kami ingin mengajak Bayu, tetapi dia tidak berani. Jadi kami nekat, sampai-sampai Androida pun kami paksa ikut.
“Merayap. Tunduk semua! Pak Jamil datang tuh,” kata Andre.
Kami semua layaknya tentara yang dapat perintah dari komandan langsung cepat mengatur barisan. Berbaris dibawah lindungan semak-semak. Semuanya tertunduk cemas. Langkah kaki Pak Jamil semakin terdengar lebih kencang. Nafas kami kembali tidak teratur. Detak jantung kami berdetak lebih kencang. Setiap langkah Pak Jamil membuat detakan jantung kami semakin cepat. Pucat. Seluruh persendian lemas. Tinggal lima langkah dari tempat kami tiarap. Pak Jamil berhenti. Kami semakin was-was. Androida menangis. Cepat-cepat kami tutup mulutnya agar tidak bersuara. Pak Jamil melangkah lagi. Berhenti lagi. Entah apa yang dilakukannya.
Dari balik semak-semak, kami hanya bisa melihat kakinya yang semakin mendekat ke arah kami. Pak Jamil semakin mendekat. Wajah kami memerah. Androida sudah mengalir air matanya dengan suara tertahan di tangan kami. Kami hanya pasrah. Pak Jamil terus melangkah. Berlalu dari persembunyian kami. Setiap langkahnya membuat kami semakin lega.
“Huuuuuuuuh, hampir saja,” jawab kami serempak.
“Hiks…hiks…hiks…. Kak kita pulang yuk. Ida takut kak. Pulang yuk,” akhirnya Androida bisa melepaskan suara tangisnya.
“Jangan dulu! Kita sudah jauh-jauh ke sini. Jadi kita harus bisa mencicipi durian enak itu,” kata Kak Andra layaknya memberikan perintah.
“Kak, Ida takut kak,” rengek Androida.
“Tenang aja, ada Kakak. Sudahlah nggak usah nangis lagi! Ayo semua ikut!” Tegas Andra.
Kami pun kembali ke kebun durian Pak Jamil. Kami menemukan 3 buah durian. Tanpa berpikir panjang kami langsung membelah durian tersebut. Menyantapnya penuh semangat. Tanpa memperhatikan sekeliling kami. Kami sudah terlanjur tergiur dengan buah durian tersebut. Bahkan Kak Andra, tadi malam mengigau sedang menikmati buah durian.
“Hmmmmmmmmmmmmmm! Mau lari kemana lagi kalian,” Suara agak berat itu bergema yang tidak lain milik dari Pak Jamil.
Kami tertangkap basah. Durian yang berada di mulut kami tiba-tiba hambar. Kami menurunkan tangan kami. Barang bukti masih terlihat. Mulut berlepotan dengan daging buah durian. Tak ada celah untuk lari. Androida malah sudah menangis sejak tadi. Pucat. Gemetar. Pak Jamil menceramahi kami. Setelah puas memarahi kami, yang menyebabkan air mata kami mengalir. Pak Jamil jadi tidak tega. Beliau mengajak kami masuk ke dalam pondoknya. Kami tak berani membantah. Di dalam pondoknya, Beliau membelah dua buah durian yang paling besar. Mempersilakan kami makan. “Anak-anak, perbuatan mencuri itu tidak baik. Alam akan memberikan sesuatu yang baik, jika kita mencari dengan cara yang baik. Jika kalian datang dengan baik-baik, Bapak pasti akan memberikannya untuk kalian. Nah, sekarang jangan malu-malu. Makanlah sepuasnya,” kata Pak Jamil.

Rabu, 19 Januari 2011

Kyoshi

Aku terdiam sejenak di dalam ruangan yang telah lama ku tinggalkan. Ruangan yang pengap oleh debu. Tirai-tirai biru itu tak mampu membuatku merasa betah untuk berlama-lama diam di ruangan ini. Di pojok ruangan, di dekat pintu, tersusun empat buah sapu dan sebuah tempat sampah yang masih di posisinya, sama persis sebelum ku tinggalkan. Ku letakkan tas ransel kesayanganku. Tas ransel berwarna hitam, yang ku beli dua tahun lalu. Walaupun sebagian jahitannya mulai lepas, aku tetap memakainya.
Ku tinggalkan tas kesayanganku. Aku melangkah menuju tumpukan sapu, ku ambil satu sapu yang menurutku paling baik. Perlahan-lahan ku ayunkan sapu itu ke lantai ambal berwarna abu-abu. Debu-debu, serpihan-sepihan kertas, dan serpihan cat yang terkelupas dari dinding beterbangan. Semakin lama ku ayun sapu itu, semakin banyak debu-debu yang ku kumpulkan. Ku pacu semangat yang semakin meningkat memenuhi aliran darahku.
Peluh-peluh mulai menetes dari pori-pori kulit di wajahku, semakin bersemangat semakin deras pula peluh itu mengalir. Setelah lima belas menit, ku hentikan aktivitas menyapuku. Ku pandangi lantai ambal yang telah ku sapu itu. Aku meletakkan sapu itu di tempatnya semula. Ku buka jendela agar udara pengap di dalam ruangan itu bisa berganti dengan udara segar di luar.
Ku buka tirai-tirai biru itu. Perlahan-lahan ku buka jendela kaca berteralis di ruangan itu. Udara dari luar ruangan itu, berkejar-kejaran menerpa wajahku, ketika jendela itu mulai terbuka. Aku menghirup dalam-dalam udara segar, melepas kepenatanku dan menyegarkan rongga hidungku karena udara yang pengap tadi.
Hari ini adalah hari pertamaku, kembali ke sekolah setelah kurang lebih sebulan libur. Ku sandarkan tubuhku di kursi plastik berwarna putih. Ku atur nafasku kembali. Mataku tertuju pada jam tangan yang ada di tangan kiriku. ”Jam 7.15.” Mataku langsung menuju jadwal mengajar yang ada di bawah kaca, di atas meja kerjaku. Telunjukku berjalan mencari kode mengajarku. Telunjukku berhenti di nomor 32. ”Sebentar lagi, aku harus mengajar,” kataku lirih. Tanganku mulai mengumpulkan buku-buku dan alat mengajar yang sudah lama tidak bersentuhan dengan jemariku. Kemeja ku rapikan, ku ambil sisir, lalu ku sisir rambutku perlahan tapi pasti. Setiap tarikan sisir ini memberikan semangat yang begitu kuat. ”Hari ini, aku akan mengajar, ini yang ku tunggu-tunggu sampai-sampai membuatku tak bisa tidur. Aku harus siap, aku pasti bisa menjadi guru yang baik,” gumamku sambil berharap hal ini akan terjadi.
Setelah siap, langkah kakiku berderap bagai derap langkah kuda. Tangki semangat dalam tubuhku sudah ku isi penuh. Setiap langkah, menambah kepercayaan diriku. Siswaku pasti akan merasa bahagia, aku bahagia. Ketika berada di depan kelas, hatiku berdegup lebih kencang. Ku kumpulkan lagi keberanianku, ku kumpulkan lagi semangatku, ku kumpulkan lagi kekuatan alam untuk menyatu dalam tubuhku, berharap semua itu akan membantuku untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi siswa-siswa yang aku pun belum mengenalnya.
Semua mata menatapku serius, hening tak bersuara. Langkah kakiku seolah tertahan, tapi ku paksakan untuk terus melangkah menuju kursi yang ada di depan kelas itu. Ku letakkan buku di atas meja dengan taplak bercorak bunga-bunga. Ku sandarkan tubuhku, lalu ku hirup udara dalam-dalam. Anganku berkelana sejenak membawaku ke tempat yang begitu indah. Perjalananku terhenti seiring hembusan nafasku. Empat puluh pasang mata menatapku tanpa berkedip. Mungkin mereka sungkan atau ragu menegurku. Aku berdiri, mata-mata itu lebih lekat menatapku, semakin lama tatapan itu semakin tajam, menembus relung hatiku. ”Inilah harapan bangsaku, apapun akan aku lakukan untuk mereka, merekalah semangatku dalam mengarungi tugas mulia ini,” desahku yang tak mampu keluar dari bibirku.
Sejenak ku pandangi mereka satu persatu. Entah apa yang terjadi, begitu melihat mereka semangatku tiba-tiba membesar, membesar lagi, membesar dan terus membesar menembus batas kemampuanku dan pecah berhamburan. Tak kuasa aku menahan, ku biarkan luapan itu berkejar-kejaran dalam aliran darahku. Memacu pikiranku dan akhirnya aku tak kuasa membendungnya lagi. ”Selamat pagi, Anak-anak,” lidahku mulai beraksi. Sebuah ungkapan paling hangat dan tulus dari dalam hatiku yang terbendung dari seluruh semangatku pagi ini. Sebuah ungkapan sederhana yang sarat makna. Sebuah puisi ketulusan.
”Selamat pagi juga, Pak,” kata mereka serempak. Sapaan-sapaan yang mengalir dari semangatku pagi ini begitu deras. Rasanya ingin ku alirkan sungai di mataku, tapi ku bendung sebisaku. Mereka begitu semangat, matanya berbinar, senyumnya merekah, memamerkan gigi-gigi mereka yang putih. Pikiranku pun mulai bergemuruh, materi-materi pelajaran yang ku siapkan sejak malam tadi pun tak mau kalah, memaksaku, untuk segera melesat dari mulutku menuju pikiran-pikiran jernih anak-anak itu.
Ku kenali nama mereka. Sambil berkelakar, satu persatu nama-nama mereka masuk dalam bank ingatanku, terkunci rapat. Semangat mereka yang haus, memancar menerpaku yang tak terkendali dengan aliran semangat yang begitu dahsyat, berputar-putar dalam ruangan itu. Siap melemparkan kejenuhan dan rasa bosan. Ku ajak mereka menyelami setiap kata demi kata yang ku uraikan. Setelah beberapa lama, dengan senyum di bibirnya, ku akhiri pertemuan dengan mereka. Seberkas rasa hormat yang sangat tulus menerpa dinding-dinding hatiku, keluar bersamaku, mengiringi langkahku, dan menyisakan senyum hangat di ujung bibirku.
Setiap mata memandang kepergianku. Tebersit dalam hatiku, aku hanya ingin menjadi guru terbaik, guru yang akrab dengan murid, guru yang membela hak-hak siswa untuk mendapatkan semua hal yang berguna. Guru yang menjadi teladan. Guru yang menjadi teman di kala sedih. Teman di kala berjuang untuk menggapai mimpi-mimpi liar yang terus berkelana dalam pikiran siswa-siswaku.
Namun, tatkala aku lihat sekelilingku, sebuah pertanyaan muncul dalam benakku. Mampukah? Ya. Mampukah aku mewujudkan cita-cita siswa-siwaku yang semangatnya menghujamku hingga sekarang. Terkadang aku ragu. Ragu dengan keterbatasan kemampuanku.
Keraguan itu muncul, jika ku ingat sapaan guru yang lain di waktu yang lalu. ”Berapa Bapak dibayar untuk melaksanakan belajar tambahan di sore hari?” Aku bingung, sedih. Sebenarnya ingin ku jawab, tapi aku memilih diam. Ku resapi dalam-dalam kalimat yang disampaikannya. Mungkinkah tujuan menjadi guru telah berubah? Mungkinkah guru, bukan lagi menjadi tugas mulia, seperti angan dan impianku selama ini? Apakah profesi mulia ini telah terkotori oleh debu-debu yang mengatasnamakan dirinya dengan uang? Begitu sempitkah? Begitu lunturkah? Mau jadi apa pendidikan di negeri ini, jika segala sesuatu di ukur hanya berdasarkan rupiah. Sementara, di luar sana banyak sekali orang yang berharap agar pendidikan di negeri ini dapat menunjukkan cakar keagungannya.
Ku buka pintu, berwarna abu-abu. Di atasnya tertulis ”Laboratorium Bahasa”. Ku langkahkan kakiku, lalu keletakkan buku-buku yang ku pegang di atas meja. Aku menyandarkan punggungku di sebuah kursi plastik berwarna putih. Ku coba membuang kepenatan yang mulai mengganggu dan menggerogoti semangatku. Anganku terus membawaku berkelana, mencari jawab. Kegelisahan ini semakin lama, semakin membuatku merasa takut. Takut yang tak pernah ku tunjukkan di depan kelas, takut yang ku bungkus dengan semangat. Membakar. Membangkitkan adrenalin siswa-siswa yang mendengar suaraku. Tak pernah sedetik pun, aku menunjukkan kegelisahanku ini.
Tetapi, pikiran-pikiran ini terus memaksaku. Ia berusaha unjuk kebolehan di depan siswaku, namun selalu ku hadang dengan segenap kemampuanku. Tak akan ku biarkan siswaku mengetahui kegelisahanku selama ini. Pikiran-pikiran ini hampir saja terlepas dari bendungan yang ku bangun dengan susah payah. Tetapi untung saja, hal itu tak terjadi.
Ku buang lamunanku jauh-jauh. Aku berdiri. Dari kejauhan salah seorang guru datang menuju ke arahku. Namanya Pak Irfan. Pak Irfan mengajar mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah tempatku mengajar. ”Pak Zul, tidak mengajar?” tanyanya. Aku hanya menggeleng, lalu ku persilakan ia masuk. Kami pun duduk di lantai yang beralaskan ambal. ”Pak Irfan juga tidak ada jam mengajar?” tanyaku. Ia pun hanya menggeleng.
Ku lihat ia bersandar di dinding. Ku perhatikan raut wajahnya, sepertinya ia punya masalah yang cukup berat. Setelah beberapa kali menarik nafas. Ia pun mulai mengeluarkan kata-kata. ”Nasib-nasib, jadi guru itu ternyata tidak enak. Gajinya kecil. Sementara itu, kita dituntut untuk maksimal dalam bekerja. Membimbing anak orang lain. Ya. Kadang-kadang kita malah lupa membimbing anak sendiri.” Aku tak berani menyela ucapannya, ku biarkan ia bercerita panjang lebar.
”Mereka yang berada di luar sana saja, bisa punya penghasilan besar. Padahal, pekerjaan mereka tidak seberat pekerjaan kita. Guru itu kan tidak hanya sekedar mengajar, tapi juga mendidik. Jika kita ketemu dengan anak-anak yang penurut, ya tidak jadi masalah, tapi kalau kita ketemu dengan anak yang bandel, susah diatur. Ini malah jadi beban pikiran kita. Kita mau keras, nanti kita kena pasal pelanggaran HAM. Kalau lemah, anak-anak ini malah akan semakin liar, tak terkendali. Lantas kita harus berbuat apa? Belum lagi, masalah-masalah di rumah. Biaya makan hari-hari, biaya anak sekolah, uang jajannya. Kalau kita sehat terus sih, tidak apa-apa. Kita masih bisa mencari tambahan penghasilan di luar. Tapi kalau kita sakit, kita dapat dari mana untuk memenuhi tuntutan keluarga kita.”
Ku pandangi lekat-lekat Pak Irfan. Ingin rasanya, aku membantu menghilangkan beban pikiran yang mengganggunya saat ini. Namun, aku pun tak tahu harus berbuat apa. Ku dengarkan setiap kata-katanya. Kegelisahanku yang tadi ku tinggalkan datang menyerangku kembali. Apalagi setelah Pak Irfan meninggalkanku seorang diri di ruangan ini. Ia harus pergi, kelas X D telah menunggunya. Ia harus mengajar. Serangannya begitu kuat, hingga kepalaku terasa sakit semua.
Benarkah guru sudah tidak lagi menjadi pribadi yang agung, yang digugu dan ditiru oleh siswanya? Apakah rupiah telah mengalahkan ketulusan pengabdian seorang guru? Apakah semua ini hanya mimpi, tapi ini nyata. Bayang-bayang ini terus menghantuiku setiap hari. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap minggu, berbulan-bulan hingga hari ini, kegelisahanku tentang sosok guru saat ini telah membuat kondisiku semakin melemah. Meskipun begitu, aku tetap berusaha tidak menunjukkannya pada siapa pun. Terlebih lagi, pada anak didikku. Bagiku mereka adalah pelita kehidupan yang mengiringi perjalanan hidupku.
Perasaanku semakin tertusuk lebih dalam melihat kenyataan ini. Aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Aku hanya ingin menjadi guru yang ideal bagi anak-anak didikku. Meskipun banyak kekurangan pada diriku yang mulai sakit-sakitan ini. Aku harus semangat. Ya, aku harus tetap semangat. Semangat yang harus ku jaga sampai kapan pun.
Seiring dengan perjalanan pikiran hatiku yang terus berkelana. Aku semakin mencurahkan perhatianku pada mereka. Sebenarnya, banyak sekali guru-guru yang lain, namun mereka sedang sibuk memikirkan urusannya masing-masing. Aku tak enak, jika harus mengganggunya. Ku biarkan saja mereka sibuk dan larut dengan akivitasnya. Dalam hati kecilku, aku ingin mereka membantuku membimbing generasi bangsa ini, tetapi aku terlalu lemah untuk mencampuri urusannya dan mengajaknya untuk meluangkan waktu, membina generasi bangsa ini.
Setiap pagi aku berusaha datang lebih awal. Hari-hariku, ku hiasi dengan perhatianku pada wajah-wajah yang haus akan ilmu ini. Ku keluarkan seluruh kemampuan yang tersisa dari dalam tubuhku yang semakin rapuh. Aku memaksa tubuh rapuh ini, untuk mengeluarkan sisa-sisa kekuatannya. Semakin hari ku paksa, tubuh ini semakin lemah dan terus melemah setiap harinya.
Hari ini, aku tak sanggup pergi ke sekolah. Badanku menggigil. Wajahku pucat. Istriku menutup tubuhku dengan selimut yang tebal. ”Mas, istirahat ya!” kata istriku. Aku menatap wajahnya. Tampak kesedihan di matanya. Semakin lama ku pandang, wajah itu mengalirkan air matanya. Aku mengelap air mata itu. ”Jangan sedih, mas tidak apa-apa kok. Mas, akan sembuh. Anak-anak sudah pergi sekolah?” Wanita di depanku ini, hanya mengangguk. Ku peluk, perlahan-lahan ku sandarkan kepalanya di dadaku yang terasa semakin sesak. ”Mas, saya hamil.” Aku tersentak, ku tatap wajahnya, lalu ku peluk lagi dengan erat, ku belai rambutnya. Tubuhku yang tadi menggigil, kini tak terasa lagi meski sekujur tubuhku seperti kaku. Aku gembira menerima kabar ini. Rasanya, ingin ku kabarkan pada dunia, biar mereka bisa merasakan kegembiraanku ini.
Tak terasa, perut istriku semakin membesar, saat ini usia kandungannya sudah delapan bulan dua puluh tujuh hari. Perkiraan dokter, anakku akan lahir tiga belas hari lagi. Namun, di balik kegembiraanku yang semakin memuncak. Tubuhku pun semakin lemah. Hingga tiga hari sebelum melahirkan, secara bersama-sama, tetangga membawa kami berdua ke rumah sakit. Setelah diperiksa di Instalasi Gawat Darurat, istriku masuk di ruang persalinan, sedangkan aku masih di ruang gawat darurat.
Tubuhku semakin gemetar. Rasa sakit ini belum pernah aku rasakan. Tak lama kemudian, aku dipindahkan ke ruang perawatan. Jarum infus sudah melekat di tangan kananku. Esoknya, tubuhku semakin lemah. Ruang ini membuat nafasku semakin sesak, padahal ruang ini memiliki jendela yang cukup lebar. Jika aku sehat, ruangan ini pasti terasa begitu nyaman.
Tepat jam 12 malam, perasaanku semakin tidak karuan. Aku memanggil perawat di ruangan itu. “Mba, Saya minta tolong, ambilkan kertas dan pulpen,” kataku lirih sambil menahan rasa sakit yang bertambah. Perawat itu hanya mengangguk dan berlalu tanpa bertanya. Kemudian ia muncul lagi dan membawa buku tulis dan pulpen pesananku. Ku gerakkan pulpen itu di atas kertas. Setelah selesai ku pisahkan kertas yang ku tulis dari buku itu, lalu ku lipat dan ku serahkan kepada perawat itu. “Mba, berikan ini pada istriku yang ada di ruang persalinan,” pesanku kepada perawat itu.
Setelah perawat itu pergi, aku pun mencoba duduk, tapi tak bisa. Ku tepukkan tanganku di dinding dekat tempat tidurku, lalu ku usapkan ke wajahku. Ku tepukkan lagi tanganku ke dinding, kemudian ku sapu kedua tanganku. Ku pasrahkan hidupku, kepada pemiliknya. “Allahu Akbar” tanganku kemudian ku letakkan di atas dadaku. Perasaanku tidak karuan. Rasa sakitku semakin bertambah. Pandanganku terasa gelap, tapi rasa sakit itu hanya sebentar saja. Setelah kejadian itu, diriku merasa lebih tenang, sakit di tubuhku sudah tidak ada lagi. Apakah aku sembuh, tetapi lihatku diriku terbujur kaku, mata tertutup.
Perawat dan dokter bergerombol di sekitarku, sepertinya mereka melakukan sesuatu pada tubuhku yang kaku itu. Para dokter itu menggeleng, dan satu persatu meninggalkan tubuhku. Perawat yang menemaniku dua hari ini menutup tubuhku hingga kepala, lalu pergi meninggalkan diriku.air matanya menetes. lirih “Selamat jalan Bapak, semoga bapak bahagia di sana,” katanya lirih.
Aku teringat istriku, lalu ku coba untuk melangkah. Langkah ini terasa ringan. Sangat ringan. Semua rasa sakit yang kemarin sudah tidak ada lagi. Ku datangi ruang perawatannya, ternyata dia tidak ada. Aku melangkah ke ruang persalinan. Di ruangan ini istriku telah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Dalam dekapannya seorang anak yang masih merah. Senyum bahagia terpancar di wajahnya. Perlahan ku dekati anak itu. Ya..anakku sudah lahir. Lalu ku kumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomat di telinga kirinya. Bayi itu tertawa. Lucu sekali. Ingin ku dekap, tapi aku tak mampu melakukannya. Ku cium dahi istriku dan anakku secara bergantian. ”Semoga kalian tetap berbahagia dan selalu bahagia.”
Pintu terbuka, perawat yang menjaga ruanganku masuk. Ia membawa secarik kertas yang ku tulis beberapa jam yang lalu. Matanya masih nampak bersedih. Tanpa berkata, ia memeluk istriku. Sungai di matanya pun meluap lagi. ”Bapak sudah tidak ada lagi, Bu,” kata perawat itu kepada istriku. Rona di wajah istriku berubah, air matanya merembes di ujung matanya dan mengalir deras, tanpa bersuara. Sepertinya, ia menahan rasa kehilangan yang sangat dalam. Kebahagiannya sirna berganti kesedihan.
Perawat itu menyerahkan kertas yang ada di tangannya kepada istriku. ”Ini apa,” tanya istriku. ”Ini tulisan bapak sebelum ia meninggal dan saya diminta untuk memberikannya kepada ibu,” jelasnya. Perawat itu meninggalkan istriku.
Perlahan. Lipatan kertas itu pun mulai terbuka. Ia melihatnya. Membacanya. ku lihat ia begitu serius menelusuri kata-kata yang ku tulis.

Istriku sayang,
Ada sebuah cerita, cerita seorang laki-laki yang mulai beranjak dewasa. Laki-laki ini adalah laki-laki yang berusaha menjadi seseorang yang amanah dan berpegang teguh pada kebenaran. Ia menyatakan cintanya pada seorang gadis yang dicintai dan dipujanya kurang lebih satu setengah tahun. Awalnya, ada keraguan di dalam hatinya, apakah wanita pujaannya ini akan menerimanya dengan sepenuh hati.
Berbulan-bulan, ia berusaha mengumpulkan keberanian pada dirinya. Keberanian untuk mengatakan perasaannya. Perasaannya yang selalu menghantui pikirannya. Akhirnya, setelah perenungan yang cukup menyita perasaan di hatinya. ia beranikan dirinya untuk mengatakan isi hatinya.
Malam itu, di depan rumah wanita itu. Ia utarakan semua keinginannya. Semua ketakutannya lenyap seketika. berpacu bersama angin. Tanpa dugaan, wanita itu pun menyambut cinta laki-laki tersebut. Malam itu, laki-laki itu berjanji dia akan menjaga wanita yang telah membesarkan hatinya dengan segenap jiwa raganya. Wanita itu adalah dirimu. Ya... wanita itu adalah istriku tercinta yang menjadi penenang dalam kehidupanku. Mas, Ridho atas segala pengorbananmu.
Mas, mohon kerelaanmu karena mas belum bisa membahagiakanmu. Sebentar lagi, anak kita lahir. Aku merasa bahwa aku tak akan sempat untuk menggendongnya. Mas, hanya berpesan padamu. Jika anak kita lahir, jagalah ia. aku tak sempat menyiapkan nama untuknya. tapi aku teringat pada sebuah kata dari bahasa Jepang ”Kyoshi” yang artinya guru. Berikan nama anak kita dengan kata itu, agar kelak dia menjadi panutan bagi semua orang. Menjadi teladan, menjadi pengemban amanah. Bimbing dia untuk menjadi penerus bangsa ini karena sudah tidak banyak yang peduli.
Mas, tidak meninggalkan warisan yang banyak. Hanya sebidang tanah dengan bangunan sederhana di atasnya dan sedikit tabungan untuk anak kita. Rawatlah anak kita! Jika kau ingin menikah lagi, menikahlah! Hidupmu masih panjang, istriku sayang! Mimpi-mimpi kita harus tetap terwujud, meski hambatan merintangi. Berjuanglah! Mas akan menantikanmu!


Seseorang yang merindukanmu,


Ahmad Zulfikar

Aliran air mata itu makin lama makin deras. ku lihat ia mengelus kepala mungil anakku. tak ada sanak saudara. hanya berdua. Ia dan anakku yang baru lahir bertepatan dengan kepergianku. Aku tak bisa lama-lama berada di sini. Ku dekati istriku, ku cium keningnya. Ku cium anakku. Mas, pergi sayang. Bapak, pergi anakku sayang.
silahkan tempatkan kode iklan, banner atau teks disini